Hentikan Watak Beragama Yang Sombong!

16/01/2012 | By: chrispoerba

 

Aksi pelanggaran terhadap kebebasan menjalankan ibadah kembali terjadi. Kali ini terjadi di Yogyakarta, ketika gabungan ormas Islam Yogyakarta menggelar aksi menuntut pembubaran Pertemuan Nasioanal Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) Jumat (13/01/2012). Aksi yang berlangsung setelah massa menunaikan shalat Jum’at ini, dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan PIRI, dimana pertemuan nasional GAI tersebut dilaksanakan. Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti bersama Kapolresta AKBP Mustaqim dan Dandim 0734 Letkol Ananta Wira berhasil menenangkan massa dan berjanji akan meminta panitia untuk membubarkan acara rutin tersebut. Seperti biasanya, atas alasan keamanan, pemerintah kota Yogyakarta beserta aparat kepolisian meminta acara ini diakhiri.

 

Hentikan Watak Beragama yang Sombong (www.republika.co.id)

Aksi pembubaran paksa ini adalah yang pertama kalinya terhitung sejak tahun 1982. Ratusan massa berkeberatan karena yang mengadakan adalah gerakan ahmadiyah, baik Ahmadiyah Qadian (JAI) maupun Ahmadiyah Lahore (GAI). Alhasil banyak warga Ahmadiyah pergi meninggalkan Yogyakarta setelah massa berdatangan. Belum lekang dari ingatan, kasus Cikeusik yang memilukan, maka kebebasan jamaah Ahmadiyah dalam menjalankan ibadahnya, masih terus dikebiri. Aksi di Yogyakarta ini tentunya membuat banyak pegiat dialog interfaith yang kecewa. Mohammad Monib, salah seorang pegiat pluralis di ICRP, mengatakan,”Saya, tiap kali membaca atau mendengar berita aksi-aksi pembubaran terhadap rapat ataupun majelis yang diadakan kaum Ahmadiyah sedih dan geram. Apalagi aksinya sampai merusak harta, membakar masjid, atau pembantaian seperti kasus Cikeusik Banten beberapa saat yang lalu. Saya melihat kelompok dan organisasi itu, sekalipun membawa nama-nama Islam, bagi saya tetap saja mereka itu bodoh,  dan justru merekalah yang menodai wajah Islam. Aksi-aksi brutal itu cermin iman yang arogan dan jiwanya dikuasai Iblis.”

Monib menambahkan bahwa setiap aksi anarkis yang dilakukan, jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Menurutnya, yang paling esensial dari Islam, adalah,”Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan prinsip-prinsip ajaran Islam seperti: Tidak ada pemaksaan dalam urusan iman, dan bagaimana kita bisa mengkonfirmasi bahwa Islam itu cinta damai dan agama damai. Sekalipun, 2 aliran Ahmadiyah itu kita nilai beda dan bertentangan dengan prinsip pandangan mayoritas, apa hak kita menganggu hak hidup mereka, merusak harta mereka, hak kewarganegaraan mereka, dan hak kebebasan agama dan kepercayaan mereka.”

 

Beliau menekankan, bahwa kebebasan memilih adalah yang paling utama. Monib kembali menerangkan,”Bagi saya jelas, jangankan masih beragama, mau kafir, mau ateis pun, al-Qur’an jelas menggaransi kebebasan pilihan itu. Apalagi dalam sejarahnya dan fakta-fakta kesehariannya, kaum Ahmadiyah itu tidak melakukan kejahatan moral publik, membuat gaduh dan tidak menjadi benalu bagi  umat Islam. Apa susahnya bagi umat dan mayoritas ini menebar sifat rahman dan rahim Islam? Apa beratnya bagi umat melihat dan menilai kelompok-kelompok lain itu dari maslahat dan akhlak luhurnya?Apa susahnya bagi kita memperlakukan sesama kita dengan hormat, membahagiakan sesama kita dan menjaga hak-hak dasar yang lain? Saya cenderung melihat kelompok dan organisasi dengan klaim keagamaan di Indonesia itu kasar hati, sok suci dan merasa mendapat mandat dari Tuhan. Sungguh, cara dan watak beragama yang sombong. Sama sekali tidak akan menambah apa-apa bagi Islam kecuali noda dan buruk muka.” (Chris Poerba)


Beranda  |  Kategori: Harian | Trackback URI


Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: