download (2)

Negara Islam, utopia yang (masih) seksi diperbincangkan

Oleh : Muhammad Mukhlisin

Sejak 65 tahun yang lalu debat tentang Negara Islam tetap berlangsung di Indonesia. Karena itu sudah waktunya Disertasi Musdah Mulia yang membahas pemikiran M.H. Haikal tentang Negara Islam dibuka bagi publik lebih luas. Haikal, termasuk pemikir Muslim abad ke-20 yang paling tajam dan menantang. Pemikirannya tentang Islam dan demokrasi perlu diperhatikan oleh siapa saja yang mau bicara secara bertanggung jawab tentang kenegaraan yang Islami.

(Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ)

Husain Haikal

Isu Negara Islam merupakan isu yang seksi untuk diperbincangkan di masyarakat terutama di Indonesia. Bahkan isu ini masih akan tetap berlangsung di masa depan. Bukan karena penduduk Indonesia adalah mayoritas umat Islam tetapi memang isu Negara Islam berkaitan erat dengan agama, bentuk kenegaraan, politik dan kekuasaan yang sangat riskan. Demikian diakui oleh Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe saat launching dan diskusi buku “Negara Islam” buah karya Dr. Siti Musdah Mulia pada hari Rabu malam (28/7) lalu di Serambi Salihara, di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Diskusi hangat yang dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai kalangan profesi ini diulas secara komprehensif oleh Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe (Ketua Umum PGI), Imdadun Rakhmat (PBNU) juga oleh Dr. Musdah Mulia sendiri selaku penulis buku. Perbincangan ini dimoderatori oleh M. Hasibullah Satrawi (Alumnus Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir).

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Kata Kita ini merupakan Disertasi dari Musdah saat menempuh program Doktor bidang Pemikiran Politik Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Musdah Mulia menuliskan Disertasi-nya yang meneropong pemikiran dari seorang negarawan dan budayawan asal Mesir, yang dilahirkan pada tanggal 30 Agustus, hampir seabad yang lalu, budayawan itu bernama Husain Haikal. Menurut Musdah Mulia, Husain Haikal adalah pemikir yang otoritatif dalam Studi Negara islam, selain sebagai seorang negarawan. Haikal juga menguasai bahasa serta sastra Arab dan sumber-sumber ilmiah dengan sangat apik. “Bukunya yang berjudul Hayatun Muhammad merupakan buku sejarah pertama yang ditulis dengan cara ilmiah. Sebelumnya sejarah hanya dituliskan dalam bentuk hadits-hadits saja” , uji Musdah.

“Husain Haikal, sebuah sosok yang belum banyak disebut dalam beberapa referensi yang saya baca, bahkan masih kalah pamor dengan seniornya yaitu Rasyid Ridho, Muhammad Abduh dan Abdul A’la Al Maududi. Baik itu di kalangan islam radikal maupun yang moderat”, tandas Imdadun Rakhmat saat mengomentari buku ini. Menurut Imdadun, di Indonesia sendiri memanasnya perdebatan ideologi negara mengenai apakah harus ada Negara Islam atau tidak, sebenarnya sudah mulai mencuat ketika sidang BPUPKI yang kemudian umat islam terpilah-pilah menjadi fraksi yang tradisional, nasionalis dan sekuler.

Erastianisme

Sementara itu, Pendeta Yewangoe menambahkan bahwa di Kristen juga pernah mengalami ketegangan yang diakibatkan erastianisme atau politisasi agama pada abad ke 4. Walaupun begitu, Yesus selama hidupnya tidak pernah mendirikan negara agama. “Menurut para ahli, mendirikan negara agama tidak diperlukan, karena masyarakat Yahudi pada waktu itu sudah mempunyai negara hukum. Sedangkan di masyarakat sipil, hukum Romawi sudah diperlakukan, jadi tidak dibutuhkan hukum dan negara Kristen”, tegas ketua umum PGI ini.

Pada dasarnya konsep Negara Islam adalah buah Ijtihad yang luar biasa lama. “Menurut pendapat Mushaf Hallaf, beliau ini ahli fiqih, ayat Al-Quran 6000, dan hanya 5% ayat yang bicara tentang hukum, kemudian 10 ayat tentang negara, itu pun bukan detail tapi masih yang sangat umum. Kemudian 2 ayat yang popular kita dengar yaitu surat Ali Imran : 149 dan surat As Syura : 39. Dan 10 ayat tadi sebatas membahas pentingnya musyawarah”, imbuh Musdah.

Kemudian Musdah juga menekankan bahwa di Islam persoalan politik adalah persoalan muamalah, dan konsep Negara Islam adalah model pemerintahan yang belum jelas bagaimana sistem negara itu, bagaimana jenis pemerintahan itu, bahkan sistem suksesi kepala pemerintahan pun tidak jelas. “Intinya Islam tidak memberikan konsep yang baku dan terperinci tentang konsep Negara islam. Islam hanya memberikan seperangkat nilai-nilai etika untuk dijadikan pedoman dalam pengelolaan negara dan juga dalam pengelolaan masyarakat. Seperangkat etika itu adalah tauhid, sunnatullah dan persamaan manusia. Dan secara terperinci lagi tentang pemerintahan, Husain Haikal mengatakan ada 3 prinsip yang lebih mendasar yaitu prinsip persamaan, persaudaraaan, kebebasan”, tegas pengajar dari perguruan tinggi Islam yang terkemuka di Jakarta ini.

Novel yang bernarasi

Di tengah hangatnya diskusi, Musdah menekankan Negara Islam itu tidak dalam bentuk simbol, entah itu bendera atau dalam bentuk nama Negara Islam, tetapi merupakan negara yang mengimplementasikan 3 nilai yaitu : kebebasan, persaudaraan dan persamaaan. Suatu negara yang mengimplementasikan nilai ini maka bisa disebut Negara Islam. Dan sebaliknya jika ada negara tetapi tidak mengimplementasikan 3 nilai ini maka tidak bisa disebut dengan Negara Islam. Pada sesi akhir diskusi, Pendeta Yewangoe memuji buku Negara Islam ini dapat dijadikan untuk memahami secara praktis tentang relasi agama dan negara terutama seperti di Indonesia yang masyarakatnya majemuk ini. “Buku ini ditulis dengan cara menarik seperti sebuah novel yang bernarasi, dirangkai dengan sangat apik dan membacanya seperti membaca novel, kemudian kita membacanya tidak bosan, karena biasanya sebuah disertasi tidak mudah membacanya tetapi buku ini tidak”, simpulnya.

Meskipun Haikal tidak mampu untuk mengimplementasikan gagasannya dalam realitas konkret, kata Musdah, tetapi sumbangan Haikal merupakan gagasan khazanah yang fundamental yang teramat penting serta masih sangat relevan untuk situasi saat ini. “Menurut Haikal adalah sebuah mimpi bagi mereka yang mengatakan ada konsep Negara Islam yang baku baik bentuk Negara dan perincian-perinciannya itu”, simpulan akhir dari seorang Musdah “yang Mulia”. *)

2.971 views

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

10 + 19 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>