Memerangi Terorisme

19/10/2008 | By: admin

Pemikir bidang keagamaan dan aktivis perempuan, Profesor Doktor Siti Musdah Mulia, 51 tahun, mengatakan, pendekatan rasional dan kritis harus disertakan dalam memahami agama.

Jika sekedar menanamkan doktrin, menurutnya, sulit menghilangkan akar penyebab terorisme di Indonesia.

Hal ini diutarakan Musdah Mulia kepada BBC Siaran Indonesia, menjawab pertanyaan tentang faktor penyebab merebaknya kembali tindak kekerasan yang menggunakan label Islam, belakangan ini.

Selama ini, menurutnya, pendidikan agama di Indonesia, masih sedikit memberi tempat kepada rasio dan pendekatan kritis.

Hasil penelitian yang dilakukan dirinya juga membuktikan hal itu.

“Jika pendidikan rasional-kritis tidak diberi tempat, dan pendekatan lainnya seperti penegakan hukum dan kerja aparat kepolisian, tidak dikerjakan secara integral, jangan harap terorisme bisa hilang,” jelas Musdah, yang sekarang dikenal memimpin organisasi ICRP, sebuah lembaga yang mengadvokasikan agama dan perdamaian.

Tokoh BBC Siaran Indonesia
Tokoh BBC dengan tamu Siti Musdah Mulia disiarkan, Minggu, 27 September, pukul 05.30 WIB.
Versi panjang Tokoh akan disiarkan oleh radio FM mitra BBC, Senin, 28 September, pukul 06.00 WIB

Itulah sebabnya, pengajaran agama dengan pendekatan kritis dan rasional itu semestinya dimulai terhadap anak-anak.

“Sebaiknya bagaimana mengajarkan kepada anak-anak, yang mencerahkan agar terbebaskan dari belenggu kebodohan dan tiranik,” Musdah menambahkan.

Doktrin

Peraih doktor di bidang pemkiran politik Islam ini, dalam penelitiannya, menemukan banyak pemahaman agama yang masih bersifat doktrinal.

“Seolah-olah (semua ajaran terkait Islam) itu, harus dipahami sebagai perintah Tuhan, dan karena itu, maka segalanya harus dilakukan. Apakah itu masuk akal tidak, bermanfaat bagi kemanusiaan atau tidak, itu tak ada analisis kritis sama sekali,” jelasnya.

Musdah kemudian memberi contoh metode kritis tersebut. “Ya, meskipun itu dikatakan dari Tuhan, tapi kita mesti berpikir kembali, apakah itu benar-benar dari Tuhan? Lalu untuk siapa? Karena menurut saya, agama bukan untuk Tuhan, tetapi untuk manusia. Sepanjang tidak bermanfaat untuk manusia, buat apa kita beragama…,” tegasnya.

Sebagai pemikir dan aktivis, nama Musdah mulai disebut-sebut setelah dia bersama tim penelitiannya (di Departemen Agama) memunculkan counter legal draft, pada tahun 2004. Isi draf itu berisi tentang rumusan tentang persamaan hak perempuan, sebagai tandingan terhadap Kompilasi Hukum Islam.

Atas semua ini, Musdah sempat dicap melakukan penyelewengan terhadap ajaran Islam. Dalam wawancara dengan BBC, Musdah menjelaskan kembali betapa pentingnya usulan rumusan tersebut.

Terorisme dan kejahatan Kemanusiaan

Terkait merebaknya kembali peristiwa kekerasan yang menggunakan tameng agama, Musdah Mulia mengatakan, penyebabnya karena pemerintah dan pemuka agama tidak serius melihat terorisme sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan.

“Karena itu, sepanjang kita tidak melihatnya sebagai kejahatan kemanusiaan, dan kejahatan terhadap peradaban kemanusiaan, saya kira itu akan terus terjadi lagi,” tegas Musdah dalam wawancara khusus di studio BBC di Jakarta.
Pendekatan integral perlu dilakukan, kata Musdah

Semestinya, menurut Musdah, upaya mengecilkan praktek terorisme baru bisa berjalan optimal, kalau dilakukan secara integral. Dia menyebut tiga pendekatan yang seharusnya berjalan seiring.

“Pertama melalui pendidikan, lalu keamanan pihak kepolisian, serta penegakan hukum. Ini semuanya harus bersamaan, serentak,” jelasnya, seraya menambahkan, tanpa semua ini, hanya tambal sulam – “tidak menumpas ke akar masalahnya.”

Menanggapi program deradikalisasi yang pernah dilakukan oleh kepolisian, tetapi kemudian tidak berlanjut, Musdah mengatakan, program itu bisa dilakukan melalui program pendidikan agama.

Sayangnya di mata Musdah, selama ini pendidikan agama hanya menanamkan doktrin keagamaan semata, dan tidak banyak disertai analisis rasional dan kritis.

“Seharusnya, orang memahami agama harus disertai pemahaman kritis dan rasional. Dengan cara ini, agama bisa menjadi fungsional bagi kehidupan manusia,” paparnya.

