writing-articles

Icrp-online menerima sumbangan tulisan

Icrp-online menerima sumbangan tulisan dalam bentuk berita dan esai. Tulisan yang dikirim merupakan hasil karya sendiri dan dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis, dan tidak merendahkan pihak tertentu. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan secukupnya.

Syarat dan ketentuan tulisan adalah sebagai berikut:

  1. Tulisan sesuai dengan tema-tema ICRP, seperti perdamaian, kesetaraan, keadilan, kebebasan beragama dan berkeyakinan
  2. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, baik dan benar
  3. Tulisan dalam bentuk kategori berita atau esai
  4. Untuk kategori berita, panjang tulisan maksimal 3000 karakter
  5. Untuk kategori esai, panjang tulisan maksimal 7000 karakter, disertai dengan foto kejadian.
  6. Menyertakan identitas penulis secara singkat dan jelas disertai dengan foto, dan menyertakan nomor telpon yang bisa dihubungi
  7. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis
  8. Tulisan yang dikirim akan diedit seperlunya tanpa merubah substansi.
  9. Tulisan dikirim ke redaksi icrp via email: icrp@cbn.net dan CC ke: mukhlisin@icrp-online.org
6.868 views

9 comments

  1. DARI FAKTA KEKERASAN MENUJU KE PERAN GEREJA
    Matius 1:18-25

    Belakangan ini banak terjadi peristiwa kekerasan di negara kita. Di bulan Desember ada ‘OPERASI LILIN’ yang dilakukan oleh pihak kepolisian RI dalam rangka memberi rasa aman kepada umat Kristen di Indonesia untuk merayakan hari Natal Kristus tahun 2011. Di gereja Imanuel Jakarta diberitakan telah berjaga-jaga 150 personil anggota kepolisian sejak tanggal 23 Desember 2011 yang lalu. Di Papua, polisi melakukan razia di jalan-jalan, di Jogjakarta polisi melakukan penyisiran di dalam dan halaman gereja, di gereja Silo Ambon, dll.
    Bagi saya langkah-langkah seperti ini memang bisa menjadi langkah solutif untuk menolong warga gereja yang sedang ketakutan karena berbagai teror dan fakta kekerasan atas nama agama yang sering terjadi. Namun pada dasarnya langkah seperti ini hanya bersifat sementara dan tidak menolong menumbuhkan sikap toleran dan saling hormat menghormati antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama yang berbeda dalam jangka panjangnya. Bagi saya, kita sebenarnya membutuhkan langkah-langkah solutif masa depan yang berkelanjutan, bukan berhenti pada bentuk-bentuk represif seperti itu. Pertanyaannya adalah: dalam bentuk apakah langkah itu?
    Mari kita belajar kepada seorang Yusuf menurut kisah Injil Matius dalam teks Matius 1:18 dst. Ada satu kata menarik dalam teks ini yang berhubungan dengan seorang Yusup, yakni kata: ‘mimpi’ dalam ayat 20. Malah dalam ayat 24 dikatakan Yusup melaksanakan apa yang ia terima/lihat/saksikan dalam mimpinya. Tidak saja dalam teks ini, dalam teks selanjutnya juga masih terlihat peran dari ‘mimpi’. Misalnya dalam 2:13 yang berisi perintah supaya keluarga yang baru itu harus mengungsi ke Mesir karena sikon yang tidak aman bagi sang bayi yang baru lahir itu. Dan dalam ayat 19, yang berisi perintah untuk kembali dari Mesir karena sikon di Israel sudah aman.
    Apa sebetulnya yang dimaksudkan dengan mimpi? Kalau kita pernah membaca teori Sigmund Freud akan tahu bahwa Freud dalam melakukan pelayanan psikologinya selalu berangkat dari mimpi pasiennya. Mengapa? Karena Freud memandang mimpi bisa mengungkapkan sesuatu yang sesungguhnya dari seseorang secara psikologi. Namun saat ini saya tidak akan bicara tentang teori itu. Satu hal yang ingin saya katakan ialah bahwa praktek togel yang sedang marak di daerah kita ini sebenarnya dibangun dan dibisniskan berdasarkan teori Freud tentang mimpi.
    Dulu di jaman Alkitab ditulis (khusus PB), mimpi dianggap mengandung suara Tuhan. Oleh karena itu, jika ada orang yang ingin ide, pikiran, dan penghayatannya bisa diterima secara rohani oleh orang lain, maka ia akan menghubungkan ide, pikiran, dan penghayatannya itu dengan mimpi. Dalam hal ini mimpi bisa dianggap dan dipakai sebagai alat untuk meligitimasi idea, pikiran, dan penghayatan seseorang agar bisa diterima secara luas di masyarakat.
    Saya rasa, cara penghayatan dan praktek mimpi seperti inilah yang dimanfaatkan oleh penginjil Matius atau jemaat penginjil Matius untuk menyebarkan tulisan atau teks ini pada jaman itu. Itu berarti bahwa menurut Matius dan jemaatnya: peristiwa yang mereka tulis ini adalah sungguh-sungguh berhubungan dengan rencana Allah.
    Lalu apa hubungannya dengan fakta kekerasan dan solusi yang harus dilakukan secara berkelanjutan seperti yang telah saya singgung di atas tadi? Saya memberi 2 makna teks ini bagi upaya itu, sbb:
    1. Kita harus bisa merumuskan sebuah mimpi yang bersifat ilahi dan mengandung masa depan yang pasti. Sudah pasti mimpi dalam pengertian ini bukan semacam bunga-bunga tidur saja, atau bukan untuk kepentingan togel, melainkan sebagai visi atau pandangan masa depan yang realistis dan terjangkau. Setiap jemaat sebagai persekutuan harus punya mimpi masa depannya. Artinya arah jemaat mau dibawa ke mana dapat terbaca pada rumusan visi (mimpi) jemaat. Setiap keluarga dan pribadi-pribadi Kristen juga harus bisa merumuskan visi (mimpi) masa depannya. Ke arah mana keluarga atau masing-masing pribadi akan berjalan? Terlihat pada visinya. Tanpa visi (mimpi) masa depan, kita akan sulit bertumbuh dan berkembang secara baik.
    Berkaitan dengan solusi terhadap fakta kekerasan, menurut saya kita harus merumuskan mimpi kita bahwa di tahun 2012 ini, baik jemaat, keluarga, dan pribadi kita masing-masing akan menjadi jemaat, keluarga, dan pribadi-pribadi yang alergi terhadap kekerasan. Bayangkan jika semua jemaat/gereja bervisi alergi terhadap kekerasan, niscaya sikon hidup kita akan aman dan kondusif.

    2. Jika sudah punya mimpi seperti itu, maka langkah selanjutnya adalah aksi menuju ke mimpi itu. Yusup dalam kisah tadi tidak saja duduk merenungkan mimpinya, melainkan bangun dan melakukan apa yang ia mimpikan itu, yaitu mengambil Maria sebagai isterinya, namun tidak bersetubuh sampai Yesus lahir. Bangun dan mengambil Maria serta tidak bersetubuh adalah aksi-aksi konkrit Yusuf dalam teks ini. Jadi, tidak saja pandai berteori atau berkata-kata, melainkan pandai juga beraksi dan bertindak.

    Pesan utama dari teks ini adalah beraksi dan berbuat sesuatu yang konkrit dan nyata.
    Berkaitan dengan solusi terhadap fakta kekerasan, maka perbuatan konkrit yang perlu kita lakukan adalah kegiatan-kegiatan seperti: belajar bersama, live in, lokakarya, diskusi, sharing, dan karya-karya nyata yang lain yang haraus kita programkan.
    Memang kegiatan-kegiatan seperti ini adalah sesuatu yang baru dan memerlukan sekian banyak dana. Oleh karena itu dalam banyak hal kegiatan seperti ini hanya diserahkan kepada urusan pemerintah saja. Sedangkan gereja hanya menjadi pesertanya saja.
    Saya berpendapat jika kegiatan-kegiatan nyata seperti ini tidak menjadi program gereja, maka gereja belum menjadi gereja yang sesungguhnya.
    Marilah kita ingat bahwa tujuan dan sasaran kedatangan Yesus ke dunia ini adalah untuk semua orang, sebagaimana yang tertulis dalam ayat 21: “Dialah yang akan menyelamat umat-Nya dari dosa mereka”. Kata ‘umat’ dalam naskah Yunani ditulis dengan kata: ‘Laos’, yang artinya: orang banyak atau suku-suku bangsa. Jadi secara hurufia kalimat dalam ayat 21 itu dapat diterjemahkan menjadi “Dialah yang akan menyelamat banyak orang atau suku-suku bangsa dari dosa mereka”.
    Namun yang sering kita lakukan adalah menyempitkan karya Kristus itu hanya kepada kita saja, sedangkan orang lain yang berbeda agama tidak termasuk di dalam karya Kristus. Ini adalah mental dan karakter yang sangat bertolak belakang dan bertentangan dengan karya Kristus sendiri.
    Jadi, marilah kita susun program dalam gereja dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti yang saya sebutkan tadi, sebagai wujud nyata penghayatan kehidupan bergereja dan bermasyarakat di Indonesia yang kita cintai ini.
    Bagi saya jika kegiatan-kegiatan seperti tadi belum menjadi kegiatan di dan oleh gereja, maka gereja hanya duduk-duduk merenungkan mimpinya dan belum beraksi atau bertindak sebagai wujud imannya kepada Kristus.

  2. Kepada Redaksi/Webmaster
    Menarik sekali bila Website ICRP bisa menerima tulisan/artikel. Jika boleh tau, ketentuannya seperti apa saja dan dikirim ke mana?
    Terima kasih.

    • dear mas Muhammad Hafiz, terimakasih sudah mengunjungi website kami. untuk ketentuan artikel tulisan. panjang tulisan minimal 6000 karakter untuk esai. dan untuk berita minimal 5 paragraf. kami sangat mempertimbangkan faktor orisinil dan akutalitas. trmksh. semoga bisa membantu.

  3. Mohon informasi ketentuan lengkap untuk mengirim sumbangan tulisan. Seperti misalnya, apakah harus nama asli disertai fotocopy KTP, tulisan diemail ke alamat apa, dan lain-lain yang diperlukan. Terima kasih.

  4. Yth. Admin ICRP-on line.

    Pada penjelasan tentang syarat dan ketentuan tulisan, di antaranya tertulis : “untuk kategori esai, panjang tulisan maksimal 3000 karakter”. Namun jawaban Redaksi/Webmaster (mukhlisin) kepada Muhammad Hafiz tgl 21/03/2012 dikatakan : “panjang tulisan untuk esai minimal 6000 karakter”. Mohon penjelasan mana yg benar. Terima kasih.

    Heru Sukmadi

  5. kalau ada event humanity undang saya
    humanity is my passion and my belief

  6. Mohon diundang kalau ada acara, seminar dan konferensi

Leave a Reply to klisin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twenty − 10 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>