nikah beda agama

Cerita Mantan Komisioner Komnas HAM Soal Nikah Beda Agama

JAKARTA, ICRP-ONLINE.ORG – Jumat (12/9) Menjelang Maghrib, staf Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) tengah berbincang ringan sembari membereskan ruang aula diskusi di lantai pertama. Dua jam lalu, ruang ini dipenuhi oleh para tokoh lintas iman yang tengah mendiskusikan strategi ke depan merancang keberagaman.

Ketika sedang asyik berbincang, terdengar suara mobil sedan datang. “itu mobil siapa ya?” tanya Nurcholish. Semua di ruang diskusi nampak bertanya-tanya juga. Lalu, seorang berpenampilan jas lengkap tiba dari pintu samping.dan menyapa, “Wah sudah pada pulang ya?”, ujar pria itu.

“Oh iya pak Chandra, baru saja pulang,” jawab Nurcholish. Ternyata pria berpakaian resmi ini adalah Dr. Chandra Setiawan, Ph.D, rektor President University.

Pak Chandra meminta maaf karena terlambat menghadiri acara di ICRP. Pak Rektor kampus ternama di Jababeka itu mengaku baru saja pulang dari acara di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Padahal beliau ingin sekali menghadiri acara di Cempaka Putih Barat XXI no. 34.

Sembari menikmati kudapan yang masih tersedia di meja, Pak Chandra menceritakan pertemuan di kantor MUI yang terletak di jalan Tugu Proklamasi itu. Siang itu, MUI mengundang beberapa tokoh lintas iman di antaranya Ketua MUI, Slamet Effendy Yusuf, perwakilan tokoh agama yakni Philip K Widjaja (Walubi), Nyoman Udayana S. (PHDI) Chandra Setiawan (MATAKIN) dan Jeirry Sumampow (PGI). Pak Chandra merasa kaget dengan perbedaan antara wacana yang tertera di undangan dibandingan bahasan saat berdialog.

“Di Undangan kita diagendakan membahas tema-tema kebangsaan, eh saat diskusi lalu tiba-tiba wacananya diganti jadi soal nikah beda agama. ya kami tidak punya persiapan dong,” ucap Pak Chandra yang mewakili para undangan yang berasal dari tokoh lintas iman.

Melihat mendesaknya pertemuan di MUI, Pak Chandra mengaku mengurungkan niat untuk hadir ke ICRP. Mantan komisioner Komnas HAM itu dalam pertemuan di MUI memberikan dalil-dalil fungsi negara untuk menjawab perkara nikah beda agama.

“Fungsi negara salah satunya adalah mencatatkan semua kejadian penting yang terjadi pada warga negara, termasuk pernikahan,” ucap Pak Chandra mengulang kembali perkataannya ketika di berdialog dengan tokoh MUI. Namun, kata dia, pandangan ini tetap ditolak oleh para petinggi MUI dengan alasan hal tersebut konsep Barat.

Akhirnya, Ia dan beberapa pemuka agama lainnya, memberikan alternatif lain yang bisa diterima oleh MUI. Menempatkan kata pernikahan sebagai suatu hal yang sakral, kata Pak Chandra, terbukti efektif untuk melenturkan sikap MUI. Meski demikian ia mengungkapkan penekanan tentang pentingnya negara untuk mencatatkan peristiwa-peristiwa penting seperti pernikahan.

Perdebatan yang terjadi di MUI antara MUI dan para tokoh lintas iman dinyatakan dalam sebuah kesepakatan. Pak Chandra sore itu meminta staf untuk melihat pemberitaan di Media. “Coba lihat berita sekarang di media,” pintanya.

Setelah membuka sebuah media online dan menemukan pemberitaan yang dimaksud, pak Chandra merasa kecewa. “lho, kok pernyataan saya di ujung tidak dikutip ya?” pungkas Pak Chandra menyayangkan media.

1.142 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

thirteen + fifteen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>