Workshop Hak dan kesehatan reproduksi icrp di Bekasi
Workshop Hak dan kesehatan reproduksi icrp di Bekasi

Workshop Reproduksi ICRP Dinilai Penting

ICRP, Bekasi – Workshop bertemakan“Pemberdayaan Pemuka Agama untuk Penguatan Hak dan Kesehatan Seksualitas dan Reproduksi” di Islamic Center Bekasi, Sabtu (23/8) berlangsung dengan kondusif. Acara yang diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan Hivos Foundation ini dihadiri tidak kurang dari 28 peserta. Meski agenda acara mundur hingga satu jam, peserta nampak antusias mengikuti workshop

Dalam Workshop di kota industry ini, ketua ICRP, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia menyempatkan hadir. Musdah Mulia memberikan sambutan mengawali acara. Intelektual yang  aktif menyuarakan kesetaraan gender ini menekankan pentingnya pentingnya wacana yang dibahas dalam workshop ini berkaitan dengan proses demokrasi di tanah air.

Peserta yang mengikuti workshop tidak hanya berasal dari kalangan muslim saja, ada juga dari Katolik, Kristen, Hindu, dan keyakinan lokal. Lebih dari itu, bahkan acara ini juga diikuti bukan hanya dari ibu-ibu saja, melainkan juga dari lelaki. Ibu Elizabeth yang didaulat menjadi salah satu pembicara mengapresiasi keberhasilan ICRP dan HIVOS mengundang kaum adam terlibat ke dalam isu ini. Pasalnya, Elizabeth menduga, pada umumnya isu kesehatan reproduksi dan kesetaraan perempuan masih dianggap tabu bagi kalangan pria.

Workshop di akhir pekan ini, terdiri dari beberapa sesi. Sesi diskusi mengundang Romo Hari, Dr. Nur Rofiah, dan Ibu Elizabeth selaku pembicara. Dalam sesi ini peserta banyak mempertanyakan mengenai hal-hal yang cukup kontroversial seperti khitan bagi perempuan, isu-isu menyangkut kesetaraan gender dan lain-lain. Sayangnya, waktu yang tersedia tidak mencukupi untuk membahas panjang lebar mengenai tema diskusi.

Pukul 13:00, peserta beristirahat dan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Nampak terlihat masih ada kecanggungan untuk berbaur antara lelaki dan perempuan. Tiap peserta memilih lokasi makan terpisah-pisah. Tidak terlihat ada lelaki dan perempuan yang makan bersama dan membahas tema diskusi.

Namun, kebekuan ini mulai mencair dengan inisiasi fasilitator sejak pukul 14:00. Pasalnya, Mbak Ning yang didapuk menjadi fasilitator dalam acara ini membuat sebuah game. Dalam sesi ini, Fasilitator membagi peserta ke dalam beberapa kelompok secara acak. Otomatis di tiap kelompok terdapat perempuan dan lelaki.

Dalam game ini  tiap kelompok ditugaskan untuk membahas tema-tema dalam diskusi atau seputar wacana yang diangkat dalam diskusi. Menariknya, cara menyampaikan bahasan bukan dalam bentuk presentasi, tetapi drama.

Penyampaian isu-isu dengan cara drama terbukti efektif mencairkan suasana. Bahkan suasana ruangan nampak penuh gelak tawa. Para peserta terlihat begitu menikmati sesi ini. Wacana yang diangkat dalam drama pun beragam, mulai dari homoseksualitas hingga kekerasan pada anak-anak di sekolah.

Peserta diskusi menilai acara workshop kali ini secara keseluruhan sudah baik. Guru Pendidikan Agama Islam dari salah satu sekolah di bekasi utara, Ibu Nur Fadilla misalnya menyatakan acara workshop yang diselenggarakan ICRP dan HIVOS mengcover kebutuhan tenaga dididik memberi jawaban pada permasalahan yang mereka hadapi.

Ibu Fadillah, salah satu peserta workshop kesehatan reproduksi ICRP, di Bekasi

Ibu Fadillah, salah satu peserta workshop kesehatan reproduksi ICRP, di Bekasi

“Semoga acara ini tidak berhenti di sini, karena ini baru menjadi pembuka wawasan kami saja. Kami tunggu kerjasama lanjutan dari ICRP berkenaan dengan wacana ini,” kata Ibu Fadilla berharap.

Bapak Muhaimin

Bapak Muhaimin, salah satu peserta

Acara ini sangat bagus, mencover kebutuhan kami sebagai orang yang bergelut di masyarakat. Kami merasa materi yang disampaikan menjawab permasalahan yang kami hadapi. “Demonstrasi dan simulasi materi terakhir, karena itu adalah fakta yang ada di lapangan.“ Semoga acara ini tidak berhenti di sini. Ini hanya pembuka wawasan saja. Kami tunggu kerjasama dari ICRP.

Muhaimin ketua umum Asosiasi  Persatuan Guru Agama Islam (AGPAI) bekasi yang juga turut hadir dalam workshop menyatakan hal yang senada. “Acara ini sangat penting untuk proses pembelajaran, insyaallah sangat bermanfaat sekali untuk disosialisasikan untuk peserta didik, ucapnya.

Pasalnya, Muhaimin melanjutkan, secara umum masyarakat elum memahami isu mengenai kesehatan reproduksi terlebih jika ditinjau dari pendekatan agama. “Ini sangat penting sekali karena kalau sudah bicara reproduksi itu hal yang sangat tabu. Acara ini sangat membantu,” imbuh Muhaimin.

849 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 + 6 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>