Imam Syamsi Ali merupakan salah seorang tokoh muslim di New York yang aktif mengkampanyekan toleransi dan perdamaian antar umat beragama
Imam Syamsi Ali merupakan salah seorang tokoh muslim di New York yang aktif mengkampanyekan toleransi dan perdamaian antar umat beragama

Syamsi Ali : Kebebasan dan Agama Bagai Air dan Ikan

Jakarta – Syamsi Ali, mantan Kepala Imam Pusat Kebudayaan Islam New York menganologikan hubungan kebebasan dan agama seperti air dan ikan. “Semakin banyak air dalam kolam, semakin baik bagi si ikan, semakin sedikit air, semakin cepat Ikan mati,” ucapnya beranologi dalam diskusi di Yayasan Lembaga Hukum Indonesia (YLBHI), Jumat (5/9) sore.

Analogi ini, menurut Syamsi, didasari dari pengalaman hidupnya di dua negara yaitu Amerika Serikat dan Arab Saudi. “bukan saya bermaksud membesar-besarkan Amerika Serikat, tetapi di sana saya merasakan kebebasan untuk melaksanakan agama,” ungkap pria kelahiran Bulukumba 46 tahun silam itu.

Sebaliknya, kondisi yang berbeda Syamsi Ali rasakan ketika hidup di Arab Saudi. Beberapa kali Syamsi Ali berdakwah, Ia kerap mendapat peringatan dari otoritas Saudi. Dengan memohon maaf sebelumnya pada peserta, Syamsi Ali menilai yang terjadi di Arab Saudi adalah kemunafikan. Pasalnya, menurut Syasi di negeri asal muasal wahabisme itu yang terjadi adalah keterpaksaan. “Ketika agama sudah dipaksakan maka yang terjadi adalah pembusukan,” ucap Syamsi penuh keyakinan.

Dalam diskusi bertemakan “Mengkampanyekan Toleransi dalam Keberagaman : Melawan Kekerasan dan Intoleransi atas Nama Agama?” sore itu, tokoh muslim yang aktif menyuarakan toleransi dan perdamaian antar umat beragama ini, kebebasan merupakan hal yang penting bagi para penganut agama. “Freedom of Religion is Essential,” ungkap Syamsi menekankan.

Selain itu menyoal hubungan antara agama dan negara, Syamsi Ali menemukan kesamaan antara Amerika Serikat dan Indonesia. “Di Amerika negara harus menggaransi kehidupan beragama. Sebenarnya ini mirip dengan semangat Indonesia sebagaimana tertuang di pancasila dan UUD,” kata Syamsi membandingkan.

Keberagaman etnis dan agama juga menjadi satu hal yang membuat kedua negara, kata Syamsi Ali mirip.
Menyikapi munculnya semangat sectarian dan kebencian atas nama agama di Indonesia, Syamsi Ali menilai merupakan hal yang mengherankan. Pasalnya, keberagaman dalam pandangannya merupakan sunnatullah. “ Maka barangsiapa yang mengaku iman pada Tuhan, tapi anti keberagaman maka ia telah mengkhianati keimanannya sendiri,” tegas Syamsi.

Muhammad Nur Khoirin, Komisioner KOMNAS HAM, yang juga didaulat menjadi pembicara siang itu menilai pengalaman Amerika Serikat terkait kebebasan beragama merupakan hal yang bermanfaat bagi Indonesia. “Pengalaman muslim minoritas harus menjadi refleksi bagi kita,” kata Khoirin menunjuk pengalaman kebebasan sipil di Amerika Serikat.

1.237 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × 5 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>