Radikalisme Remaja Mengkhawatirkan

24/10/2011 | By: mukhlisin

Radikalisme Remaja Mengkhawatirkan
Rudy Harisyah Alam, peneliti LAKIP. Sumber: Dok.ICRP ‎

Tingginya tingkat oerientasi radikalisme ditingkat pelajar baik SMP maupun SMA tidak bisa dianggap sepele. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil survei yang dikeluarkan oleh Lembaga Kajian Islam dan Pluralisme (LAKIP) yang menunjukkan bahwa hampir 50% pelajar setuju dengan aksi radikalisme atas nama agama. “Sayangnya banyak lembaga dan orang yang masih menganggap sepele hasil penelitian ini bahkan tidak mempercayainya.” Ungkap Rudy Harisyah Alam peneliti LAKIP pada Sekolah Agama yang dilaksanakan di ICRP Jum’at (21/10/2011).

Rudy sempat mengemukakan kekecewaaannya terhadap lembaga yang melihat sebelah mata survei tersebut. Pasalnya, seperti menteri agama sendiri yang menolak hasil survei tersebut yang mempertanyakan keabsahan metodologis. Padahal LAKIP sudah melakukan survei dengan standard dan metode yang valid.

Penelitian yang dilakukan selama Oktober 2010 sampai Januari 2011 ini memang mengundang sorotan publik. Kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh Dani Dwi Permana di Hotel JW Marriott  Kuningan  17 Juli 2009 lalu, ternyata belum membukakan mata sebagian orang akan radikalisme dikalangan remaja yang mengkhawatirkan. Dani Dwi Permana seorang remaja 17 tahun yang dikenal sebagai remaja yang aktif diberbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Tetapi siapa sangka dibalik kesantunan dan keaktifan Dani tersebut memendam sebuah ideologi radikal yang mampu merelakan jiwanya dan mengorbankan jiwa-jiwa tidak berdosa orang lain. Begitu kuatnya semangat radikalisme didalam diri Dani Dwi Permana dan juga mungkin berada dalam diri remaja-remaja ditengah masyarakat kita dewasa ini.

Dari survei yang dilakukan terhadap siswa dan guru PAI SMP dan SMA se-Jabodetabek ini memperlihatkan kecenderungan radikalisme ditingkat pelajar sangat mengkhawatirkan. Seperti berikut:

Tingkat pengenalan atas organisasi radikal, guru PAI 66,4 %, siswa 25,7 %

Tingkat kesetujuan atas organisasi radikal, guru PAI 23,6 %, siswa 12,1 %

Tingkat pengenalan pada tokoh radikal, guru PAI 59,2 %, siswa 26,6 %.

Tingkat kesetujuan kepada tokoh radikal, guru PAI 23,8 %, siswa 13,4 %.

Tingkat Kesetujuan terhadap tindakan:

Menangkap atau menghakimi pasangan bukan suami istri, guru 48,2 %, siswa 74,3 %

Perlawanan terhadap barat atas pengeboman yang dilakukan pelaku teroris, guru 7,5%, siswa 14,2 %.

Membantu umat Islam di daerah konflik bersenjata, guru 37,8 %, siswa 48,9 %.

Penyegelan dan perusakan rumah ibadah yang bermasalah, guru 40,9 %, siswa 52,3 %.

Pengrusakan rumah atau fasilitas anggota aliran keagamaan sesat, guru 38,6%, siswa 68,0 %.

Penyegelan dan perusakan tempat hiburan malam, guru 43,7%, siswa 75,3 %.

Tingkat Kesediaan terhadap tindakan:

Pembelaan dengan senjata terhadap umat Islam dari ancaman agama lain, guru 32,4%, siswa 43,3 %.

Pengrusakan dan penyegelan rumah ibadah bermasalah, guru 24,5%, siswa 41,1 %.

Pengrusakan rumah atau fasilitas anggota keagamaan sesat, guru 22,7%, siswa 51,3 %.

Pengrusakan tempat hiburan malam, guru 28,1%, siswa 58,0 %.

Penangkapan dan mengkahimi pasangan bukan suami istri, guru 51,9%, siswa33,1 %.

Tindak kekerasan seperti tawuran sebagai solidaritas teman:

14,4 % siswa setuju

11,4 % siswa bersedia

8,5 % siswa pernah terlibat

“Dari gambaran dari hasil survei ini, kita menjadi tahu secara real tingkat kecenderungan radikalisme dikalangan remaja Jabodetabek.” Ungkap Rudy. Selain itu, Rudy juga menjelaskan bahwa survei ini telah dilakukan dengan metode yang valid yaitu dengan survei melalui wawancara tatap muka dengan panduan kuosioner. Survei dilakukan terhadap populasi siswa dengan jumlah 611.678 orang dan populasi guru sebanyak 2.639 orang di Jabodetabek. Jadi survei ini telah dilakuakan dengan metodologi yang benar dan valid dan tidak ada alasan untuk menolaknya.

“Seharusnya Menteri Agama mengapresiasi survei yang dilakukan LAKIP ini, bukan malah menolaknya” tegas Nur Khafid, Manager Program ICRP dalam memberikan komentar survei tersebut. Artinya dengan survei LAKIP ini kita semua menjadi mengerti seberapa besar orientasi radikalisme itu berkembang dalam diri remaja. “Mungkin departemen agama takut dicap gagal, sehingga menolak survei ini.” Lanjut Nur Khafid.

“Perlu perhatian masyarakat dan juga lembaga-lembaga terkait terhadap isu ini (Radikalisme Remaja). Jangan hanya diam sehingga timbul Dani Permana-Dani Permana lain.” simpul Bobby, sang moderator dalam acara sekolah agama malam itu.


Beranda  |  Kategori: Mingguan | Trackback URI


Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: