Alhamdulillah, Merayakan Natal di Vatikan

28/12/2011 | By: chrispoerba

 Gayatri W.Muthari

(24-25 Desember 2011) Asrama tempat saya tinggal sudah benar-benar sepi. Teman-teman seasrama sudah pulang ke negara masing-masing untuk merayakan natal bersama keluarga mereka. Juga, ada yang berpetualang keliling Italia atau Eropa mengisi liburan panjang. Hanya tinggal saya, Saba dari Mesir, Maria dari Bosnia, Pamela dan Kyle dari A.S, David dari Mexico, A.J dari A.S yang dikunjungi ibunya Suzanne, Tornike dari Georgia dan Ivan dari Serbia. Dua yang terakhir akan mudik pada saat natalan versi Orthodoks. Kebetulan juga ada muslimah asal Turki yang sedang menginap beberapa malam karena beberapa hari lalu menjalani sidang tesis doktoralnya – tetapi menjelang malam Natal dia sudah kembali ke Turki.

Gayatri W.Muthari di St Thomas Aquinas

 

Piazza St. Peter

 

Jam tiga siang, sesudah makan siang, Pamela dan Maria sudah berdandan rapi untuk menonton konser musik di lapangan St.Peter, yang biasa disebut Piazza St. Peter, katedral terbesar di dunia. Mereka kecewa karena tidak kebagian tiket masuk untuk misa bersama Sri Paus malam ini. Memang, jika ada misa atau berdoa bersama (vespers) dengan Sri Paus biasanya masuk ke dalam St.Peter mesti dengan tiket. Saya tidak tahu apakah kepada pengunjung asing tiket ini dijual kendati di tiket ditulis tiket ini gratis. Sebab, biasanya setiap ordo atau biara mendapat atau meminta jatah tiket masuk. Saya sudah beberapa kali mengikuti vespers bersama Sri Paus untuk mahasiswa-mahasiswa universitas pontifical (universitas studi agama) dan kami se-asrama di Lay Centre selalu dengan mudah memperoleh jatah tiket masuk. Tetapi, memang untuk misa natal agak sulit. Sebenarnya saya ingin ikut Pamela dan Maria, tetapi mengingat kondisi tubuh saya yang baru beradaptasi dengan musim dingin, dan harus mengikuti misa malam nanti, maka saya tidak ikut mereka.

 

Melalui koneksi biarawan-biarawan ordo Passionist, ordo yang memberikan kami tempat tinggal, saya memperoleh tiket untuk misa malam ini. Di biara Passionist, tempat asrama Lay Centre, ada lima atau enam orang biarawan asal Indonesia, umumnya asal Flores. Salah satunya Brother Efraim yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Roma, tepatnya di biara Passionist, tempat saya tinggal.

 

Jam lima sore, Efraim sudah menunggu saya di taman biara, tetapi saya tidak bisa pergi dengannya langsung ke Vatikan. Jadi, dia hanya memberikan tiket saya, dan kami berjanji bertemu di antrian masuk. Sementara itu, saya memutuskan untuk tidak ikut mengantri terlalu lama bersama brother Efraim dan yang lainnya, karena cuaca hari itu cukup dingin bagi saya dan saya sudah berjanji untuk bertemu dengan seorang teman. Untuk memasuki gereja St. Peter, selalu ada antrian panjang, walaupun sudah mempunyai tiket masuk. Saya sudah mengalami mengantri selama hampir dua jam hanya untuk masuk, walaupun sudah memiliki tiket. Penjagaannya cukup ketat. Bahkan, saya ingat seorang teman pastor dimarahi petugas keamanan karena memotret pemeriksaan di pintu masuk, dia disuruh menghapus potretnya.

 

Vatikan memang tak pernah sepi oleh pengunjung, baik pengunjung lokal maupun asing. Pada musim panas, konon, dulu orang rela tidur di kantong tidur hanya demi mengikuti misa-misa bersama Sri Paus, atau pada waktu kanonisasi Paus Yohanes Paulus yang terkenal itu. Orang juga harus sabar mengantri selama beberapa jam hanya untuk masuk gereja atau museum Vatikan. Misalnya, pada minggu pertama Advent, Vatikan membebaskan biaya masuk ke museum. Saya dan Jan mengambil kesempatan tersebut untuk mengunjungi museum itu. Bersama dua sahabatnya, Pietro, seorang pastor asal Cheko juga, dan Fernando, seorang pastor asal Kolumbia, kami mengantri selama dua jam. Begitu masuk, museum begitu penuh. Kami pun terpaksa berpisah karena Jan dan Fernando mesti menaruh tas ransel mereka di tempat penitipan barang. Setelah puas memerhatikan karya-karya klasik, saya dan Pietro kehilangan Jan dan Fernando, akhirnya kami bergegas menuju Kapel Sistina yang terkenal itu. Menuju kapel pun penuh perjuangan, sebab melewati jalur pameran-pameran karya klasik dan kontemprer Kristiani yang lain, yang menarik perhatian kami, dan juga disesaki oleh pengunjung. Begitu kami sampai di kapel itu, di dalamnya lebih penuh daripada tempat yang lain. Bahkan, kami hampir tak bisa berjalan di antara kerumunan manusia yang sedang asyik mengagumi arsitektur kapel itu.

 

Menjelang Natal, jalanan di kota Roma sudah begitu sepi. Pagi-pagi, saya naik bus pun hanya saya penumpangnya. Untuk pertama kalinya saya mengucapkan salam kepada sang supir, dan selamat natal untuknya. Ini mirip dengan berlebaran di Jakarta! Hampir semua restoran dan toko sudah tutup. Di terminal, saya melihat serombongan orang berpakaian merah dengan tulisan “City of Angels” membagi-bagikan hadiah kepada para pengemis dan tuna wisma yang sedang berbaring di jalanan di kantong-kantong tidur mereka. Dua buah pohon natal besar di terminal sudah dipenuhi oleh kartu-kartu ucapan dan permohonan doa.

 

Sapu lidi

 

Selain pohon natal, di rumah-rumah, di gereja-gereja, dan di tiap-tiap lantai biara, sudah disiapkan “persepe” atau “presepe”, yaitu patung-patung kecil yang dibuat untuk menggambarkan lahirnya Yesus Kristus lengkap dengan gua atau pun kandang domba, pohon-pohon, dan suasana pedesaan apakah ala Eropa atau ala Yerusalem. Anak-anak biasanya sangat senang menolong menyiapkannya. Beberapa hari sebelumnya, pada hari St. Nicholas, asrama Lay Centre juga mengadakan bagi-bagi hadiah untuk anak-anak pegawai dan sahabat Lay Centre ala Belanda karena salah satu pendiri Lay Centre serta beberapa donaturnya adalah asli Belanda. Santa Claus membagi-bagi hadiah dan dua teman seasrama saya bahkan menjadi Pit hitam, membawa sapu lidi (dan di Belanda juga dikenal sebagai sapu lidi) dan membagi kue jahe yang tidak asing bagi lidah orang Indonesia, bekas jajahan Belanda.

 

Setelah makan malam dengan Nguyenvan Tao seorang brother asal Vietnam, kami pergi menuju Vatikan. Dia tidak bisa ikut misa karena tidak memperoleh tiket, dan juga asramanya terlalu jauh dari Vatikan – kalau berjalan kaki lamanya sekitar tiga jam. Belakangan ini saya baru tahu bahwa teman-teman Asia (khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara), tidak peduli apakah pastor, brother, suster atau orang awam seperti saya, memang punya kebiasaan yang sulit hilang: selalu rindu makan nasi, selalu rindu makan tahu dan rindu makan makanan yang diolah dengan bumbu yang berani dan pedas. Jadi, mereka selalu menyempatkan diri kalau hari libur makan bersama-sama di restoran Cina, atau Jepang, mencari tempat makan yang enak, atau yang murah di Roma. Semakin banyak yang bisa diajak, semakin asyik karena uang patungannya bisa lebih meringankan kantong.

 

Saya tiba tepat jam 8.30 malam saat pintu masuk gereja St.Peter baru dibuka untuk misa yang akan dimulai jam 10 malam. Padahal, para pengunjung sudah ada yang mengantri dari jam 4 atau jam 5 sore!  Saya berusaha mencari di antara barisan di mana gerangan Brother Efraim dan kawan-kawannya. Alhamdulillah, walaupun postur tubuh beliau kecil, tetapi berkat habit khas Passionist-nya saya berhasil menemukannya. Bersama beliau, ada dua suster dan seorang frater – tapi saya lupa mereka dari kongregasi mana saja. Bahkan, karena ada yang tidak bisa datang, ternyata ada dua tiket kelebihan! Saya jadi teringat pada Pamela dan Maria yang begitu ingin misa di St Peter, juga Tao yang sudah tiga tahun di Roma tetapi tidak pernah misa di St. Peter. Jadi, tidak semua orang Katholik di Roma beruntung bisa misa natal bersama Sri Paus! Akhirnya dua tiket kelebihan itu diberikan kepada beberapa orang yang sudah mengantri di luar pagar dan memohon diberikan tiket.

 

Pastor dilarang masuk

 

Sambil masuk ke dalam gereja, melalui pemeriksaan yang ketat, dan harus selalu menunjukkan kertas tiket berwarna merah kepada para pengawal, saya teringat kejadian ketika saya, Romo Matteo dan ibunya, Luisa, ingin mengunjungi Katedral Milan. Setelah lama mengantri, di muka pintu Romo Matteo dilarang masuk karena membawa tas ransel. Akhirnya ia menunggu kami di depan katedral. Sambil tertawa, ia berkata, “Bagaimana ini, Muslim boleh masuk gereja tetapi Pastor malah dilarang masuk.”

 

Begitu kami masuk, suasananya sudah begitu penuh. Benar-benar tidak seperti saat vespers, atau misa lainnya, karena semua kursi sudah hampir terisi walaupun kursi yang disediakan jauh lebih banyak daripada biasanya. Kami semua memperoleh buku “Natale del Signore” berisi jadwal acara, doa dan nyanyian selama misa. Seperti direncanakan Tuhan, kami berlima mendapat kursi agak belakang, di dekat serombongan peziarah asal Indonesia. Mendengar kami bicara dalam bahasa Indonesia, mereka begitu senang. Akhirnya semua mengobrol dalam bahasa Indonesia. Saya pun bergumam, “Aduh, ini serasa tidak di Roma, tetapi di Jakarta.”

 

Sambil menunggu Sri Paus, saya memejamkan mata karena udara yang dingin membuat saya mengantuk. Sesekali juga melihat riuhnya umat di dalam gereja besar ini. Dari jauh saya melihat brother Jinu dan brother Arul, dua brother dari ordo Marianist, asal India, teman-teman sekelas saya di St. Thomas Aquinas. Selama ini saya selalu meminjam catatan atau bertanya pada brother Jinu kalau tidak memahami kuliah karena bahasa Inggris dengan aksen India jauh lebih akrab dan mudah saya pahami daripada aksen bahasa Inggris teman-teman sekelas saya dari Afrika atau Skotlandia (ketua kelas kami asal Skotlandia, dan pernah suatu kali saya meminta dia supaya bicara pelan-pelan). Memang ada teman-teman frater dari North American College (NAC), tetapi biasanya mereka suka berkerumun dengan sesama frater dari NAC jadi saya agak segan juga bertanya soal studi dengan mereka. Kadang-kadang, kalau brother Jinu pulang dengan jalan kaki, karena kami searah, kami juga jalan pulang bersama-sama. Dengan para brother dan suster dari India, mereka selalu sangat hangat, apalagi setelah mereka tahun nama saya: Gayatri, nama khas India!

 

Jam 10 tepat misa dimulai. Sri Paus mulai memasuki katedral, diawali oleh masuknya anak-anak pelayan altar dan para pastor berjubah indah. Karena sudah uzur, Sri Paus naik kereta untuk menuju singgahsananya. Semua orang berusaha memotret atau merekam beliau, ada yang naik kursi dan begitu Sri Paus lewat di depan mereka, mereka akan memanggil-manggilnya dengan sukacita.

 

Misa berlangsung begitu hikmat. Saya sendiri tidak kuasa menyembunyikan rasa sukacita saya. Saya begitu bahagia ikut bersama saudara-saudari Kristiani terkasih, memperingati maulid Isa al-Masih, nabi agung yang merupakan satu dari empat mursyid (pembimbing spiritual) yang kami taati dalam tarekat sufi yang saya jalani [tiga mursyid lainnya adalah Elijah atau Ilyas, Enoch atau Khidir, dan Imam Mahdi]. Semua orang tahu bahwa hari lahir Isa al-Masih tidak diketahui dengan pasti, tetapi demi mengubah kebiasaan kaum pagan, sejak Romawi meresmikan Kristen sebagai agama negara maka tanggal 25 Desember diubah menjadi hari raya peringatan lahirnya Yesus Kristus.

 

Sesekali, kalau capek berdiri, saya duduk, dan ikut menikmati nyanyian agung dan megah di dalam gereja ini. Sesekali juga ikut menyanyi apabila lagunya mengenai kegembiraan akan lahirnya Yesus Kristus. Dentang orgel, senandung paduan suara dan alunan musik yang sesekali ditimpali oleh nyanyian para jemaat begitu megah dan syahdu. Saya begitu terharu mengucapkan “Pace”, “Peace” atau “Salam Damai” di dalam gereja St. Peter ini saat misa, yang biasanya dilakukan menjelang proses pemberian roti Ekaristi. Apalagi mengucapkan salam damai kepada sesama saudara Kristiani dari negeri sendiri! Semoga damai, damai dan selalu damai di tanah air kami!

 

Setelah salam damai, para pastor berjubah putih sudah bersiap-siap di tengah tiap beberapa barisan kursi dengan roti Ekaristi untuk jemaat. Sambil mengingat pengalaman ustadz Yusuf Daud, senior saya yang juga mengikuti program yang sama dengan saya dua tahun lalu, saya mau tak mau keluar dari barisan kursi karena semua jemaat hendak menerima roti Ekaristi. Saya memutuskan mengikuti jejak Yusuf Daud dan ikut bersama barisan. Saya ingin tahu seperti apa rasanya roti Ekaristi dari Vatikan? Tentu, selain orang Katholik (dan Ortodoks) sebetulnya tidak boleh mendapat roti Ekaristi karena belum dibaptis sesuai cara gereja. Tetapi, kali ini, karena banyaknya jemaat, saya memiliki kesempatan untuk mendapatkan roti Ekaristi pertama saya (dan mungkin juga yang terakhir,).  Saya tahu, selain teman-teman Muslim, pasti banyak teman-teman pastor saya akan “marah” atau akan bilang “Wah, Gayatri nakal juga!” tetapi saya sendiri terlalu gembira ikut misa kali ini. Walaupun saya tidak layak memperolehnya, tetapi saya ingin semua saudara-saudari Kristiani saya tahu betapa saya juga mencintai Yesus Kristus sebagaimana mereka mencintainya. Walaupun juga saya sering menemani teman-teman mengikuti misa, dan ikut vespers, dan mencintai Yesus Kristus, saya sendiri tidak ingin menjadi orang Katholik.  Lebih tepatnya, saya bahagia menjadi seorang Muslim yang Kristen (baca: pengikut Yesus Kristus). Bagi saya, bukan seorang Muslim dan bukan seorang pengikut Islam jikalau tidak mengikuti dan mencintai Yesus Kristus serta nabi-nabi suci lainnya.

 

Buon Natale

 

Jam 12 malam, misa berakhir dengan penuh sukacita. Semua orang berseru dan saling berjabat tangan mengucapkan, “Selamat Natal” atau “Buon natale” atau “Merry Christmas.” Bersama Brother Efraim, saya terpaksa pulang berjalan kaki selama satu setengah jam karena sudah tidak ada kendaraan umum. Banyak jemaat juga demikian. Beberapa suster, entah dari kongregasi mana, juga berjalan bersama kami. Walau tak saling kenal, kami saling berjabat tangan saling mengucap selamat natal. Mereka berjalan begitu lincah dan riang menembus dinginnya malam!

 

Begitu kami sampai di biara tempat kami tinggal, brother Efraim mengajak makan makanan ringan bersama para pastor, para suster dan jemaat yang mengikuti misa di Basilika St Paul, gereja di biara Passionist. Biasanya, di gereja-gereja lain misa berlangsung tengah malam selama kira-kira satu setengah jam atau bahkan ada yang kurang dari itu.  Di antara para jemaat yang ikut makan di ruangan, ada beberapa aktris Italia dengan pakaian mereka yang penuh gaya. Tetapi, saya dan brother Efraim duduk bersama para biarawan asal Indonesia. Merindukan tanah air, kami menikmati Malam Natal dengan penuh sukacita. Saya pun jadi rindu dengan sahabat-sahabat saya para romo dan para frater dari kongregasi Xaverian. Sementara itu banyak orang tidak bisa merayakan natal di gereja di tanah air… Banyak orang bertikai atas nama Tuhan dan agama di tanah air…Saya ingin terus merajut harapan saya untuk Indonesia yang damai, dunia yang damai!

 

Dini hari itu, sebelum tidur, saya menemui saudari Muslimah saya asal Mesir, Saba. “Mubarak maulid Isa al-Masih,” kata saya padanya sambil memeluknya, lalu dia membalas dengan hangat, penuh haru. Betapa kami pun begitu dalam mencintai Isa al-Masih. Seluruh dunia, serta seluruh alam semesta juga begitu dalam mencintai. Al-Qur’an pun merekam suka cita alam semesta atas lahirnya Putra Maria.

 

Salam bagimu wahai Ruhul Kudus, Kalimat Allah, dan Juru Selamat manusia! Bonis omnibus, ad pacem et amor.

@Roma, 26 Desember 2012

Gayatri W.Muthari sedang mengikuti program Nostra Aetate Foundation, untuk dialog antar agama, kuliah di universitas St. Thomas Aquinas dan Gregoriana, Roma


Beranda  |  Kategori: Esai | Trackback URI


6 Komentar untuk “Alhamdulillah, Merayakan Natal di Vatikan”

  1. Viktor Sagala says:

    Puji Tuhan, masih ada Gayatri seorang Muslimah Cinta Damai

  2. Bro. Giovanni Ada', CICM says:

    Hi Gayatri, trims atas article nya yg sangat mengharukan, yg buat aku sebuah “hadiah natal” hehe. I was searching some infor about natal org Indo di Roma…eh, malah yg muncul in my ‘google search’ article kamu. Aku sangat bangga dengan orang Indonesia seperti mbak Gayatri yg terus merajut harapan biar tanah air kita dan dunia bisa damai dan interreligious dialog semakin kita kembangkan seiring semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Boleh gak mbak Gayatri tulis tulis dalam bhs Inggris tuk di share ke teman2 yg lain? Maaf, aku tanpa permisi kamu dah critakan pengalaman indah kamu ke teman2 congregasi kami di Roma yg mostly American and European dan sangat bangga dan terharu jg. Boun natale, buon anno nuovo e buon lavoro hehe. Sukses slalu dan gak usah terlalu merindukan ‘nasi’, mumpung di Italia nikmani ‘pasta’, spaghetti carbonana,al vongole, pizza capricciosa, quattro formaggi,etc. hehe. Ciao.

  3. Syifa says:

    gayatri. kau gila. kau bukan muslimah. kau wanita kafir skarang. “LAKUM DIINUKUM WALYADIIN” Jangan mengaku muslim lagi. bukan begitu cara menghargai umat lain. pernahkah kau belajar sejarah umat islam? tentang Nabi Isa AS VS yesus? kalau iman masih ada di hatimu. tobatlah. bila tidak jgn sebut lagi dirimu MUSLIMAH…..

  4. Abdullah says:

    Kasian sekali ada seorang muslim yang (mungkin) tidak sadar dengan kondisinya sebagai seorang muslim. Maaf mungkin agak ekstrim, tapi saya sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh saudari Gayatri ini. Merayakan Natal sama saja dengan mengakui kebenaran ajaran Nasrani. Nah, kalau sudah begini, sekalian saja anda pindah agama. Jangan sampai apa yang anda lakukan bisa menyesatkan umat islam lainnya. Taubat saudaraku!

  5. assalam,,gayatri,,mohon dibaca2 lagi tentang hukum merayakan natal dan mengucapkan natal itu ya

    islam itu cinta damai,,
    lakum diinukum wa liyadin

    bagimu agamamu dan bagiku agamaku

    namun tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama
    apakah itu mengucapkan selamat untuk hari besar agama lain atau menyetujui perayaan itu

    terima kasih

    smoga bisa menjadi pembelajaran

Leave a Reply

  • Category

  • Pengunjung: