Saatnya Bicara soal Laki-Laki

21/12/2009 | By: admin

Keterlibatan laki-laki dalam berbagai aspek gerakan perempuan secara tidak langsung telah memberikan kontribusi dalam mendukung pemajuan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan, namun masih banyak pertanyaan yang muncul di kalangan penggiat gerakan perempuan melihat keterlibatan laki-laki, ada yang mendukung namun tidak sedikit juga yang mencurigainya sebagai upaya untuk merebut kembali ruang gerak perempuan.

Pada perkembangannya ide tentang emansipasi perempuan yang kita sebut feminisme ini, mengarah pada tindakan dekonstruksi terhadap eksistensi maskulinitas (laki-laki) dan femininitas (perempuan). Laki-laki juga harus melakukan afirmasi karena konstruksi patriarki ternyata bukan hanya menjadikan perempuan sebagai korbannya, tetapi juga laki-laki. Oleh karena itu keterlibatan laki-laki memilliki tujuan yang sama dalam membangun kesetaraan dan keadilan.

Yayasan Jurnal Perempuan sebagai organisasi yang fokus pada isu advokasi dan pendidikan hak-hak perempuan, pada hari Kamis yang lalu, 17 Desember 2009, telah meluncurkan satu edisi Jurnal Perempuan yang membahas tentang persoalan keterlibatan laki-laki dalam berbagai aspek gerakan perempuan. Secara ringkas, Jurnal Perempuan edisi ke-64 yang berjudul “Saatnya Bicara Soal Laki-Laki” tersebut diharapkan dapat membuka wacana untuk melihat peran laki-laki dalam gerakan perempuan.

Lounching buku yang bertempat di Perpustakaan Pendidikan Nasional, Departeman Pendidikan Nasional itu menghadirkan beberapa narasumber, seperti: Nur Achmad, redaktur Swara Rahim dan Dosen Kajian Islam di STIE Ahmad Dahlan, Eko Bambang Subiyantoro, FNS dan Koordinator Gerakan Laki-Laki Baru, dan Gadis Arivia, pendiri Yayasan Jurnal Perempuan.

Dalam diskusi tersebut, Nur Achmad memberikan beberapa pandangan berkaitan dengan kesetaraan posisi kaum laki-laki dan perempuan dalam agama Islam dan bagaimana permasalahan tentang keadilan dan kejujuran merupakan dua hal yang tidak dapat ditawar.

Eko Bambang Subiyantoro, sebagai pembicara kedua, menjelaskan hal-hal yang terkait dengan Gerakan Laki-Laki Baru yang dipimpinnya lengkap dengan tudingan yang kerap ditujukan kepada gerakkanya sebagai usaha untuk menandingi aktivis perempuan dan merebut kembali hegemoni kaum laki-laki atas kaum perempuan. Ia menceritakan pula bagaimana sesungguhnya kaum laki-lakipun juga mengalami situasi yang berat berkaitan dengan statusnya sebagai laki-laki. Kepada kaum laki-laki kerap dibebankan stigma yang cukup berat, seperti misalnya bahwa kaum laki-laki haruslah seorang yang macho, pekerja keras, bahkan sampai seorang yang konon tidak boleh menangis.

Menjadi seorang laki-laki, tambahnya, adalah menjadi pribadi yang kerap dijauhkan dari sisi-sisi kemanusiaan. Dengan aktif terlibat dalam gerakan pemberdayaan perempuan, kaum laki-laki sejatinya juga sekaligus membantu dirinya sendiri untuk mendapatkan kembali sisi-sisi kemanusiaannya yang sudah terenggut sejak kecil.
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian diskusi, Gadis Arivia memberikan beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa gerakan pemberdayaan perempuan merupakan suatu perjuangan lintas yang tidak membedakan golongan, ras, suku, agama ataupun jenis kelamin. Kedua, adalah tidak mudah untuk dapat sungguh menjadi seorang pejuang keadilan karena hal itu selalu berarti pejuang kaum minoritas. Oleh karenanya, seorang pejuang gender haruslah juga seorang pejuang bagi kaum-kaum transexual, pejuang bagi pemeluk agama atau kepercayaan yang tertindas, pejuang bagi kaum lemah, miskin dan tersingkir, serta masih banyak lagi.[] Agni Hastantya


Beranda  |  Kategori: Esai | Trackback URI


Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: