Konser #BedaIsMe Serukan Keberagaman

14/06/2012 | By: mukhlisin

Konser #BedaIsMe Serukan Keberagaman

Perbedaan yang ada diantara sesama anak bangsa ternyata masih menjadi persoalan. Bahkan terkadang perbedaan-perbedaan disengaja untuk dijadikan pemicu tindakan-tindakan represif dan kekerasan. Pemaksaan paham dan keyakinan oleh mereka kepada pihak-pihak yang berbeda bahkan tidak cukup dengan merusak tempat tinggal, rumah ibadah, sekolah, dan sebagainya, bahkan mencelakai sesama anak bangsa. Contohnya, penyerangan massa terhadap jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, pada 6 Februari 2011 merenggut 3 nyawa.

Atas keresahan tersebut, beberapa pemuda yang tergabung dalam gerakan #BedaIsMe mengadakan pekan keberagaman. Dimulai dengan pemeran foto korban-korban kekerasan atas nama agama dari berbagai kelompok dan daerah, seperti Ahmadiyah, GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, dan Syiah Sampang Madura. Pameran foto dilaksanakan di Café Cikini 17 tanggal 1-10 Juni kemarin.

“Harapannya masyarakat sadar bahwa keberagaman yang kita punya harus dijaga. Kita tidak bisa mengandalkan hidup damai yang selama ini kita nikmati terus tanpa usaha,” kata koordinator acara Pekan #BedaIsMe, Firdaus  di Jakarta Jumat Seperti dikutip antaranews.com.

Dia menjelaskan, Gerakan #BedaIsMe lahir pada ulang tahun Pancasila 1 Juni “sebagai gerakan untuk mengikat solidaritas sesama anak bangsa untuk hidup dan merayakan keberagaman di Indonesia serta mendukung pemerintah menegakkan konstitusi dan kepastian hukum.”

Adapun puncak acara diadakan konser musik bertajuk #BedaIsMe. Konser digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dengan menghadirkan Superman Is Dead (SID), Marjinal, Local Ambience, dan Melanie Subono sebagai pengisinya.

Sebelum konser dimulai, terlebih dahulu dilakukan pemutaran film karya sutradara ternama Hanung Bramantyo berjudul Romie dan Yulie dari Cikeusik. Film yang diangkat dari puisi esai karya Denny JA ini mengisahkan percintaan sepesang pemuda yang terhalang karena dogma kepercayaan kedua orang tuanya dan masyarakat sekitar. Film ini terlihat membius para hadirin yang datang. Terlihat beberapa penonton matanya berkaca-kaca merasa terharu dengan kisah cinta mereka.

Anick HT selaku salah satu produser film tersebut menuturkan, film tersebut telah lama digarap, dengan tujuan untuk menunjukan empati kapada para korban kekerasan atas nama agama. Pada kesempatan tersebut, beberapa korban kekerasan atas nama agama membacakan maklumat didampingi dengan Istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid. Dalam maklumat tersebut, mereka menuntut negara untuk segera menuntaskan kasus-kasus kekerasan beragama yang terjadi di Indonesia. [Mukhlisin]


Beranda  |  Kategori: Harian | Trackback URI


Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: