agama ilustrasi

Mempertanyakan Posisi Islam terhadap “Dua Saudaranya”, JIL undang Pakar

Jakarta –Mengangkat tema diskusi “Apakah Islam mengamandemen agama-agama sebelumnya?”, Jaringan Islam Liberal (JIL) menghadirkan Dr. Sa’dullah Affandy dan Dr. Abd. Moqsith Ghazali. Tema yang didiskusikan Rabu (27/8) merupakan bedah disertasi dari Dr. Sa’dullah Affandy. Suasana Teater Utan Kayu (TUK) nampak sesak dipenuhi peserta yang hadir.

Dalam disertasi yang akan dipublikasikan oleh Penerbit Mizan ini, Sa’dullah menyatakan Islam tidak mengabrogasi atau menihilkan agama-agama sebelumnya. “Islam dipandang sebagai penyempurna, bukan menghapuskan ajaran-ajaran samawi sebelumnya,” ucap dosen pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah itu. Tesisnya, Sadullah sokong dengan ayat-ayat di dalam Quran.

Selain itu, Sadullah menunjukan Islam bahkan bukan saja tidak mengamandemen agama-agama sebelumnya. Ajaran yang dibawa Muhammad pada abad ke-7 Masehi ini, ujar Sadullah, mengakomodir tradisi-tradisi arab jahilliyah.

Sa’dullah menggambarkan kedudukan Islam dengan nasrani dan yahudi seperti sebuah bangunan. Kehadiran Islam, Sa’dullah pandang, sebagai bagian penyempurna yang mengokohkan bangunan sebelumnya. “Atau bisa dipahami Islam menyempurnakan episode agama-agama sebelumnya,” ucapnya memberi analogi lain.

“Islam tidak murni dari Islam saja, tapi juga mengadopsi ajaran-ajaran sebelumnya,” sambung Sadullah.

Didaulat sebagai pembicara kedua, Dr. Abd. Moqsith Ghazali menilai abrogasi merupakan alternatif terakhir jika kompromi tidak bisa dilakukan. “Dr. Sadullah adalah salah seorang yang menolak konsep abrogasi Islam terhadap agama-agama sebelumnya,” ucap salah satu pendiri JIL ini.

Penolakan terhadap konsep abrogasi, lanjut Moqsith, tidak hanya mengenai hubungan Islam dengan agama-agama samawi lainnya, tetapi juga antar ayat-ayat di dalam Quran.

Salah satu tokoh muslim progresif yang senada dengan pandangan itu, Moqsith nyatakan adalah Abdullah Annaim, intelektual asal Sudan. Menurut Annaim, tutur Moqsith, ayat-ayat yang turun di Madinah tidak bisa membatalkan ayat-ayat yang diturunkan di Makkah. “kenapa? Karena kata Annaim, ayat-ayat Makkiyah berisi prinsip-prinsip moral ajaran Islam, sementara ayat-ayat Madaniyah merupakan paparan teknis,” ucap Moqsith menjelaskan pandangan Annaim.

Menyoal konsep pandangan apakah Quran mengabrogasi Yahudi dan Nasrani, Moqsith mengakui, tidak hitam-putih. “Islam memang melanjutkan agama-agama sebelumnya, tapi Quran pada sisi lain memberikan wewenang untuk mengintervensi agama-agama sebelumnya,” imbuh Moqsith. Malam itu, ia sodorkan beberapa ayat yang terkesan mendukung dan mengkritik kedua agama samawi lainnya.

Dalam sesi tanya jawab, Trisno Sutanto yang merupakan tokoh lintas iman dari protestan menilai pentingnya konteks sejarah dalam memahami agama-agama yang serumpun. Karena, lanjut Trisno, fenomena merasa paling sempurna senantiasa terjadi di antara ketiga agama samawi ini. “perasaan lebih sempurna pada dasarnya adalah hal yang wajar,” kata Trisno. Hanya saja, Trisno menekankan agar setiap pemeluk agama memahami benar konteks historis.

Paradigma untuk melihat hubungan antar agama-agama berlandas pada konteks historis ini diamini oleh Moqsith. “Dalam ushul fiqh, kita mengenal kata asbabun nuzul,” ucap Moqsith membenarkan pentingnya sisi historisitas ketika ayat-ayat turun.

“Setiap ayat yang turun punya konteksnya sendiri”, kata Moqsith menegaskan.

2.084 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twenty + nine =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>