Bali, Syariat Hindu dan Jilbab

Oleh: Mohammad Monib (Direktur Eksekutif ICRP)

Pasca Idul Fitri berlalu, atas kebaikan PT. Bening Komunika Internasional,  saya bisa piknik selama 3 hari di Bali secara gratis. Bahkan saya diberi biaya transport dan honor untuk kuliah pendek tentang etos dan budaya kerja produktif yang saya sampaikan dalam hitungan menit.  Sebetulnya, Pulau Dewata ini sudah cukup sering saya kunjungi. Biasanya hanya nginap semalam dan tidak banyak bisa jalan-jalan. Tujuannya hanya 1 lokasi. Bisa di Kuta, Sanur dan Seminyak. Tapi, kali ini hampir semua lokasi utama menjadi destinasi paket piknik. Kami nginap di Grand Inna, hotel bintang 5. Tentu mahal. Sarapan pagi di hotel ini sedap dan nikmat sekali. Menunya beragam, mewah dan  mengunyah sarapan sambil menghadap pantai Kuta. Masihkah saya akan kufur atas nikmat-nikmat Tuhan yang begitu melimpah?

 

Bali, bagi saya jelas-jelas salah satu karunia Tuhan bagi dunia. Karunia tak ternilai bagi masyarakat Hindu Bali sendiri, bangsa Indonesia dan dunia. Wajar bila ada guyonan, Bali lebih dikenal di dunia dibanding Indonesia. Apa rahasia Bali hingga sampai detik ini menjadi surga wisatawan?

 

Karunia utama Tuhan di Bali  bagi Indonesia dan dunia adalah “the living ritual’, upacara-upacara keagamaan yang setiap hari bisa kita temui. Ada pure di setiap rumah, desa bahkan di halaman tempat usaha. Di depan toko di pasar atau ruko-ruko. Seperti halnya umat Islam yang shalat 5 waktu, masyarakat Hindu Bali tiap hari juga melakukan sembahyang. Persembahan disiapkan untuk banyak dewa. Hindu memang agama politeisme.

 

Catatan saya, Islam memang beda dari agama-agama lain. Ritual dan kota sucinya benar-benar suci, dalam makna steril dari agama-agama lain. Makkah dan Madinah, dua (2) kota suci Islam ini terkunci untuk dimasuki rumah ibadah lain. Sementara, kota Vatikan dan Benares terbuka dan ada rumah ibadah lain. Beda halnya Palestina yang memang menjadi 1 kota suci untuk 3 agama:Yahudi, Nasrani dan Islam. Ketiga rumpun agama Ibrahim ini pada awalnya  sekonsep ketuhanan alias tauhid. Dalam perjalanannya mengalami keterpecahan. Tinggal Yahudi dan Islam yang bertahan dengan monoteisme. Nasrani pecah menjadi politeistik. Ada banyak ordo atau aliran konsep ketuhanan dan ibadah.

 

Yang menarik, hanya umat Hindu Bali menjadi model utama, dan paling sukses dalam menawarkan paket tempat suci agama, alam dan seni  secara serius, modern dan profesional. Ada packagingpricing dan marketing. Ritual agama dan pure menjadi sajian yang menarik dan memesona non-Hindu. Umat Hindu Bali lah satu-satunya “penjual” agama yang sukses menarik umat-umat lain menyaksikan ritualnya. Sayang sekali, saya belum dapat data adakah wisatawan dan bule-bule yang tertarik menjadi Hindu setelah menyaksikan ritual-ritual di sana?

 

Inilah yang sejatinya menjadi learning dari Bali bagi umat Islam bila ingin “menjual” agamanya ke dunia. Sangat baik bila pendakwah dan muballigh Islam mengemas agama serupa dengan  umat Hindu Bali. Sudah bukan jamannya kita “memasarkan” Islam dengan cara intoleransi, kasar, kejam dan anti kemanusiaan. Tentu saya tidak mengabaikan hikmah dibalik “jualan” Islam ala al-Qaidah dalam peristiwa 9/11 yang merontokkan twin tower di Amerika. Lewat kekejaman yang kontraversi itu Islam menyelusup dalam memori, intelektual dan hati masyarakat Barat. Ada banyak warga Amerika dan Eropa mengenal dan konversi ke Islam. Yang terbaru adalah ISIS, teroris yang entah lahir dari rahim apa. Yang pasti kejam dan biadab. Gerakan ini membawa dan menjual Islam sebagai  magnet dan vakum bagi umat Islam yang utopia dan tidak waras akal dan hati untuk datang bergabung. Katanya berperang untuk menegakkan Negara Islam. Tapi, kok jauh dari ajaran dan seruan Islam?!

 

Pantai Kuta memang indah. Di mananya dan apa bedanya dengan pantai lain?Bicara pantai, saya rasa tidak jauh beda. Bahkan, pantai Lombeng di Madura justru jauh lebih indah. Pasirnya benar-benar putih bersih. Landai nan rata. Pohon cemara udang tumbuh subur. Pohon kelapa juga menyelingi  bagian tertentu. Saya bersaksi bahwa pantai Lombang jauh lebih indah dari Kuta. Tapi mengapa pantai-pantai lain di Indonesia tidak sepopuler di Bali?

 

Kuta atau Sanur menjadi indah karena dukungan hotel, kafe, kuliner dan  tempat belanja oleh-oleh di sekitarnya. Yang membuat indah, terutama adalah kehadiran bule atau wisatawan Eropa, Asia, Australia dan Amerika yang melimpah. Wajah dan tubuh molek para bidadari dari seluruh dunia itulah kunci kemeriahan dan keindahan Bali. Lebih-lebih bila penikmatnya adalah penganut agama yang dalam doktrin agamanya haram melihat aurat wanita. Pasti terlihat indah dan serasa di surga. Cewek-cewek bule tanpa canggung “menawarkan” bodi-bodinya yang aduhai, berlari dan berjemur di  pantai.  Hiburan utama dan terindah bagi  mata laki-laki normal.

 

Saya tidak senang berminat untuk membahas hukum fiqh melihat aurat wanita. Kajian ini sudah saya kenal sejak duduk bangku madrasah di kampung. Bagi yang konsisten urusan aurat wanita, sebaiknya tidak usah piknik ke Bali. Bahkan kalau bisa, tidak usah hidup di dunia modern. Ribet dan susah hidup. Dalam dunia di mana partisipasi wanita sudah menyentuh semua dimensi kehidupan ini, dogma fiqh yang releven adalah kendalikan diri, kuatkan iman dan jilbabi (tutupi) hati dan perasaan kita dari godaan Iblis. Banyak bicara urusan aurat dan jilbab tidak ada gunanya bila hati dan jiwa kita yang kotor. Karena itu, yang lebih bermakna adalah sucikan hati dan jiwa. Bahkan, bila otak sudah “ngeres” dan kotor, semakin berjilbab, justru semakin  membuat penasaran syahwat.

 

Berkaitan isu larangan  jilbab bagi muslimah di Bali muncul beberapa kali di media. Yang terbaru, diberitakan sebuah supermarket melarang karyawannya berjilbab. Bagi saya, bila perusahaan itu swasta alias milik pribadi, sebaiknya karyawan muslimah itu segera hengkang. Hak mutlak pemilik perusahaan untuk menerapkan peraturan berdasarkan pandangan agamanya. Seperti halnya bila umat Islam memiliki usaha dan perusahaan. Hak dia untuk menerapkan aturan dan ketentuan menurut iman Islam. Kita tidak bisa memaksakan Islamic worldview kepada saudara-saudara Hindu. Begitupun sebaliknya. Beda hanya bila perusahaan atau instansi pemerintah. Misalnya seperti kantor pemerintahan atau sekolah. Sudah pasti harus menegakkan konstitusi dan perundang-undangan. Lembaga atau institusi Negara harus mengayomi kebhinekaan iman dan agama. Setara dan adil menjamin hak-hak konstitusional setiap warga Negara. Begitu sejatinya. Urusan jilbab di Bali  bagi saya bagian dari riak-riak dan kerikil yang tidak perlu diprovokasi agar terjadi bentrok lintas agama. Tentu yang terbaik, bila kita menganut ideologi pluralisme. Menghormati iman dan agama apapun sambil bekerjasama dalam urusan peradaban.  Bahkan, boleh melangkah lebih jauh, bila kita berideologi perenialisme. Menerapkan pesan-pesan moral dan kebaikan universal dari ajaran agama dan iman apapun.

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang lebih penting lagi, mari kita serukan kepada sebagian wanita muslimah untuk tidak menjadikan jilbab bagian dari fashion semata. Jadikan ia sebagai proses pertumbuhan kesadaran menutup keindahan tubuh wanita secara indah, tepat dan layak. Sebab, banyak jilbaber melakukan hanyalah bagian dari estetika dan fashion. Kasus Marshanda salah satu bukti. Bahkan ada yang berjilbab sambil menunjukkan keindahan tubuhnya. Ketat dan memamerkan lekuk-lekuk tubuh yang seksi. Persis nubuwat ujaran Nabi yang memberitakan adanya masa dimana kaum beriman menutup tubuhnya tapi pameran tubuh seksi.

 

Selama 3 hari saya di Bali, saya tidak menemukan bukti-bukti intoleransi dan diskriminasi. Pak Gusti, guide yang mengantar rombongan kami sangat baik dan profesional. Dia menunjukkan mushalla dimanapun kami berkunjung. Kamar di hotel Grand Inna pun ada penunjuk kiblat. Di atas Kasur empuk itulah saya menegakkan shalat. Sepanjang perjalanan, saya menyempatkan diskusi dengannya tentang fenomena dan angka kriminal di Bali. Seperti di kota, daerah dan pulau lain di dunia, Bali juga juga merekam angka-angka kejahatan. Ada pembunuhan, perkosaan dan pencurian. Pelakunya warga pribumi Bali, pendatang dan wisatawan asing. Pelakunya bisa Hindu, Muslim, Nasrani dan ateis.

 

Karena itu, seperti sering saya sampaikan, bahwa beragama, khususnya berislam itu bukan barang sekali jadi. Bukan kerja bim salabim jadi kaffah. Tidak cukup sekadar baca syahadatain langsung jadi muslim  yang paripurna. Berislam itu perjalanan menuju Tuhan. Ada fluktuasi ketaatan dan iman. Untuk itulah kita tidak bisa arogan dan merasa paling suci dan benar.  Kita harus istiqamah dan tidak bosan menjadi manusia yang baik, lurus, dan berguna bagi sesama manusia.

 

Masyarakat Bali tentu menerapkan “syariat” Hindu.Pelaku kejahatan dan aksi kriminal dikenai ketentuan-pakem adat dan hukum KUHAP. Pelaku kejahatan disamping memikul sanksi pasal-pasal KUHAP,ia juga dikenai upacara penyucian lokasi/desa/daerah. Kejahatan dan keburukan berarti mengotori desa atau kota. Biayanya dalam rentang 50-300 juta per-acara. Kita masih ingat saat masyarakat Bali mengadakan upacara penyucian pulau tercinta mereka pasca Bom Bali 1 & 2. Ratusan juta dihabiskan untuk upacara suci termaksud.

 

Saya takjub dengan karunia Tuhan bagi masyarakat Hindu Bali. Ulu Watu, Tirta Empul dan Tanah Lot. Indah dan mengesankan. Betapa Tuhan mengilhamkan masyarakat di sana untuk menjadikan puncak bukit yang menghadap laut sebagai pure suci. Saya membayangkan, masjid pun bila dibangun di tempat yang sangat indah itu pasti menambah syahdu dan khusu’ ibadah. Makam Sunan Bonang di salah satu bukit di pinggir pantai  Tuban pun sangat indah. Sewaktu SMP, saya sering ziarah ke makam keramat di beberapa gunung di Madura. Bayt al-Maqdis di Palestina  pun dibangun di atas bukit. Sangat menakjubkan dan menyejukkan hati.

 

Sebagaimana umat Islam, Hindu Bali juga punya air suci. Umat Islam punya air suci Zamzam. Air suci pertama di Tirta Empu, dibawah Istana Tampaksiring. Lokasi ini tepat di lembah yang subur. Tumbuhan dan pohon lebat mengelilinginya. Tepat ditengah lembah itulah pura dibangun. Wajar bila ada air jernih, mengalir abadi dan menyejukkan mata. Umat Hindu meyakini kesuciannya. Beberapa bule mandi dan membawa pulang air itu. Air suci kedua di Tanah Lot. Saya cukup takjub dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin memancur air tawar dari seonggok  batu yang dikelilingi air laut yang asin?Karena penasaran saya mendekati lokasi dan meminta ijin kepada para kuncen untuk mencicipinya. Benar-benar tawar. Beda dengan air luat yang mengelilinginya. Saya tidak habis piker bagaimana teori tawarnya air termaksud?Untuk urusan air suci ini saya sempat berdiskusi mendalam dengan Pak Didin, Direktur Bening Komunika Internasional. Sebagai alumni ITB, ia sangat rasional. Dari 2 teori yang disampaikan, yang logis, bagi saya bila air suci di Tanah Lot itu bila dikaitkan dengan air hujan yang tertampung dalam sebuah ceruk batu. Seakan-akan ada gentong besar menampung  ratus kubik air di sana. Air suci itulah yang mengalir. Tapi teori ini perlu pembuktian dengan cara naik ke pura di puncak bukit batu itu. Sayang sekali, tidak mudah memperoleh ijin melakukan pembuktian itu. Tiba-tiba, saat kami diskusi di lokasi, seorang kuncen mendekatiku. Ia mengatakan, air semodel memancur di tepi pantai yang tak jauh. Air tawar padahal sekelilingnya asin. Saya belum puas. Kapan-kapan saya akan lebih lama lagi di Bali untuk mendapat jawaban yang memuaskan soal air suci itu. Bali itu karunia Tuhan untuk Hindu Bali, Indonesia dan dunia. Jangan rusak dan kotori  Bali. Mari kita nikmati!

4.398 views

One comment

  1. Perlu dikoreksi akhir paragraph ke 3, Hindu adalah agama monotheism bukan politheism.
    “Hyang Widhi (Tuhan) hanya satu tetapi orang bijak menyebut dengan banyak nama”.
    Thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twenty + 19 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>