isis

Soal ISIS, Jokowi Tak Sejalan dengan Obama

JAKARTA, ICRP-ONLINE.ORG – Persoalan semakin menyebarnya gagasan ekstrim islamic state of Iraq and Syria (ISIS) membuat banyak pemimpin dunia geram. Bagaimana tidak beberapa waktu lalu, Ekstrimis yang terinspirasi dari gagasan wahabisme itu berjanji meluluhlantakan Vatikan sebagai langkah ekspansi menuju Eropa. kemarin , beredar kabar kepala Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron menjadi salah satu incaran kelompok militan itu.

Bertumpuknya kekesalan kepada ISIS, membuat negara adikuasa, Amerika Serikat (AS) kehilangan urat kesabaran. Uwak Sam sudah bersiap turun tangan menghabisi kelompok ini. Di hadapan Kongres, Rabu (10/9) Presiden Uwak Sam Barrack Obama menyatakan kesiapan AS untuk menurunkan militernya ke jantung kekuatan ISIS di Suriah dan Irak. Langkah ini mendapat apresiasi, bahkan dari rival politik Demokrat, Republikan. Suara banyak pemimpin dunia kini pun mendukung langkah Washington menyudahi kegilaan ISIS.

Tapi, suara berbeda dilontarkan presiden terpilih Indonesia, Joko Widodo. Pandangan tersebut, Joko Widodo sampaikan pada mantan PM Inggris, Tony Blair saat kedua tokoh politik itu bertemu di kediaman dinas gubernur DKI Jakarta, Kamis (11/9).

Dalam pertemuan itu, Tony Blair, pendukung penuh serangan AS ke Irak untuk menjatuhkan rezim Saddam Hussein, menggoda mantan walikota Solo itu untuk mengamini pandangan Washington. Pria yang kerap dipanggil Jokowi itu menolak bujukan Tony Blair. Jokowi menyatakan tak sejalan dengan cara Obama menggelar operasi militer ke kawasan itu.

Menangani penyebaran ISIS di tanah air, Jokowi tak sepakat jika harus mengedepankan security approach atau pendekatan keamanan. Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu menyampaikan alternatif lain dalam menuntaskan persoalan ISIS. Jokowi mengisyaratkan, alih-alih mengedepankan pendekatan keamanan, pemerintahannya ke depan akan lebih memakai pendekatan budaya dan agama. “Saya sampaikan kita mempunyai yang namanya culture approach dan religion approach. Tidak hanya security approach,” ujar Jokowi pada awak media.

Jokowi memandang dua model pendekatan tambahan itu penting karena Indonesia adalah negara yang sangat kental dengan nilai-nilai agama dan budaya. Terlebih Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

“‎Kita mempunyai cara sendiri. Ada pendekatan keamanan tetapi ada juga pendekatan budaya dan pendekatan agama. Ini yang berbeda dengan negara lain,” jelas Jokowi.

Tetapi, pada realitanya, ideologi yang terlampau ekstrim dalam banyak kasus begitu sulit untuk melakukan dialog. Nah, bagaimana pemerintahan Jokowi kelak dalam implementasinya, melaksanakan pendekatan budaya dan agama dalam menangkis godaan ISIS pada warga negara Indonesia? kita tunggu tanggal mainnya.

2.388 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

8 + seventeen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>