web

ICRP Selenggarakan Workshop Pemberdayaan Pemuka Agama untuk Kesehatan Reproduksi

ICRP, Bekasi – Persoalan kesehatan reproduksi masih menjadi momok besar bagi masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah angka kematian ibu melahirkan yang masih tinggi, merebaknya penyakit menular seksual, HIV, aborsi, dll. Oleh sebab itu, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bekerja sama dengan HiVOS melaksanakan workshop penguatan hak dan kesehatan seksualitas dan reproduksi yang diikuti oleh para pemuka agama di wilayah Bekasi, Sabtu (23/8/2014). Workshop yang diselenggarakan di Gedung Islamic Centre, Bekasi, Jawa Barat tersebut diikuti oleh para tokoh agama, guru, perwakilan organisasi keagamaan di sekitar Bekasi.

Ketua Umum ICRP, Siti Musdah Mulia, dalam kesempatan tersebut menyampaikan, di Indonesia tingkat perhatian masyarakat terhadap kesehatan reproduksi masih sangat rendah. Hal tersebut terbukti dengan berbagai indikator. Misalnya, masih menganggap wajar meninggalnya ibu saat melahirkan. “Masyarakat kita masih menganggap meninggalnya ibu melahirkan adalah kodrat Tuhan, padahal jika gizi dan kesehatan ibu hamil diperhatikan maka kemungkinan masih bisa diselamatkan” tegas Musdah Mulia.

Selain itu, Musdah juga mengkritik kebudayaan masyarakat dan pemerintah Indonesia yang belum menghargai kondisi ibu saat hamil. “Di Finlandia, Ibu melahirkan mendapatkan cuti 4 bulan sekaligus dengan suaminya. Bahkan mereka masih mendapatkan tunjangan” tegasnya. Sementara di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim justru tidak respect terhadap ibu hamil. Musdah berharap, masyarakat lebih meningkatkan kepedulian kepada ibu hamil sekaligus kepedulian terhadap kesehatan reproduksi secara umum.

Pelatihan ini di fasilitatori oleh Ade Kusumaningtyas (Peneliti Rahima), dengan narasumber di antaranya adalah Dr. Nur Rofi’ah (Dosen Tafsir UIN Jakarta), Romo JN Hariyanto (Agamawan), dan DR Elisabeth (Praktisi Kesehatan).

Memahami hak dan kesehatan reproduksi

Sedikit orang yang memahami apa hak-hak kesehatan reproduksi dan cara menjaga kesehatan organ reproduksi dengan baik dan benar. Tidak jarang pula, ketidaktahuan ini berdampak fatal terhadap kelangsungan hidup seseorang. Hal ini disebabkan anggapan masyarakat bahwa membincang kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual masih tabu untuk diperbincangkan.

Fasilitator pelatihan, Ade Kusumaningtyas, menyatakan bahwa masyarakat banyak menganggap pendidikan seks itu tabu, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Di antaranya adalah, pendidikan seks dikhawatirkan akan membuat anak-anak tergoda mempraktekkan kegiatan seksual tersebut. Selain itu, ada juga pengaruh faktor agama yang lebih menonjolkan aspek moralitas, menjaga akhlaq, daripada mengajarkan pendidikan seksual secara langsung.

Pandangan seperti ini banyak beredar di tengah masyarakat. Oleh sebab itu perlu pemahaman lebih lanjut,  baik dari aspek agama maupun kesehatan. Agamawan Katolik, Romo JN Hariyanto menyatakan hak dan kesehatan reproduksi termasuk upaya untuk meciptakan keluarga yang harmonis penuh kasih tuhan. Dalam ajaran Katolik, seseorang yang sudah terikat dalam perjanjian pernikahan tidak diperbolehkan untuk memisahkannya. Karena jika seseorang sudah mengucapkan janji pernikahan maka orang tersebut harus menerima segala kekurangan pasangannya dengan segala kekurangan. Di dalam ajaran Katolik sebuah keluarga tidak dilarang untuk melaksanakan KB (Keluarga Berencana) asal dilakukan dengan cara alamiah dan tidak diperbolehkan menggunakan alat kontrasepsi tertentu seperti kondom.

Sementara itu, Dr. Nur Rofiah menyatakan bahwa, di kalangan umat Islam banyak pemahaman yang keliru terkait kesehatan reproduksi. Misalnya, di Islam tidak ada perintah untuk melaksanakan sunat perempuan. Tapi di Indonesia sunat perempuan dianggap wajib. Sementara di beberapa negara, seperti Mesir, sudah melarang pelaksanaan sunat perempuan karena dianggap membahayakan kehidupan.

DR. Elisabeth sebagai praktisi kesehatan menekankan sebaiknya masyarakat mengajarkan pendidikan seksual kepada anak sejak dini. Hal tersebut diperlukan sebelum nanti mereka akan mendapatkan pengetahuan seks dari orang-orang yang salah. Ajarkan mereka bagaimana menghargai privasi orang lain. Bagian tubuh mana yang tidak boleh dilihat dan dipegang orang, berani mengatakan tidak pada ajakan seksual, dan latih untuk terbuka terkait persoalan seksual.

DR. Elisabeth juga mengajarkan bagaimana cara yang aman dalam menunda kehamilan, bagaimana cara menggunakan alat kontrasepsi yang baik dan benar. Serta memahami kondisi tubuh berhubungan dengan kesehatan reproduksi.

Pentingnya pemuka agama

Mengingat pentingnya pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi di tengah masyarakat, perlu adanya dorongan dari berbagai pihak untuk menyukseskannya, di antaranya adalah para pemuka agama. Pemuka agama mempunyai andil yang potensial untuk menyadarkan dan memberi informasi urgen terkait hal tersebut.

Relasi pemuka agama dan umat menjadi faktor potensial untuk mendorong kesehatan reproduksi masyarakat. Selain itu, pemuka agama menjadi faktor dominan yang dapat merubah paradigma kesadaran reproduksi. Pengaruh dogmatisme agama yang selama ini andil menjadi momok besar terhadap kesehatan reproduksi akan mulai memudar dengan peran para pemuka agama tersebut. Semoga.

1.505 views

One comment

  1. saya baru pertama kali mengetahui mengenai icrp yang kebetulan searching di google. Dan ga menyangka ternyata di Indonesia punya lembaga yang sangat peduli terhadap toleransi. Semangat terus dan teruskan komitmenmu. Dan salut dengan Ibu Musdah Mulia, selamat berjuang selalu ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 − one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>