intoleransi

Ketika Mendukung NKRI tapi, Tetap Didiskriminasi

Jakarta – Masih adanya diskriminasi terhadap penghayat kepercayaan pada era reformasi memang memilukan. Lebih dari itu, di beberapa kasus para penganut kepercayaan dikabarkan dituding ajaran sesat. Sikap yang anomali dengan semangat konstitusi. Padahal, janji-janji para pengguling orde baru adalah semangat kesetaraan bagi setiap warga negara.

Dalam acara bedah buku “Pendidikan HAM, Demokrasi, konstitusi” di Perpustakaan MPR, Selasa (2/9) Irna Permanasari, wakil ketua perpustakan asia pasifik, menyinggung negara yang melakukan diskriminasi pada agama-agama lokal. “Apa hak negara untuk memutuskan hanya ada 6 agama resmi? Padahal sudah ada ratusan agama sebelum negara ini diproklamirkan,” cetus Irna.

Irna mengaku sempat melakukan penilitian berkaitan dengan salah satu agama lokal yakni sedulur sikap. Dalam temuannya, justru Irna terkejut. Pasalnya, dalam praktik sosial keagamaannya, sedulur sikap menunjukan potensi menuju demokrasi. “Terlihat ada kebiasaan-kebiasaan dan sifat demokratis di agama lokal ini,” ucapnya siang itu.

Bahkan, sambung Irna para penganut agama lokal mendukung NKRI. Ia mempertanyakan pada hadirin di ruangan soal kepantasan sikap negara yang diskriminatif ini. “Apakah kita berhak meniadakan agama-agama lokal yang sebenarnya bahkan mendukung NKRI?,” pungkas perempuan yang berbaju hijau itu.

Sementara itu, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Mohammad Monib, menilai permasalahan keragaman pada praktiknya belum usai. Hal itu tergambar sebagaimana masih adanya diskriminasi pada kelompok minoritas, termasuk penganut agama lokal.

Menurut Monib, perkara utama pada umat beragama menyangkut kebangsaan adalah tidak pahamnya masyarakat mengenai semangat konstitusi. Oleh karena itu, Monib melanjutkan, ICRP konsisten untuk menagih janji-janji konstitusi. “Buku Pendidikan HAM, Demokrasi, dan Konstitusi adalah bentuk komitmen kami untuk membela konstitusi,” ucap Monib penuh percaya diri.

Bedah buku ini terselenggara atas kerjasama antara ICRP dan Perpustakaan MPR. Selain mengundang Monib dan Irna, acara kali ini juga mendaulat salah seorang anggota dewan Ibu Aliyah sebagai pembicara.

1.001 views

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 + 9 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>