Konflik Syiah Sampang: Kegagalan Aparat, Masyarakat dan Ulama

05/01/2012 | By: mukhlisin

Konflik Syiah Sampang: Kegagalan Aparat, Masyarakat dan Ulama
Pembakaran Pesantren Syiah Sampang Madura. Sumber: wartanews.com

Penangan konflik masyarakat Syiah di Sampang Madura masih lambat. Sekitar 300 orang warga Syiah masih mengungsi di beberapa lokasi di kota Sampang, seperti di sekitar gedung olahraga, polres, serta lapangan terbuka. Mereka mengungsi setelah pesantren mereka di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dibakar oleh massa, Kamis (29/12) lalu.

Mereka mengungsi karena tidak mendapat jaminan keamanan dari aparat kepolisian jika mereka kembali kerumah. Padahal mereka berkeinginan untuk segera pulang kembali kerumahnya setelah mendengar berita bahwa harta bendan dan ternaknya dijarah orang-orang tak dikenal. “Itu yang menghantui perasaan mereka,” kata juru bicara tim Advokasi Kasus Sampang, Hertasning Ichlas, seperti dikutip situs berita BBC Selasa (3/01).

Menurut salah-seorang Ketua PB Nahdlatul Ulama (NU) Masdar Mas’udi mengatakan, terkait kasus pembakaran pesantren Syiah di Madura, perbedaan mazhab Sunni-Syiah tidak perlu membuat kelompok penganutnya saling bermusuhan. “Makanya, kita harus menggalakkan pemahaman keagamaan yang lebih bersifat menghargai perbedaan. Perbedaan ini tidak mungkin dilawan. Caranya, ya, menghormati perbedaan, dan itu kodrati,” kata Masdar seperti dikutip BBC. Lebih lanjut Masdar mengungkapkan bahwa situasi ini semakin memanas akibat ada fatwa sebagian ulama yang menghukum kelompok Syiah sebagai “ajaran sesat”.

Sementara itu Musdah Mulia, Ketua Umum ICRP, kasus Syiah di Sampang secara jelas menunjukkan 3 fenomena. Pertama, kegagalan dan ketidakmampuan aparat dalam menjaga dan melindungi hak keselamatan warga seperti yang telah diamanahkan oleh konstitusi. Kedua, kegagalan dan ketidakmampuan masyarakat untuk hidup harmoni dengan kelompok lain yang berbeda. Ketiga, kegagalan para pemuka agama menanamkan ajaran agama yang apresiatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan, gagal membina masyarakat agama yang santun dan mengedepankan esensi agama, yaitu cinta dan kasih pada sesama.[Chris Poerba/Mukhlisin]


Beranda  |  Kategori: Harian | Trackback URI


Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: