Imbauan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia (SSYI)

08/01/2012 | By: chrispoerba

JAKARTA – Dikalangan gereja-gereja sendiri ada anggapan bahwa ada kelompok tertentu di negeri ini, walaupun mengaku sebagai bagian dari umat Kristen, patut dilarang kehadirannya, sebab beberapa dari kelompok tersebut memiliki pengajaran yang tidak sesuai dengan Kekristenan. Salah satu kelompok tersebut yang kini menjadi perhatian adalah Saksi-Saksi Yehova (SSY).

Menanggapi hal itu, pada Kamis (05/01/2011) di Ruang Sidang Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Salemba 10, Jakarta 10, diadakan Diskusi Awal Tahun 2012.

Seperti dirilis pada situs resmi PGI, Acara Diskusi Awal Tahun 2012 ini dihadiri oleh kalangan Akademik dan teolog, ANBTI dan Sinode GKI, ini membahas perkembangan situasi bangsa Indonesia yang menyangkut kebebasan beribadah, kasus kekerasan yang semakin marak dan mengenai Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) yang bernama resmi Saksi-saksi Yehuwa di Indonesia (SSYI).

Pdt. Prof. Dr. Jan S. Aritonang melalui makalahnya yang berjudul ‘Gereja dan Kebebasan Beragama di Indonesia’ menuangkan beberapa poin penting terkait SSY yang disampaikannya kepada forum.

Dikatakan walau konstitusi negara menjamin hak dan kebebasan setiap orang atau tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya serta dalam menjalankan hak dan kebebasannya, warga negara tersebut wajib tunduk pada pembatasan-pembatasan yang telah ditetapkan undang-undang termasuk juga SSY. .

“Berdasarkan UUD itu kita bisa menyoroti realitas beragama di negara kita ini, apakah hak dan kebebasan itu sudah ditegakkan, atau yang lebih ditekankan justru adalah pembatasannya” tulisnya.

Sikap Gereja kepada Saksi Yehuwa
Walau tidak dihadiri perwakilan SSY yang telah diundang sejak 21 Desember 2011 lalu. Diskusi tersebut mendapat enam hal penting yang dirangkum sebagai catatan kepada gereja-gereja dan PGI dalam menyikapi SSY; diantaranya.

Pertama, gereja-gereja maupun PGI tidak berhak membubarkan SSYI, seandainya pun sebagian besar ajarannya sangat berbeda dari ajaran gereja-gereja yang sudah lebih dulu ada. Sehingga gereja-gereja maupun PGI juga tidak pada tempatnya meminta pemerintah untuk membubarkan SSYI, kecuali kalau SSYI nyata-nyata melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku di negeri ini.

Sedang terkait kunjungan mereka ke rumah-rumah, bila itu dilakukan dengan sopan dan tidak memaksa, dan selama penghuni rumah tidak menyatakan diri terganggu lalu mengadukan mereka ke polisi, maka tindakan mereka itu tidak dapat dikategorikan sebagai penyebab keresahan.

Kedua, walaupun gereja-gereja menilai bahwa sebagian besar ajaran SSYI berbeda atau bertentangan dengan ajaran dan keyakinan gereja-gereja di Indonesia, mereka itu tidak bisa begitu saja dicap sebagai bidat atau pengajar sesat, sebab bisa saja tuduhan yang sama dialamatkan penganut agama lain kepada gereja-gereja.

Dan perbedaan ajaran itu juga tidak boleh menjadi alasan atau dasar pertimbangan bagi pemerintah untuk melarang SSYI ataupun komunitas religius lainnya. Sebagai gereja kita tidak setuju atas tindakan pemerintah sekarang ini terhadap Jemaah Ahmadiyah; karena itu sikap yang sama juga perlu kita perlihatkan sehubungan dengan keberadaan SSYI.

Ketiga, bila gereja-gereja menilai bahwa ajaran SSY bertentangan dengan ajarannya dan berbahaya bagi iman warganya, yang harus dilakukan oleh gereja-gereja adalah men-didik, membina sekaligus membentengi iman warganya dengan memberikan pembekalan yang intensif, tak kalah intensifnya dari SSY, agar warga gereja tidak terpengaruh oleh beranekaragam ajaran yang berbeda dari ajaran resmi gereja.

SSY hanyalah satu di antara sekian banyak aliran atau ajaran yang berbeda dari ajaran gereja; tidak mungkin gereja melarang semua itu, atau meminta pemerintah melarangnya. Tidak baik bila gereja meminjam tangan atau kuasa pemerintah untuk membasmi ajaran tertentu. Sebab bisa saja pihak lain meminjam tangan pemerintah untuk melarang gereja, seperti yang terlihat dalam kasus GKI Taman Yasmin, hal yang pasti tidak disetujui gereja-gereja.

Keempat, sebelum kita menyatakan SSY ataupun ajaran lain menyimpang atau sesat, sebaiknya kita mendalami ajaran mereka dari sumber primer, yaitu tulisan-tulisan yang mereka hasilkan sendiri.

Kiranya kita tidak menilai SSY atau siapa pun berdasarkan sumber-sumber sekunder, tertier, dst. Banyak literatur yang berisi kecaman dan tuduhan kepada SSY, termasuk dalam bahasa Indonesia, yang tidak didasar-kan pada sumber resmi, sehingga pihak SSY dengan mudah akan menyanggahnya.

Kelima, kita mengundang dan terus melakukan pendekatan dan menyampaikan ajakan kepada SSYI agar ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan antar organisasi keagamaan, sehingga mereka tidak memencilkan diri atau merasa dipencilkan dari pergaulan antar sesama umat beragama.

Harus diakui, selama ini tidak mudah mengajak dan menghadirkan mereka dalam pertemuan seperti itu; mereka mengemukakan macam-macam alasan untuk menolak. Kita ingatkan mereka bahwa kehadiran mereka justru untuk kebaikan mereka, untuk menepis atau mengurangi prasangka dan penilaian negatif atas mereka.

Keenam, kita mengingatkan mereka agar tidak melakukan kegiatan yang bisa mengundang reaksi atau tuduhan bahwa mereka menimbulkan gangguan atau keresahan. Kalau mereka berkunjung ke rumah kita atau warga gereja kita, kita ingatkan agar mereka tidak memberkesan membujuk ataupun memaksa, karena datang berkali-kali. Kita ingatkan juga agar mereka tidak menyampaikan ajaran SSY sambil menyalahkan ajaran gereja atau agama lain.

Mengenai Trinitas, misalnya; SSY boleh saja menyatakan bahwa mereka tidak menganut ajaran itu, tetapi kita ingatkan mereka agar tidak menyatakan ajaran gereja lain adalah keliru, sebab setiap ajaran memiliki landasan teologis masing-masing. Kalau setelah kita ingatkan, mereka masih terus melakukan hal itu, maka kita boleh mengadukan mereka kepada yang berwajib, dengan menyampaikan bukti-bukti konkret dari tindakan mereka.

SSY ke Indonesia
Sejak awal, berbagai ajaran dan praktik dari Saksi-Saksi Yehova (SSY) yang juga menggunakan nama lain, yaitu Persekutuan Menara Pengawal (PMP) dan Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab (PSSA) – sudah mengundang kontroversi dari gereja-gereja arus utama (Lutheran, Calvinis, Anglican, Methodist, Baptis), bahkan dari aliran awal SSY sendiri, yakni Gereja Adventis.

Menurut sumber yang diterbitkan SSY sendiri, misionaris pertama SSY ke Indonesia, yaitu Frank Rice dari Australia, telah tiba di Batavia Juni 1931. Orang Indonesia pertama yang menjadi warga sekaligus aktivisnya adalah Theodorus Ratu, yang bekerja di Jawa, Sumatera dan Sulawesi Utara sejak 1933 (kendati baru dibaptis di Singapore tahun 1936). Pada tahun 1964 anggotanya sudah 4000-an dan tahun 1975 menjadi 11.000-an.

Karena mendapat pengaduan dari masyarakat, baik yang beragama Kristen maupun yang beragama lain, dan juga penilaian negatif dari beberapa instansi pemerintah (a.l. SSY menimbulkan keresahan dan gangguan, karena SSY rajin berkunjung ke rumah-rumah), Jaksa Agung melalui SK tertanggal 7 Desember 1976 secara resmi melarang aliran ini berkiprah di negeri ini. Tetapi mereka tidak menghentikan kegiatan, melainkan melan-jutkannya, dengan memakai nama lain yang sudah disebut di atas (PMP dasn PSSA).

Pada masa kepresidenan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), atas nama demokrasi, HAM, dan kebebasan beragama/berkeyakinan, melalui SK Jaksa Agung tertanggal 1 Juni 2001 SSY diizinkan kembali untuk berkiprah secara resmi. Di dalam SK itu a.l. dinyatakan: “Kepada Ajaran/Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab/Saksi Yehova diperbolehkan hidup beraktivitas berdampingan bersama ajaran/aliran keagamaan lainnya yang ada di Indonesia; kecuali apabila di kemudian hari terdapat pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali.”

