NU dan MU

Kata Pakar, Indonesia Beruntung Punya NU dan Muhammadiyah

Jakarta –
Ketua PBNU, Imam Aziz, berharap pemerintahan Jokowi-JK memiliki political-will untuk menyelesaikan perkara serius di masa lampau. “Apa-apa yang terjadi di masa lampau seperti kasus Kartusuwiryo, Daud Beureuh, DI/TII, dan lain-lain harus segera diselesaikan pemerintahan mendatang,” ucapnya dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh PP LAKPESDAM NU di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis (28/8). Menurutnya, penyelesaian perkara-perkara itu bisa menggunakan mekanisme hukum maupun rekonsiliasi.

Selain itu, Imam Aziz menyayangkan 10 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang terkesan tidak peduli dengan permasalahan di masa lampau. “SBY tak punya sensitivitas pada perkara masa lalu,” sesal Imam Aziz dalam diskusi bertemakan “Membaca Konflik Indonesia dan Dunia”

Didapuk selaku pembicara kedua, aktivis Institute Titan Perdamaian, Ihsan Malik, menyatakan harapan yang serupa. Ihsan menilai, tak diselesaikannya permasalahan masa lampau akan membebani bangsa menghadapi masa depan. Lebih buruk, Ia menduga, konflik yang disulut dengan motif agama memiliki kaitan dengan perkara masa lalu.

Ihsan yang juga merupakan kader NU ini menilai perkara konflik atas dasar agama ataupun etnis tidak akan mudah hilang dari nusantara. Sulitnya menghilangkan permasalahan konflik atas dasar agama maupun etnis, menurut Ihsan dilatarbelakangi tiga hal yang pertama, memiliki kaitan dengan sejarah, berkelindannya persoalan, dan totalitas aktor yang masuk dalam pusaran konflik.

“Isu Agama dan etnik akan terus mewarnai bangsa kita hingga lima tahun ke depan,” imbuh Ihsan. Pria yang sempat beberapa kali meminta saran almarhum Gus Dur dalam menyelesaikan sengketa Ambon ini ragu kapabiltas pemerintah untuk menuntaskan konflik berbasis SARA. “Saya gak percaya pemerintah bisa jadi perekat dari retakan-retakan di masyarakat,” sambung Ihsan.

Solusi menangani perkara semacam ini, lanjut Ihsan ialah menguatkan Intermediary Power. Menurutnya, NU dan Muhammadiyah merupakan aktor potensial untuk terus dikembangkan peranannya dalam menyelesaikan konflik-konflik berbasis agama maupun etnis. “Indonesia itu bubar kalau tidak ada NU dan Muhammadiyah,” ujar Ihsan menyanjung kedua organisasi massa terbesar di tanah air.

“Mengenai upaya perdamaian, Saya kira NU harus berperan bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga dunia,” kata Ihsan.

1.546 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 + three =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>