IMG_8679

HUT ICRP Ke-14 Diramaikan Oleh Kaum Minoritas

Sudah genap 14 tahun Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) berdiri memperjuangkan perdamaian dengan menjadi aktor penjalin komunikasi lintas agama di Indonesia. Kehadiran ICRP bagi kalangan minoritas menjadi katalisator dalam menciptakan toleransi dan perdamaian agama. Tidak heran, saat ulang tahun ICRP yang ke-14, Kamis (21/8/2014) lalu diramaikan oleh berbagai kaum minoritas di Indonesia. Di antaranya yang hadir adalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Syiah, Baha’i, Sikh, kepercayaan lokal, dll.

Ketua yayasan ICRP, KH Abdul Muhaimin menyatakan dalam usia yang 14 ICRP diharapkan lebih maju dan lantang menjalankan kegiatan-kegiatan yang luhur. Lebih tegas membela hak-hak kaum yang termarjinalisasi. Serta memperkuat kerja-kerja kemanusiaan dengan berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan luhur bangsa Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum ICRP, Siti Musdah Mulia, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang selama ini telah membantu ICRP melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan. Menurutnya, kerja-kerja kemanusiaan seperti ini tidak bisa hanya dilaksanakan oleh kelompok atau lembaga tertentu saja. Semua lapisan masyarakat harus sadar dan mulai bangkit membantu. Menurut Musdah, di masyarakat kita ini masih banyak kelompok silent majority. “

Acara HUT ke-14 ICRP ini juga diisi dengan diskusi terkait kekerasan kelompok militan Islamic State of Iran and Syria (ISIS). Pembicaranya adalah Cendikiawan Muslim, Syafiq Hasyim, dan Cendikiawan Katolik, Romo Purnomo.

Syafiq Hasyim yang baru saja menamatkan gelar doktoralnya di German menyatakan bahwa kekejaman yang dilakukan oleh ISIS sedikit berpengaruh terhadap keislaman di Indonesia. Nama mereka yang mengindetifikasi diri sebagai Islamic State atau Negara Islam dengan sistem kekhalifahan dapat menarik perhatian sebagian kecil kalangan islam di Indoesia. Menurutnya, gerakan ISIS ini perlu diwaspadai namun tidak perlu berlebihan.

Sementara itu, Romo Purnomo menyatakan penggunaan cara kekerasan seperti yang dilakukan oleh kelompok ISIS dahulu memang pernah digunakan oleh kalangan beragama. Contohnya adalah saat perang salib. Namun dogma agama tidak tepat jika dijadikan alasan untuk legalitas kekerasan.

 

925 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

19 − eight =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>