SK ini menimpulkan kehebohan dan pro-kontra, terutama di kalangan gereja-gereja di Indonesia. Sebagian besar gereja-gereja itu selama ini mencap SSY sebagai aliran/ajaran sesat, sehingga mereka meminta agar pemerintah meninjau kembali (alias mencabut) SK tersebut. PGI juga diminta untuk ikut memperjuangkan pelarangan SSY.

Dalam kenyataan-nya Saksi-saksi Yehuwa di Indonesia (SSYI) tetap eksis, bahkan semakin berkembang. Balai Kerajaannya (demikian nama tempat ibadah dan kegiatannya) didirikan di mana-mana (di Jakarta saja sekitar 10 buah, a.l. di Gunung Sahari IV/2, dekat GKI Gunsa) dan Kantor Pusatnya beralamat Jalan Kelinci Raya no. 36 Jakarta Pusat 10710, telp. 3811918. (PGI/TimPPGI)

Sumber:

http://networkedblogs.com/srqGy?mid=5723808

 


Beranda  |  Kategori: Mingguan | Trackback URI


13 Komentar untuk “Imbauan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia (SSYI)”

  1. Sammy Lee says:

    Gereja manapun juga kalau tidak menerima Yesus sebagai Allah yang datang kedalam dunia adalah sesat menurut definis Alkitab. Kedua Saksi-saksi Yehuwa, sebaliknya daripada menyaksikan kasih Allah, malah menunjukkan kebencian terhadap gereja lain dengan mengajarkan doktrin bahwa hanya mereka saja yang akan berada didunia ini dan semua pengikut gereja lain akan dibinasakan. Padahal Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa ada lagi domba-dombaNya dikandang-kandang lain yang akan dipersatukanNya kelak. 2 Yoh 1:7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.
    Ini tidak mungkin diartikan Yesus Kristus manusia yang datang sebagai manusia. Yesus sendiri katakan tidak ada manusia yang sudah naik kesorga dan turun kedunia kembali sebagai manusia. Hanya Dia satu-satunya yang telah datang kedunia ini sebagai manusia, tapi bukan asalnya manusia, melainkan Allah yang menjelma menjadi manusia! Gereja atau bidat SY ini selalu memberikan brainwashing kepada anggota mereka bahwa semua manusia kecuali masuk menjadi anggota mereka akan dibinasakan waktu kedatangan Yesus yang kedua. Ini adalah sifat dari Iblis bukan sifat Yehuwa yang mau supaya semua orang selamat kalau mungkin. Tapi karena tentu saja kalau semua dibiarkan masuk ke sorga yang masih mempunyai dosa akan mengubah sorga menjadi neraka lagi nantinya. SEbab itu syarat untuk masuk kesorga yang ditawarkan kepada semua manusia tidak peduli aliran apa pun adalah pertobatan yang sesungguhnya dan sepenuhnya! Suatu kelahiran baru yang hanya bisa dilakukan oleh Roh Kudus. Tetapi sikap merasa hanya golongan tertentu sendiri yang satu-satunya akan selamat dan yang lainnya patut ditumpas adalah sifat bigot, yang bukan datangNya dari Tuhan tapi dari seteru kebenaran. Bukan dari Allah yang kasih adanya tapi dari Ular Tua yang ganas Bapak Pembohong dan Pembunuh dari awalnya! Yesus sendiri mengatakan barang siapa yang tidak melawan Aku adalah di pihakKu!

  2. Appresiasi yang sangat besar kepada PGI atas usaha menjaga perdamaian dan keutuhciptaan manusia. Sebagai orang Kristen memang kita tidak boleh menilai orang lain atau kelompok yang berbeda dengan kita. Biarlah Tuhan yang menjadi otoritas tunggal sebagai hakim agung dalam kerajaan Nya di dunia dan di Sorga. Sama seperti Tuhan Yesus juga meminta orang Farisi untuk terlebih dahulu melempar batu kepada seorang perempuan yang dianggap melakukan perzinahan. Good job and God bless

    Fernando Sihotang

  3. robin says:

    Kenapa kita sibuk mempertanyakan kebenaran aliran tertentu, mari kita koreksi diri kita masing-masing apakah aliran atau ajaran yg kita ikuti benar-benar telah kita jalankan dengan baik dan radikal, yg menentukan apakah kita benar atau tidak bukan kelompok, organisasi namun Tuhan sendiri, mari berjuang mengamalkan ajaran Yesus dan Alkitab, bukan organisasi atau kelompok. Tuhan memberkati….

  4. david-borneo says:

    Sejak awal, berbagai ajaran dan praktik dari Saksi-Saksi Yehova (SSY) yang juga menggunakan nama lain, yaitu Persekutuan Menara Pengawal (PMP) dan Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab (PSSA) – sudah mengundang kontroversi dari gereja-gereja arus utama (Lutheran, Calvinis, Anglican, Methodist, Baptis), bahkan dari aliran awal SSY sendiri, yakni Gereja Adventis. >>> tulisan ini tidak memiliki dasar yang kuat dan sangat mengada-ada. tolong sebutkan referensi dan dasar anda untuk mengatakan bahwa adventist adalah aliran SSY. jika anda tidak pernah mempelajari doktrin advent dan kebenarannya, mohon agar anda tidak asal membuat pernyataan. advent percaya terhadap trinistas. saya rasa itu cukup membuktikan bahwa advent adalah kristen. saya tunggu jawaban anda….

    GBU

  5. BENNY SETIA IRAWAN says:

    Saya dari Unitarian Church di Indonesia (JAGI). Mengenai Allah, ajaran SSY lebih ‘alkitabiah’ dibandingkan dengan gereja Kristen lainnya yang mempercayai Tritunggal (yang jelas tidak ada di Alkitab). Jadi, kalo ukurannya adalah Alkitab, maka SSY berdiri lebih teguh daripada gereja kristen lain. Tetapi kalo ukurannya adalah jumlah pengikut, memang beginilah nasib minoritas. PERINGATAN : Biasanya, kemarahan karena semangat misionaris SSY, disebaban karena orang itu tidak bisa menolak ayat2 yang disajikan SSY. Kalah… tapi malu mengaku.

    • leesipjin says:

      Anda telah sangat sesat bergabung bersama JAGI. Baik ajaran JAGI (Unitarian) maupun SSY itu telah keliru dalam menenafsirkan ayat-ayat Alkitab. Anda bukan orang Kristen (pengikut Kristus) jika tidak menerima TriTunggal tetapi bidat. Bapa adalah Allah, Yesus Krisus adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Secara implisit mungkin menyulitkan Anda untuk menemukan kebenaran ini. Tetapi bagi saya orang Kristen sejati baik secara secara eksplisit maupun eksplisit itu sangatlah mudah sehingga pengakuan terhadap ketritunggalan Allah tidak dapat ditolak. Saya memberikan kesempatan untuk anda bertanya tentang apa yang anda sebut “kepercayaan yang tidak teguh menurut Alkitab”. Saya tunggu diemail saya.

    • leesipjin says:

      alamat email: leesipjin@yahoo.com

  6. anti kris says:

    dari mana bisa loe tau bahwa ajaran mengenai Allah dari saksi saksi palsu (baca : yehowa) lebih mendalam dr ajaran Kristen yg lain…sementara loe gak pernah menganutnya…dasar biadab loe…xixixi

  7. Binsar oppu says:

    Ada baiknya duduk bersama (diajak berkomunikasi)krn lebih baik tahu dari mereka sendiri tentang bagaimana/ apa doktrinnya (ajaran)- apakah layak/ tdk layak diajarkan

  8. Bona Panggabean says:

    Tuhan telah memberikan kita Firman-Nya. Firman itu adalah Yesus sendiri. Dan ajaran Yesus tertulis dalam Alkitab.
    Walaupun ada kemungkinan, aliran yang berbeda, sebaiknya melihat diri kita sendiri dulu. Karena ada dikatakan, orang buta tidak dapat menuntun orang buta.
    Kalau kita melakukan ajaran-Nya, maka kita akan menjadi terang bagi mereka yang masih terhilang. HINDARI PERDEBATAN!!!

  9. frans says:

    Gereja apapun kita tdk brhak membubarkan sebuah organisasi walaupun bertentangan dngan organisasi kita secara fisik. Tapi mari kita bubarkan dalam roh. Kita hancurkan siapa dibalik ajaran itu kalau oknumnya tdk berasal dari Allah. Dan mari kita lihat buahnya apakah baik atau tidak. Yesus adalah Tuhan. Shalom

  10. Sefnat Hontong says:

    sekalikai agama adalah sumber inspirasi untuk membangun hidup, jangan dijadikan hanya sebagai patokan legalistis belaka. trims

  11. leo says:

    ternyata di kristen juga ada yang dianggap sesat. agama ibrahim memang sumber perpecahan …..

Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: