Wahabi

Wahabi dan ISIS : Saudara Sekandung Yang Tengah Tak Akur

Hampir seluruh pemimpin dunia mengutuk kebiadaban ISIS di Suriah dan Irak. ISIS dinilai sudah tidak lagi menunjukan sisi kemanusian sedikitpun dalam menyikapi perbedaan. Pola pandang keagamaan organisasi teroris ini, banyak pengamat menilai, terinsipirasi dari ideologi Wahabisme. Nah, bagaimana pandangan negara asal muasal Wahabisme terhadap ISIS?

Sungguh aneh tapi nyata, ternyata ulama-ulama Arab Saudi malah menisbatkan ISIS sebagai penerus Khawarijz. Salah satu di antara yang mengatai kelompok teroris pimpinan Al-Baghdadi sebagai Khawarijz adalah Mufti besar Arab Saudi Sheikh Abdulaziz Al al-Sheikh. Ulama Wahabi ini menegaskan bahwa ISIS telah melakukan bid’ah terbesar, dan menyebabkan perpecahan pertama dan paling traumatis di dunia Islam.

Retorika ini sungguh kontradiktif, sebagaimana diketahui bersama, dengan dukungan pemerintah Arab Saudi untuk menebarkan gagasan takfirisme. Takfirisme dikenal sebagai pandangan yang berupaya mengeluarkan pola pandang keagamaan yang berbeda. Oleh karenanya, tak jarang, para pendakwah terkenal di negeri kaya minyak itu masih mendorong sikap tidak toleran terhadap kelompok tertentu yang selama ini juga menjadi sasaran persekusi ISIS di Irak.

Sebagai contoh ambilah pandangan Ulama konservatif Abdulrahman al-Barrak dan Nasser al-Omar, yang memiliki lebih dari satu juta pengikut di Twitter itu. Ulama yang cukup tersohor ini dengan mudahnya menuduh kelompok Syiah menabur “perselisihan, korupsi dan kerusakan diantara umat Islam”.

Bahkan seorang ulama yang merilis fatwa mati bagi media yang tak sepaham dengan garis Wahabisme kini malah menduduki salah satu anggota majelis tertinggi umat Islam di Saudi. Ulama yang sempat dipecat dari jabatan kepala peradilan itu dikenal dengan nama Sheikh Saleh al-Luhaidan.

Ultra konservativisme Wahabi yang disokong oleh kerajaaan Saudi kerap ditenggarai sebagai inspirasi bagi munculnya kelompok yang lebih ekstrim seperti al-Qaeda. Bukan saja menunjukan ancamannya pada dunia, menariknya, Al-Qaeda juga menentang ISIS.

Spekulasi pun muncul. Banyak pengamat geopolitik menilai sikap Saudi yang “mengfatwa” ISIS sebagai kelompok teroris hanya murni politis. Saudi, diprediksi, hanya merasa ketakutan akan munculnya pesaing baru dalam wacana radikal yang masih tetap dipertahankannya.

Duta besar Negeri Raja Minyak ini di London, Pangeran Mohammed bin Nawaf, menulis bulan lalu bahwa itu ”bahkan tidak sesuai” dengan ajaran Wahabi.Selama ini kerajaan Arab Saudi menuding pengaruh gagasan Ikhwanul Muslimin telah menjadi inspirasi pemikiran jihadis. Sikap politik Saudi, ternyata pada saat bersamaan mengecilkan peran Riyadh dalam wacana Islamisme.

Keengganan menindak sikap tidak toleran atas kelompok non-Sunni yang selama ini dipertahankan kerajaan Saudi telah mendorong sejumlah kelompok liberal di negeri itu untuk melakukan kritik terhadap pemerintah diktator yang disokong sekte wahabi itu. Mereka bersama para pengamat asing meminta kerajaan itu lebih berkomitmen dalam mengatasi akar radikalisme dan gejalanya.

“Definisi mereka atas ekstrimisme kami tidak setuju. Masih dianggap biasa untuk menyebut Syiah sebagai kafir. Itu tidak dilihat sebagai ekstrimis,“ kata Stephane Lacroix, penulis ”Awakening Islam”, sebuah buku tentang Islamisme di Arab Saudi.

(Sumber :Deutsche Welle)

4.416 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ten − 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>