Ahmad Nurcholish, Tim Pengajar Religius Studies menyampaikan materi perkuliahan di Universitas Pembangunan Jaya Bintaro Tangerang Selatan
Ahmad Nurcholish, Tim Pengajar Religius Studies menyampaikan materi perkuliahan di Universitas Pembangunan Jaya Bintaro Tangerang Selatan

Belajar Mengenal “Yang Lain”

Oleh Ahmad Nurcholish

“Yang saya inginkan dari mata kuliah ini adalah tumbuhnya rasa toleransi dan menghargai antar-umat beragama yang berbeda tanpa menggoyahkan keyakinan masing-masing.”

Keinginan tersebut ditorehkan Ghaliza Amola, mahasiswi Akuntansi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) saat diminta  menuliskan harapan dan kekhawatiran ketika mengikuti mata kuliah Studi Agama pada Selasa (2/9) lalu. Ini merupakan program hasil kerjasama UPJ dengan Indonesian Conference On Religion and Peace (ICRP). Tahun 2014 ini merupakan tahun ketiga program Religious Studies dihelat di kampus yang bertengger di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan.

Sejatinya, keinginan Amola bukanlah hal muluk dalam konteks keindonesiaan yang mejemuk – yang secara kultural – masyarakatnya memiliki basis nilai untuk hidup rukun dan damai dalam perbedaan selama ratusan tahun sebelumnya. Namun, tidak dapat kita pungkiri pula bahwa pasca Indonesia merdeka justru diwarnai oleh berbagai peristiwa yang merusak tatanan hidup rukun dan damai tersebut. Konflik dan kekerasan antar kelompok masyarakat yang berbeda etnis, suku, ras, dan agama, bahkan aliran keagamaan dalam satu agama telah terjadi ratusan kali di negeri ini.

Tentu kita tidak ingin membiarkan berbagai konflik terus mewarnai kehidupan kita di masa mendatang. Perlu upaya serius bagaimana kebhinekaan yang merupakan anugerah dari Yang Mahapencipta ini tidak lagi menjadi sumber konflik dan pertikaian. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan dan hidup meranba di pengungsian seperti warga Syiah dan Ahmadiyah di sejumlah tempat di Indonesia. Sudah terlalu sering kita mendengar bagaimana sulitnya umat Kristiani mendirikan gereja sebagai tempat ibadah mereka. Bahkan yang sudah berdiri pun kerap mendapatkan indimitasi, perusakan, dan tuntutan untuk segera ditutup.

Pertanyaan pun senantiasa mengiang di telinga kita. Apakah memang agama mengajarkan hal demikian, di mana umat beragama lain tak berhak hidup di negeri ini? Lalu di mana ajaran agama yang toleran, harus menghormati keberadaan umat agama lain, harus menghargai mereka sebagaimana kita menghargai diri sendiri dan keluarga yang selalu kita dengungkan? Apakah memang hanya lips service semata? Atau jangan-jangan kitanya yang tak paham secara mendalam ajaran-ajaran luhur tersebut? Lantas bagaimana pelajaran agama yang diajarkan sejak SD hingga SMA oleh guru-guru agama mereka. Apakah di dalamnya tidak mengajarkan toleransi dan menghargai terhadap keberadaan umat agama lain, atau justru hanya mendoktrinasi murid-muridnya untuk tidak mengakui kebenaran agama-agama di luar yang dianutnya?

Sejumlah pengamat, pendidik dan akademisi memang menjawab satu hal penting: bahwa pendidikan agama di sekolah-sekolah kita, bahkan hingga perguruan tinggi tidak banyak mengajarkan tentang bagaimana hidup bersama, berdampingan dengan umat agama lain yang berbeda. Peserta didik justru terlalu banyak didoktrin untuk hanya menyakini agamanya sendiri dan dalam waktu bersamaan menilai keliru, bahkan sesat ajaran agama yang dianut oleh orang lain.

Karenanya itu wajar jika ketika anak didik kita terjun langsung di tengah masyarakat, meraka gagap dalam memposisikan dirinya di tengah keberadaan orang lain yang berbeda. Mereka cenderung tumbuh menjadi manusia beragama yang eksklusif: yang hanya menilai ajaran agamanya sendiri yang paling benar, sementara yang lain salah, sesat dan tidak akan diterima oleh Tuhan. Keyakinan seperti inilah yang kontraproduktif bagi upaya mewujudkan hidup rukun, damai, nirkekerasan dalam bingkai kemajemukan. Suasana kehidupan umat beragama yang kelihatannya aman, tentram dan nyaman, nyatanya sewaktu-waktu dapat meletup dan berubah menjadi konflik yang mengerikan. Sebagian dari kita mudah dihasut. Sebagian yang lain gampang digoda untuk berperan sebagai pembela agama, pembela Tuhan, namun sejatinya dalam praktiknya telah menginjak-injak martabat ketuhanan dan merendahkan ajaran agama yang mengedepankan nilai-nilai cinta kasih dan perdamaian.

 

Anick HT, salah satu tim pengajar Religius Studies

Anick HT, salah satu tim pengajar Religius Studies

Mengapa Religious Studies?

Beratolak dari hal-hal tersebut maka program Religious Studies didesain dan dilaksanakan di sejumlah kampus, termasuk di UPJ yang hingga 2014 telah berlangsung selama tiga tahun. Format perkuliahan studi agama ini berbeda dengan yang diterapkan secara konvensional di kampus-kampus di Indonesia secara umum. Di mana mahasiswa biasanya dikumpulkan dalam satu kelas dengan mahasiswa yang seagama dan diajar oleh dosen yang seagama pula. Model ini nyaris tak memberi ruang bagi mahasiswa untuk “melihat” keberadaan (umat) agama lain. Berbeda dengan yang dihelat ICRP bersama UPJ ini, mata kuliah studi agama didesain untuk dapat dikuti oleh semua mahasiswa dari berbagai agama.

Dengan model seperti itu mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal “yang lain” yang berbeda dengan mereka, selain memperdalam ajaran agamanya masing-masing. Materi kuliah didesain bertujuan memberikan pemahaman kepada para mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) mengenai konsep, pengalaman perjumpaan, dialog dan ekspresi keagamaan. Sesi-sesi kuliah didesain searah tujuan: menjadikan mahasiswa memahami dan mengaktualkan nilai-nilai (values) agama dalam kehidupan nyata dan dinamis.

Dalam pelaksanaannya sesi awal perkuliahan dimulai dengan: orientasi perkuliahan, introduksi pengertian, unsur dan hakikat agama. Sesi selanjutnya ada penulisan pemahaman dan padangan keagaman, workshop penulisan reflektif, kunjugan (eskursi) ke rumah-rumah ibadah dan menuliskan pengalaman tersebut dalam bentuk reflektif. Untuk menguji dan memperdalam pemahaman keagamaan, akan diadakan diskusi, kelompok kerja, dan presentasi. Rangkaian materi tersebut diharapkan mampu menghantarkan mahasiswa untuk berfikir terbuka, memiliki banyak persepektif mengenai agama(-agama) dan keyakinan di sekitarnya, juga membentuk karakter diri yang selalu berfikir moderat, bertindak terbuka, toleran, dan senantiasa mengedepankan sikap toleransi, menghormati dan menghargai keberadaan keyakinan orang lain. Dari situlah harapan ujungnya adalah mereka siap untuk terjun di tengah masyarakat dan menjadi contoh sekaligus inisiator pengerak perdamaian di tempat masing-masing.

Perkuliahan (saya lebih senang menyebutnya dengan pembelajaran) ini juga didesain untuk menyikapi realitas religio-sosiologis mahasiswa yang berlatarbelakang agama yang berbeda, juga untuk mengenalkan dan menyemaikan toleransi, semangat kebersamaan dalam membangun rasa damai, sejuk dan harmonis, perkuliahan ini menggunakan pendekatan dan perspektif pluralisme dan perennialisme. Pluralisme mengandaikan kita, kaum beriman mampu bersikap positif menghadapi fakta kebhinekaan, dan perbedaan apapun. Bahkan mampu bekerjasama dalam kerja-kerja kemanusiaan. Sementara perenialisme dihadirkan agar para mahasiswa memiliki pemahaman dan keinsyafan akan adanya titik-temu ajaran, esensi-esensi agama, kearifan, dan spiritualisme agama-agama. Akhirnya, diharapkan tumbuh subur dalam jiwa mereka kearifan bahwa agama apapun, merupakan jalan ke arah kebaikan, keharmonisan, kedamaian dalam cahaya Tuhan.

Model perkuliahan ini diterapkan agar para mahasiswa memahami nilai dan pesan-pesan esensial agama serta mengalami langsung perjumpaan, dialog dan memperoleh pesan dan kesan-kesan damai, harmonis tentang agama-agama. Karena realita sosio-religi mahasiswa, dan merupakan fakta bahwa kehidupan keagamaan dan agama-agama ditakdirkan plural, maka perspektif perkuliahan agama pun berbasis multipersepektif: experiential, pluralism and perennial. Artinya, mahasiswa akan dikenalkan, diperjumpakan dengan keragaman agama-agama melalui ekskursi rumah-rumah ibadah dan berdialog langsung dengan rohaniwan dari berbagai agama tersebut.

Harapannya (kelak) dalam diri mahasiswa tumbuh kesadaran dan semangat keberagamaan yang toleran terhadap perbedaan, memiliki spirit kebhinekaan (pluralisme), menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang tercerahkan yang siap membangun dialog lintas agama demi kerja-kerja kemanusiaan dan peradaban yang damai, aman dan harmonis. Sebuah generasi yang amat dibutuhkan bagi Indonesia kita tercinta ini. Itu karena kita tidak rela jika Indonesia dengan segala kekayaan dan kearifan nilai-nilai luhur ini jatuh ke tangan-tangan jahat yang hendak mendesain Indonesia untuk menjadi satu warna. Saya termasuk orang yang tidak rela.

 

Rektor Universitas Pembangunan Jaya, Prof. Gunawan Tjahjono, M.Arch., Ph.D. Saat melakukan sambutan pada pembukaan Religius Studies.

Rektor Universitas Pembangunan Jaya, Prof. Gunawan Tjahjono, M.Arch., Ph.D. Saat melakukan sambutan pada pembukaan Religius Studies.

Persepektif Pluralisme dan Perennialisme

Dalam kolomnya di Republika yang dimuat pada 10 Agustus 1999, Cak Nur (Nurcholish Madjid) menulis demikian:

“Pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekadar sebagai “kebaikan negative” (negativie good), hanya ditilik dari kegunaannya menyingkirkan fanatisme (to keep fanatism at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai  “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban” (genuine engagement of diversities within the bonds of civility). Bahkan pluralism adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya. Dalam kitab suci justru disebutkan bahwa Allah menciptakan mekanisme pengawasan dan pengimbangan antara sesame manusia guna memelihara keutuhan bumi, dan merupakan salah satu wujud kemurahan Tuhan yang melimpah kepada manusia. “Seandainya Allah tidak mengimbangi segolongan manusia dengan segolongan yang lain, maka pastilah bumi hancur; namun Allah mempunyai kemurahan yang melimpah kepada seluruh alam.” (Al-Qur’an, s. al-Baqarah/2: 251).”

Kutipan panjang ini juga dapat kita baca dalam buku Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman karya Budhy Munawar Rachman (Jakarta: Paramadina, 2001, 31). Dalam buknya itu, Budhy menandaskan bahwa ada masalah besar dalam kehidupan beragama yang ditandai oleh kenyataan pluralism dewasa ini. Dan salah satu masalah besar dari paham pluralisme – yang telah menyulut perdebatan abadi sepanjang masa menyangkut masalah keselamatan, kata Budhy,  adalah bagaimana suatu teologi dari suatu agama mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Dalam bahasa John Lyden yang dikutipnya, “Wahat should one think about religions other than one’s own?” (apa yang seseorang pikirkan mengenai agama lain, dibandingkan agama sendiri?). sehingga berkaitan dengan semakin berkembangnya pemahaman mengenai pluralism dan toleransi agama-agama, berkembanglah suatu paham “teologia religionum” (teologi agama-agama) yang menekankan kian pentingnya untuk dapat “berteologi dalam konteks agama-agama” dewasa ini, untuk suatu tujuan:

Pertama, to Clarify the theological reasons why Christian [di sini bisa diganti dengan Islam, Hindu, Buddha, Khonghucu, atau agama lainnya] should enter into religion dialogue, prepared to give account of the hope that is in them and equally prepared to receive through their partners in the dialogue “new depths of understanding of God’s saving ways.

Kedua, to substantiate the thesis that those in the community of faith responsible for teological leadership ought to be involved in interreligious dialogue and ought to work, in close cooperation with all who have been enriched by the interfaith experience, toward the gradual formation of “a dialogical theology” relevant to the particular multifaith situation in their society.

Dua tujuan yang dapat kita baca dalam “The Theology of Religion: A Review of Developments, Trends, and Issues” dalam Christian-Muslim Dialogue: Theological & Practical Issues (Geneva: Dept. for Theology & Studies The Lutheran World Federation, 1998), 82) karya Willem A. Bijlefeld, sebagai dikutip Budhy (Islam Pluralis, 32) ini, menandaskan bahwa berteologi dalam konteks agama-agama mempunyai tujuan untuk memasuki dialog antaragama, dan dengan demikian mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan penyelamatan. Pengalaman ini penting untuk memperkaya pengalaman antariman, sebagai pintu masuk ke dalam dialog teologis yang kini dikembangkan di UPJ ini.

Sementara itu persepektif perennialisme, sebagaimana dikemukakan oleh Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis dalam Agama Masa depan Persepektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995),  digunakan sebagai alat untuk melihat keunikan, perbedaan, dan kesamaan dalam semua agama yang ada di sekitar kita. Perennial dari sudut kebahasaan berasal dari bahasa Latin, perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris, berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi. Istilah perennial biasanya muncul dalam wacana filsafat agama di mana agenda yang dibincangkan adalah, pertama, tentang Tuhan, Wujud yang Absolut, sumber dari segala wujud. Tuhan Yang Mahabenar adalah satu, sehingga semua agama yang muncul dari Yang Satu pada prinsipnya sama karena dating dari sumber yang sama. Kedua, filsafat perennial hendak membahas fenomena pluralism agama secara kritis dan kontemplatif. Meskipun Agama (Religion) – dengan A dan R besar – yang benar hanya satu, tetapi karena ia diturunkan pada manusia dalam spectrum historis dan sosiologis, maka – bagaikan cahaya matahari yang tampil dengan beragam warna – “Religion” dalam konteks historis selalu hadir dalam formatnya yang pluralistic (religions atau agama-agama – dengan r dan a kecil, juga sekaligus menunjukkan plural). Dalam konteks ini, maka setiap agama memiliki kesamaan dengan yang lain, tetapi sekaligus juga memiliki juga memiliki kekhasan sehingga berbeda dari yang lain. (h. 1)

Ketiga, filsafat perennial berusaha menulusuri akar-akar kesadaran religiusitas seseorang atau kelompok melalui symbol-simbol, ritus serta pengalaman keberagamaan. Dengan begitu secara metodologis filsafat perennial berhutang pada apa yang disebut sebagai transcendental psycology. (h. 2). Karena itu dalam pembelajaran ini mahasiswa tidak hanya belajar dan beriteraksi di ruang kelas yang serba terbatas, tetapi juga melakukan ekskursi dengan cara mengunjungi rumah-rumah ibadah yang berbeda itu untuk mengetahi lebih dekat keunikan dan nilai-nilai “sacral” di dalamnya.

 

Direktur eksekutif ICRP, Mohammad Monib, memberikan referensi bacaan untuk mahasiwa terkait perkuliahan Religius Studies di Universitas Pembangunan jaya.

Direktur eksekutif ICRP, Mohammad Monib, memberikan referensi bacaan untuk mahasiwa terkait perkuliahan Religius Studies di Universitas Pembangunan jaya.

Mengajak Memahami Apa Itu Agama?

Dalam kuliah perdana yang berlangsung awal Sepetmber (2/9) lalu saya memberikan pemahaman mendasar tentang “Agama dan Problematika di Sekitarnya.” Di tengah 170-an mahasiswa yang terbagi dalam dua kelas, pagi dan siang itu saya mengajak kembali mereview ingatan para mahasiswa terhadap pengertian apa itu agama dan permasalahan yang kerap mengelilinginya.

Saya memulai dengan bertanya kepada sejumlah mahasiswa, dengan melontarkan pertanyaan, “Apa itu agama?” Jawaban sejumlah mahasiswa itu berbeda-beda. Ada yang menjawab, “keyakinan”, ada juga yang menjawab, “kepercayaan diri manusia”, ada pula yang menjelaskan dengan agak detil, “ajaran yang berasal dari Sang Khalik untuk umat manusia.” Saya sudah menduganya bahwa kita akan mendapatkan jawaban yang beragam. Bahkan ketika kita tanyakan kepada sepuluh orang apa itu agama. Kesepuluh orang itu mungkin akan menjawab berbeda-beda pula. Tergantung pengalaman dan pemahaman masing-masing. Sebagian mungkin saja menjawab secara hati-hati. Bagaimanapun agama juga menyangkut sesuatu yang suci dan pengalaman batin manusia. Belum lagi kalau dianggap memaknai dengan pengertian yang tak umum dan tak biasa. Salah-salah bisa dituduh sesat.

Terus terang tak mudah merumuskan pengertian agama. Usaha memaknai agama, kata Profesor emeritus University of Lausanne, Switzerland, Jacques Waardenburg bukan hanya memerlukan usaha keras, tapi cukup nyali. Selain harus berhati-hatri dalam menyampaikannya.

Ada banyak ragam pengertian agama seperti beragamnya jenis-jenis agama yang tumbuh di dunia. Di seantero dunia, menurut  World Christian Encyclopedia,  terdapat 19 agama besar dunia yang menjadi induk dari 279 kelompok-kelompok besar keagamaan, termasuk kelompok-kelompok kecil. Di Kristen misalnya diperkiraan ada 34 ribu kelompok yang diidentifikasi. (“Religions of the world,” http://www.religioustolerance.org/worldrel.htm ). Masing-masing mengklaim kebenarannya.

Kesulitan menyeragamkan pengertian agama juga terjadi di dunia akademis. Ada ratusan definisi. Tapi, untuk memudahkan, pengertian agama yang saya sampaikan dalam pembelajaran ini  bisa dilihat dalam empat kelompok pendekatan.

Pertama, pendekatan antropologi yang melihat kebudayaan masyarakat tertentu. Kelompok ini memandang aktivitas dan ekspresi keagamaan dipandang sebagai bentuk-bentuk dorongan fisiko-kultural manusia. Misalnya pandangan antropolog Inggris (1832 –1917), Edward Burnett Tylor. Agama menurutnya adalah “kepercayaan terhadap wujud spiritual” atau Allan Manzies yang melihatnya sebagai “penyembahan terhadap kekuatan yang lebih tinggi karena adanya rasa membutuhkan”.

Kedua, pendekatan psikologi, ilmu mengenai kejiwaan manusia, yang berusaha menutupi kelemahan pendekatan pertama. Tak seperti yang pertama. Agama dianggap bukan sekedar dorongan rasa takut dan rasa kagum, melainkan lebih sublim dari itu. Agama menyangkut hubungan batin antara seorang individu dengan kekuataan di luar dirinya. Agama kata filosof dan ahli matematik dari Inggris Alfred North Whitehead (1861-1947) “apa yang dilakukan orang dalam kesendirianya.” William James, filosof dan psikolog asal Amerika (1842-1910) mengartikan Agama adalah “perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia individual dalam kesendirian mereka sejauh hal itu membawanya ke dalam posisi yang berhubungan dengan apapun yang dianggap sebagai sakral”.

Ketiga, pendekatan sosiologi. Sosiologi ilmu yang mengkaji struktur, institusi dan norma dalam sebuah masyarakat. Gampangnya, sosiologi itu memandang masyarakat mirip tubuh. Organ satu dengan yang lainnya terhubung dan membentuk satu sistem. Jika yang satu tak fungsi bisa berakibat pada yang lain.  Dalam pendekatan ini, agama dipandang sebagai sebuah sistem yang terekspresikan dalan kehidupan kolektif masyarakat manusia.

Pandangan Clifford Geertz dalam Religion as a Cultural System masuk dalam kategori ini. Antropolog Amerika yang lahir pada 23 Agustus 1926 ini merumuskan agama sebagai sebuah sistem simbol yang berperan membangun perasaan dan motivasi yang penuh kekuatan, merembes dan tanpa akhir dalam diri manusia dengan menakrifkan konsep tentang tatanan umum eksistensi dan membebat konsep-konsepsi-konsep ini dengan suatu aura faktualitas sehingga perasaan dan motivasi tampak realistis.

Keempat, pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini berusaha menemukan intisari atau hakikat dari agama dan pengalaman keagamaan. Mereka melihat di balik berbagai ekspresi pemikiran, tindakan, dan interaksi sosial. Keberagamaan manusia memiliki nuansa batin yang lebih sekedar persoalan psikologi. Ia sebuah perjumpaan dengan sesuatu yang melebihi dan mengatasi kefanaan dunia, yang suci, dan agung. Pengalaman seseorang atau sekelompok orang bisa berbeda dengan lainnya dan karena itu memahami agama secara berbeda.

Kelima pendekatan teologi. Kebanyakan pandangan ini berkembang dalam perspektif Timur alias wilayah-wilayah di Asia. Agama di sini merupakan hal prerogatif tuhan sendiri. Realitas sejati agama adalah sebagaimana yang dikatakan ajaran agama masing-masing. Agama dilihat dari sisi teologis atau perspektif ketuhanan. Karena itu berbeda-beda antarsatu agama dengan lainya.

Begitulah. Makin banyak pengertian mungkin membuat kita makin bingung. Tapi, baiklah dari keseluruhan pengertian ini, kita perlu mengetahui “kriteria” dan “unsur-unsur” yang biasanya ada dalam agama.

Seperti saat dalam hutan belantara, dari jarak dekat kita bisa melihat aneka pohon, dari kecil hingga yang raksasa. Jenisnya memang beragam. Tak sama. Masing-masing punya ciri dan kekhasan sendiri-sendiri. Tapi coba lihat dari ribuan kaki di atasnya, dari kaca jendela pesawat, hutan belantara itu seperti seragam, hijau, dan rata. Kita bisa mencari criteria-kriteria umum mengenai apa yang disebut hutan.

Namun begitu dalam agama-agama besar, menurut para ahli, ada sejumlah kriteria yang umum dijumpai.

Pertama, keyakinan akan Tuhan atau “Yang Tertinggi. Untuk menyebutnya, setiap agama menamainya beragam. Orang Islam menyebut Allah, yang Hindu menyebut Sang Hyang Widhi. Orang Jawa juga biasa menyebut Allah dengan Gusti Pangeran. Mereka berbahasa Arab menyebut Tuhan dengan Allah, termasuk mereka yang nonmuslim. Dalam Asmaul Husna, nama-nama terbaik Allah, Allah punya 99 nama. Orang  Tapi penduduk Arab yang Kristen juga menyebut Allah. Yang Berbahasa Prancis menyeut Dieu atau Gott untuk yang berbahasa Jerman.Dalam bahasa Ibrani, arti untuk merujuk kata Allah disebut Elohim.

Kedua, sebuah pandangan menyeluruh mengenai dunia dan tujuan-tujuan manusia. Dalam pandangan agama-agama besar, manusia adalah makhluk mulia yang memiliki posisi khusus di antara makhluk lainnya. Islam melihat manusia sebagai makhluk sempurna (ahsan at-taqwim) seperti termaktub dalam Q.S At-Tin: 4. Kata makhluk­ berasal dari akar kata yang sama dengan akhlaq, perilaku baik –bentuk plural dari khuluq. Dalam hadis populer yang diriwayatkan Malik bin Anas dan Ahmad bin Hanbal menyatakan, “Aku tidak diutus ke muka bumi kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang luhur”. Ini menunjukan tujuan penciptaan manusia menurut Islam tak lain membangun manusia yang berperilaku baik. (KH. Hussein Muhammad, Fiqh Perempuan; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dam Gender.Yogyakarta: LKIS, 2001: 18).

Ketiga, kepercayaan mengenai kehidupan setelah mati. Dalam Islam, kehidupan setelah mati dikenal dengan alam barzakh alias alam kubur. Manusia akan diberi ganjaran sesuai amal ibadahnya selama di dunia. Yang bersalah dan berdosa masuk dalam neraka, yang berbuat baik ke sorga.

Keempat, komunikasi dengan “Tuhan” melalui ibadah dan doa. Dalam Islam salah satu ibadah wajib shalat waktu sebagai cara berkomunikasi dengan Allah, Ini juga bentuk ketundukan manusia pada Allah. Dalam Kristen dikenal dengan Kebaktian. Di Hindu dikenal dengan sembahyang, yang juga dipakai umat Islam. Umat Hindu bersembahyang di hari-hari suci yang dilakukan di pura keluarga atau lingkugan.

Kelima, perspektif tertentu mengenai kewajiban moral yang berasal dari kode moral atau dari konsepsi mengenai sifat Allah. Keenam, praktik-praktik yang melibatkan pertobatan dan pengampunan dosa. Ketujuh,  perasaan “keagaaman” mengenai kekaguman, rasa bersalah dan penyembahan. Kedelapan, penggunaan teks-teks suci. Kesembilan, organisasi untuk memfasilitasi aspek korporasi dari praktik-praktik agama dan untuk mempromosikan dan melanggengkan praktik-pratik dan kepercayaan tertentu.

Definisi ini memang berbeda dengan ciri-ciri yang dibakukan pemerintah Indonesia. Agama itu harus memenuhi unsur kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa, nabi, kitab suci, umat dan suatu sistem hukum bagi penganutnya. Ini yang akan membedakan dengan apa yang disebut “aliran kepercayaan”.

Penetapan kriteria itu tentu tak datang ujug-ujug. Ada konteks yang melatarinya. Ia lahir dari pergulatan politik dan berkembangnya kelompok keagamaan yang disebut “aliran kepercayaan” tadi di era 50-an. Sebagian orang khawatir dengan perkembangan kelompok tersebut, lantas minta pemerintah melarang mereka. Ini yang menyebabkan aliran kepercayaan dipandang bukan agama.

Padahal dalam praktiknya kita sering juga menyebut mereka sebagai agama lokal. Berarti agama juga.Yang paling penting dari perdebatan ini sebetulnya, agama dan bukan agama, adalah wewenang para pemeluknya, bukan negara.Tugas negara adalah menjamin agar mereka mendapat hak sebagai warga negara. Memastikan pula agar setiap orang tidak mendapatkan kekerasan dan perlakuan diskriminasi.

 

Takut Iman Goyah dan Pindah Agama

Sebagian besar mahasiswa menyambut baik model studi agama yang berbeda dengan studi agama yang dilaksanakan di sebagian kampus pada umumnya. Dengan metode ini kita berkesempatan untuk bisa mengenal secara dekat  keunikan, ajaran, tradisi, dan rumah ibadah di masing-masing agama. Mereka berharap dengan begitu akan semakin tumbuh rasa memahami sehingga tumbuh pula rasa toleransi, menghargai keberadaan umat agama lain yang berbeda dengan kita.

Namun demikian, ada pula yang khawatir studi ini akan membuat mereka goyang keimannya. “Saya takut iman saya goyang,” demikian disampaikan Andaru Bayu Dwi Pratama. Saya menilai kekhawatiran tersebut wajar dan alamiah. Bagaimanapun bagi mereka yang tidak terbiasa berinteraksi secara aktif dengan ajaran atau nilai-nilai agama orang lain yang berbeda, sementara mungkin pemahamannya sendiri terhadap keyakinan yang dianutnya, kekhawatiran itu sangatlah wajar. “Alih-alih studi ini dapat memperdalam dan meneguhkan iman, justru sebaliknya, menipiskan, bahkan menggoyahkan iman yang tertanam sebelumnya,” begitu mungkin yang berkecamuk dalam sebagian hati mahasiswa.

Mahasiswa lain lebih selangkah lagi. Ia bahkan takut ada keinginan untuk pindah agama. “Saya takut  ada keinginan untuk pindah ke agama lain,” ungkap Ridhoanta Lubis dalam lembar “harapan dan kekhawatiran” yang diminta oleh Tim Pengajar ICRP. Meski tak “separah” Lubis, Jenti justru mengkhawatirkan adanya perselisihan di antara para mahasiswa yang berbeda agama itu. Lebih lanjut ia mengatakan, “imannya tergoyah, saling menjatuhkan agama.” Namun dia tetap berkeinginan bahwa melalui studi ini para mahasiswa dapat saling menghargai antaragama. Dan ini menjadi fondasi utama kita semua.

Saya melihat harapan dan kekhawatiran tersebut sebagai dinamika awal yang justru menjadi sebuah kebaikan lebih lanjut. Yang memiliki harapan tentu mereka akan berusaha dengan serius untuk mengikuti rangkaian perkuliahan studi agama ini. Mereka serius menggali dan memahami tahapan demi tahapan, proses demi proses sehingga menraih apa yang mereka hendak capai.

Yang memiliki kekhawatiran juga menjadi kebaikan baginya. Dengan rasa itu mungkin ia akan lebih berhati-hati, analitis dan kritis setiap apa yang  disampaikan oleh  para pengajar. Meraka tidak sekedar melihat dan mendengar, tapi juga menelaah kembali untuk kemudian merangkainya dalam sebuah kesimpulan setelah melaui rentang pembelajaran. Saya pun pernah mengalami hal-hal semacam ini ketika awal-awal tinggal di Ibu Kota dan beraktivitas di sebuah lembaga studi Islam yang bercorak moderat, bahkan cenderung liberal.

Perjalan masih panjang. Harapan dan kekhawatiran tersebut pada akhirnya akan terjawab. Mungkin tidak semuanya. Hanya sebagian saja barangkali. Namun, fase pembelajaran melalui studi agama berpersepektif pluralism-perennialisme ini akan menjadi pengalaman berharga bagi siapapun yang terlibat di dalamnya. Tak terkecuali tim pengajar, fasilitator dan co-fasilitator, baik dari ICRP maupun yang dari UPJ. Semoga pengalaman itu sesuatu yang bernilai, berharga bagi kedirian setiap kita dan bagi kemaslahatan kita bersama. [ ]

Ahmad Nurcholish, pengampu Religious Studies @UPJ, Manajer Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP

 

 

1.863 views

One comment

  1. Saya sangat setuju dengan uraian di atas yang berjudul mengenal yang lain. Dengan saling mengenal maka akan timbul rasa; 1. ingin saling mengerti/memahami. 2. ingin saling mengenal. 3. ingin saling meghargai/menghormati. 4. ingin saling membutuhkan/melengkapi. Sebab sesungguhnya perbedaan merpakan sesuatu yang harus ada, dan dengan perbedaan menjadi semakin indah. Contoh; 1. Bagaimana kita dapat mengetahui ini nasi dan itu bubur kalau tidak ADA PERBEDAAN, walau semua berasal dari beras. 2. Laki-laki dan perempuan, dapat melakukan kegiatan saling membutuhkan dan melengkapi serta membentuk suatu keluarga karena ADA PERBEDAAN. 3. Bagaimana kita dapat mengenal dia A, dia B, dia C, kalau tidak ADA PERBEDAAN, padahal mereka sama -sama anak kami. Dengan kata lain memang PERBEDAAN sangat kita perlukan, tetapi demi kebaikan (kerukunan, ketenteraman, kedamaian, dan kenyamanan) dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menghargai perbedaan tersebut diperlukan mempelajari inti masalah perbedaan tersebut, hingga akhirnya dapat memahami makna perbedaan tersebut. Bagaimana akan menganggap sesuatu jelek/buruk/jahat dll sifat keburukan, padahal belum tahu tentang sesuatu tersebut, sehingga beranggapan bahwa sesuatu terbaik adalah sesuatu milikku. Hal inilah yang menjadi sifat seseorang menjadi bersifat eksklusip. Hal tersebut termasuk dalam agam, kepercayaan, keyakinan, kebudayaan, dan ideologi. Jelasnya tanpa PERBEDAAN, manusia tidak dapat mengetahui sesuatu, sebaliknya dengan PERBEDAAN manusia dapat saling menyayang, saling membutuhkan, saling menghargai/menghormati, dan lain-lain yang baik (positip) serta sebaliknya saling bermusuhan, saling membenci, dll yang buruk, jelek (negatip). Tinggal bagaimana kita menyikapi dan memilih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five × four =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>