Uighur

Tentang Etnis Kelas Dua di Negeri Tirai Bambu : Uighur

Uighur adalah salah satu etnis pribumi di kawasan Barat Laut Republik Rakyat China (RRC), Xinjiang. Mereka pada umumnya beragama Islam. Etnis Uighur memandang diri mereka sendiri secara kultural dekat dengan bangsa-bangsa di Asia Tengah.

Perekonomian wilayah ini selama ratusan tahun telah mengalami perubahan dari mulai pertanian hingga perdagangan, dengan perkotaan seperti Kashgar yang berkembang sebagai pusat rute perdagangan yang tekenal, Jalur Sutra.

Pada awal abad ke-20, Bangsa Uighur sempat mendeklarasikan kemerdekaannya. Tetapi, wilayah ini direbut dan menjadi bagian dari Republik Rakyat china pada 1949.

Xinjiang secara administratif dibentuk sebagai sebuah wilayah otonomi di Cina, sama seperti Tibet di bagian Selatan negeri Tirai Bambu.

Para aktivis pro demokrasi menilai kebijakan pusat negeri uni partai ini secara berangsur-angsur membatasi aktivitas keagamaan, dagang, dan budaya masyarakat Uighur di Xinjiang. Beijing dituding telah membuat suasana di Xinjiang tegang setelah terjadi protest di wilayah kaya minyak itu pada tahun 90an. Kembali, RRC melakukan hal serupa pada saat Olimpiade Beijing 2008.

Selama sepuluh tahun kebelakang, banyak tokoh-tokoh Uighur telah dipenjarakan atau mencari suaka politik ke negara asing setelah dituding terlibat dalam aktivitas terorisme. Migrasi yang massif dari etnis Han ke Xinjiang telah membuat Uighur, etnis pribumi, menjadi minoritas kini.

Beijing diduga telah berlebih-lebihan dalam merespon ancaman dari separatis Uighur. Hal itu dilakukan China sebagai justifikasi untuk melakukan represi di kawasan itu.

Salah satu tragedi mengenaskan yang menimpa etnis Uighur terakhir terjadi pada Juli 2009. Pada bulan itu hampir 200 jiwa melayang dalam kerusuhan etnis di Urumqi, Ibu kota administratif Xinjiang. Salah satu hal yang menjadi letupan kekerasan diduga adalah kematian dua orang Uighur setelah ribut dengan etnis han di sebuah pabrik yang berada di Selatan China, Ribuan kilometer dari Xinjiang.

Pihak berwenang menyalah separatis Xinjiang yang berada di luar negara itu atas ketegangan yang terjadi di Urumqi. China secara terbuka menuding personal pemimpin Uighur yang tereksilkan, Rebiyia Kadeer, sebagai penylut kekerasan. Reebiya, atas tudingan pemerintah China, menolak bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan di Urumqi.

Reebiya, seorang Uighur yang hidup di perasingan, menyatakan polisi telah mendiskriminasi protes damai yang menggiring pada kekerasan dan hilangnya banyak nyawa di Urumqi.

Meski Xinjiang telah menerima bantuan investasi dari pusat untuk proyek-proyek energi dan industri, masyarakat Uighur mengklaim tidak merasakan dampaknya secara signifikan. Mereka, etnis pribumi Xinjiang, merasa dikelas duakan oleh pemerintah. Pasalnya, hanya etnis Han yang mendapatkan pekerjaan, sementara ladang-ladang orang Uighur telah dirampas oleh pemerintah China atas nama pembangunan.

Para aktivis lokal dan jurnalis asing selama ini dipantau ketat oleh pemerintah. Hanya ada sedikit sumber informasi independen dari wilayah xinjiang.

(sumber BBC.COM)

1.821 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

thirteen + 7 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>