Di Indonesia, menurut hasil penelitiannya, subyek pendidikan agama sama-sekali tidak mencerahkan. “Jadi kita beragama, tetapi banyak ironisnya. Misalnya, kita beragama, tetapi tidak bermoral,” katanya seraya tersenyum.

Sayangnya di banyak negara yang melabelkan sebagai Negara Islam, Musdah belum menemukan contoh baik dalam strategi menumpas terorisme.

Dia menyebut Pakistan “masih berjuang setengah mati” untuk melakukan semua itu, dengan pendekatan militerisme. “Dan ternyata itu tak berhasil, karena mereka tidak melakukan tiga pendekatan, seperti saya paparkan tadi,” tandas Musdah panjang lebar.

Islam tak menjawab semua persoalan

Kepada BBC, Musdah Mulia menjawab pula pertanyaan tentang ketegangan terus-menerus antara apa yang disebut sebagai kubu sekuler dan kubu Islamis.

Menyinggung aspirasi yang berkembang di kalangan Islamis yang menyebut ideologi sekuler gagal memberikan solusi terhadap semua masalah di dunia, Musdah mengakuinya.

Namun menurutnya pertanyaan itu bisa dibalik “apakah Ideologi Islam juga telah menjawab persoalan? Prakteknya kan juga tidak juga menjawab persoalan…”

Musdah memberikan contoh praktek di negara yang menggunakan ideologi Islam, seperti Iran atau Pakistan. “Apa yang bisa mereka selesaikan? Toh juga banyak pesoalan yang tidak selesai di Negara mereka,” kata Musdah yang program doktornya tentang pemikiran politik Islam.

Dalam beberapa hal, sejumlah Negara di Skandinavia – yang sekuler – berjalan lebih baik dibanding beberapa Negara Islam, dalam beberapa hal, seperti lebih makmur, tentram, atau aman.
Musdah berpendapat Islam tak bisa menjawab semua masalah

Karena itulah, menurut Musdah, Islam bukan jawaban terhadap semua masalah. “Karena kenyataannya seperti itu,” katanya.

Dengan demikian, keduanya – baik sekuler atau Islam – tidak bisa menyebut dirinya paling bisa menyelesaikan semua persoalan.

Untuk kasus Indonesia, menurut Musdah, tidak bisa menggunakan model bentuk kenegaraan seperti di Pakistan, Iran atau – apalagi — Saudi Arabia.

“Karena heterogenitas kita miliki, tidak mendukung pemahaman yang tunggal di dalam penerapan agama, atau di dalam membangun Negara yang berbasis agama. Itu tidak cocok sama sekali di Indonesia,” jelas Musdah.

Islamis-Sekuler, bisa diperdamaikan?

Ditanya apakah dua kutub – Islamis dan sekulerisme — yang saling bertentangan masih dapat diperdamaikan di Indonesia, Musdah menganggap ketegangan ini tidak terlepas dari persoalan sejarah.

Dari awal, menurut Musdah, bangsa Indonesia sudah mulai melihat Indonesia dari kacamata yang berbeda. “Nah, kita belum selesai mendefinisikan Pancasila itu seperti apa, sehingga kegamangan dari kelompok yang tidak setuju Pancasila dan ideologi sekuler, itu bisa terjawab,” katanya.

Karena itulah, Musdah mengusulkan semua kelompok yang bertentangan untuk duduk bersama, untuk mengelaborasi “hal-hal yang belum selesai”.

Ini ditekankan Musdah, karena di jaman Sukarno saat itu mungkin belum menuntaskan persoalan tersebut, karena dilatari berbagai hal.

“Nah sekarang ini, waktunya untuk elaborasi kembali Pancasila seperti apa, lalu kita buat rumusannya seperti apa. Lalu, Sila ini mengadopsi nilai-nilai apa saja, kemudian kita bersama-sama duduk bersama untuk merumuskan kembali hal-hal yang belum selesai,” jelasnya.

Dia memberikan contoh Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, yang menurutnya, belum selesai dibahas tuntas.

“Kita masih bertikai soal apa yang di maksud sila itu, karena konsepnya itu sangat politis. Karena implementasinya di lapangan, pemahaman terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa, itu dimaknai secara beragam… Karena itu, kita perlu menggali nilai-nilai itu, karena kehidupan berbangsa bernegara tak bisa dikatakan sudah selesai,” jelasnya.

Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 1 jam itu, Musdah Mulia menyinggung pula hasil penelitiannya tentang isu persamaan hak perempuan dalam hukum Islam.

Empat tahun lalu, hasil penelitian yang kemudian dikembangkan sebagai counter legal draft terhadap Kompilasi Hukum Islam itu, menuai protes. Bahkan sejumlah kelompok Islam menganggap dirinya menyempal dari ajaran Islam.

Heyder Affan
Wartawan BBC Siaran Indonesia


Beranda  |  Kategori: Kliping Berita | Trackback URI


Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: