Sejumlah massa menyerang bangunan yang dipakai beribadah beberapa umat Kristen di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (1/6) siang. kompas/haris firdaus
Sejumlah massa menyerang bangunan yang dipakai beribadah beberapa umat Kristen di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (1/6) siang. kompas/haris firdaus

Deviasi Ajaran Agama Tenggarai Konflik

Jakarta – Dalam acara diskusi di Universitas Kristen Indonesia, Jumat (5/9) siang, Imam Syamsi Ali menilai Islam tak berbeda dengan Kristiani, Yahudi dan agama-agama lainnya. “Saya melihat Islam sebagaimana agama-agama lainnya yaitu mengajarkan cinta kasih,” ungkap Imam tersohor di New York itu.

Pada diskusi bertajuk “Dialog Agama dan Perdamaian” tersebut, Presidium konferensi antar umat beragama ini menuturkan adanya konflik antar umat beragama disebabkan oleh adanya deviasi dari inti ajaran agama.

Syamsi Ali juga menyayangkan buruknya media dalam mendorong dialog antar umat beragama. Pria kelahiran Bulukumba 51 tahun lalu ini mengisahkan apa yang terjadi saat ada pembakaran Quran oleh salah seorang pendeta di Negeri Paman Sam yang menyulut emosi dunia muslim. “Media seolah mencitrakan pendeta tersebut mewakili umat kristiani Amerika Serikat,” sesal Syamsi Ali.

Padahal, ujar Syamsi, ia kerap berdialog dengan para pendeta menyoal dialog antar umat beragama. “Saat terjadi pembakaran Quran itu, saya bertemu dengan teman-teman saya yang pendeta-pendeta itu. Untuk meredakan ketegangan bahkan ada empat gereja yang membagi-bagikan Al-Quran pada jemaat,” ucapnya menyanjung inisiasi para pemuka agama di negeri Uwak Sam.

Menjawab pertanyaan peserta diskusi soal perbedaan pandang intra Islam, Syamsi Ali menjawab perbedaan merupakan Sunnatullah. Pasalnya, Syamsi Ali melanjutkan, Islam memberikan ruang untuk melakukan interpretasi. “Belum tentu yang berbeda dengan kita itu salah,” ucap Syamsi Ali.

Meski mengaku belum mendalami soal Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, Syamsi Ali menilai tidak boleh sebuah peraturan bertentangan dengan konstitusi. “Konstitusi kita menjamin kebebasan beragama” kata Syamsi.

Sementara itu Rektor UKI, Maruarar Siahaan, yang juga menjadi salah satu pembicara menduga konflik antar umat beragama karena rentannya agama dipakai untuk meraih kepentingan-kepentingan politik.

Solusinya, menurut rektor yang juga merupakan pakar hukum ini adalah penegakan hukum. “karena tak ada penegakan hukumlah maka terjadi kasus yang menimpa Jemaah Ahmadiyah dan Syiah,” kata Maruar menyesalkan.

Diskusi di ruang teleconference FISIPOL UKI ini disesaki peserta. Nampak beberapa peserta mesti duduk di lantai. Peserta yang rata-rata mahasiswa ini terlihat menikmati paparan kedua pembicara.

1.041 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five × one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>