ahok pakai peci

Ahok: Non Muslim Yang Islami

Oleh: Mohammad Monib (Direktur Eksekutif ICRP)

Rasanya menarik berdiskusi buah reformasi politik 98. Kita tahu, aksi ini merupakan puncak  gelombang ketidakpercayaan dan kemuakan rakyat Indonesia. Dimotori oleh para mahasiswa se-Indonesia, gerakan ini sukses meruntuhkan Orde Baru. Rezim yang kokoh dan angker, berkuasa selama 32 tahun. Otoriter dan represif atas hak dan suara rakyat. Pemilik sah dan esensial bangsa Indonesia. Ada  buah reformasi lain yang sangat menarik bagi saya untuk kita diskusikan. Yaitu sistem pemilihan top leader politik secara langsung. Pemilu langsung, tidak diwakilkan kepada, katanya wakil-wakil rakyat yang acapkali lebih banyak mewakili hasrat dan ego dirinya atau partainya. Pemilu langsung ini yang membuahkan tokoh-tokoh populer semodel Jokowi, Ahok, Risma, Ridwan Kamil, Gandjar Pranowo, Arya Bima, dan tokoh-tokoh muda lainnya. Mereka bernyali dan berpihak dan mengabdi kepada kepentingan publik dan rakyat.  Tidak diragukan lagi. Kokoh dan tegar. Proses dan kenikmatan yang  luar biasa inilah yang kini oleh Koalisi Merah Putih sedang diupayakan dibongkar dan direbut kembali untuk sedikit menghibur sakit hati akut, gigit jari, tekor trilyunan karena gagal mengusung Prabowo Subianto. Panglima Lasykar Perang Umat Islam yang gagal jadi Presiden RI.

Tapi, tulisan ini tidak akan membahas sistem dan hal-hal  politik termaksud. Saya lagi minat dan bergairah berdiskusi tentang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Wakil Gubernur Jokowi yang dikenal lugas, jujur, transparan, suka “nyemprot” pejabat tinggi DKI yang terindikasi korup dan buruk performancenya memang seksi. Aksi terbarunya adalah membangkang dari Prabowo dan Partai Gerindra. Berita teranyar yang menarik diskusi ini adalah sekalipun bukan muslim, tidak baca syahadatain, juga tidak belajar rukun Islam, karena ia memang Katolik, Ahok membayar zakat, infaq dan shadaqah. Topik bernuansa teologis dan kontraversial. Apapun, secara sosial-politik itu menarik. Esensinya bermakna dan membawa kebaikan. Jelas ini bukti nyata pluralisme. Sekalipun diharamkan oleh sebagian umat, ia  tumbuh sehat, meluas dan berkembang indah di Indonesia. Secara perennial bermakna dan membantu nasib kaum miskin dan terlantar. Agama dan kepercayaan apapun memuat dan mengajarkan pengimannya untuk menyuburkannya dalam kehidupan nyata. Siapapun pelakunya, aksi dan tindakan itu adalah amal, ibadah yang baik dan indah. Bingungkah kita menyikapinya secara teologis?

Berikut sedikit berita dan pernyataan Ahok atas aksi amalnya itu. “Saya sengaja bicara seperti ini karena terus terang sumbangan dari para pejabat ini kurang. Kalau Islam kasih 2,5% kan zakatnya, orang Kristen ada yang 10%, tapi itu juga saya rasa banyak yang tidak kasih penuh. Orang Islam juga banyak yang gak kasih penuh 2,5%. Kalau semua orang kaya raya kasih penuh zakatnya, orang miskin di Jakarta nggak bakal ada, semua akan tuntas,”, Itulah penggalan ucapan Ahok dalam sebuah kesempatan berinfaq di hadapan para yatim-dhuafa.

 

Al-Qur’an dan Hadis Cahaya Pluralisme dan Perennialisme

Apa yang diteladankan Ahok sangat penting dan bermakna dalam konteks relasi kebhinekaan agama dan kepercayaan di Indonesia. Sebuah iman yang membebaskan dan menginspirasi kita sebagai umat dan bangsa Indonesia. Amal Ahok menjadi bukti nyata mentahnya fatwa MUI tentang: pluralisme, sekulerisme dan liberalisme. Pluralisme yang ditakutkan oleh lembaga berkumpulnya para ulama itu ternyata indah dan membawa manfaat. Umat beragama bahu-membahu berupaya meringankan derita, ikut menanggung nasib umat lain yang secara sosial-ekonomi tidak beruntung dan kekurangan. Amal mantan Bupati Bangka-Blitung ini heroik dalam konteks keragaman agama dan kepercayaan. Sebuah teladan dan merontokkan kesempitan paradigma dalam memaknai spirit keagamaan (religiusitas). Secara organisasi iman, Ahok memang bukan muslim. Tapi, ia merupakan model seorang kafir yang islami dan  “muslim” yang secara teologi Islam ia kafir. Sebuah paradoks. Bisa saja seorang non-muslim yang islami, atau “muslim” yang kafir secara teologi Islam.

Secara sosial, untuk seseorang yang mengabdi kepada umat, rakyat bawah, mereka yang belum beruntung secara harta, yatim piatu, kaum papa dan tertindas, saya tak minat bicara identitas teologi pelakunya.Yang kita butuhkan adalah mereka yang turun tangan, berbagi rizki, pengetahuan dan ketrampilan untuk mengangkat dan memberdayakan ekonomi, pendidikan dan kesehatan kaum terpinggirkan. Tidak penting apa agama dan kepercayaan subyek dan obyek kegiatan amal itu. Dalam konteks good governance, memberantas korupsi yang akut mengakar dalam birokrasi, legislatif, ekskutif dan yudikatif,  kita akan mendukung pribadi-pribadi semodel Ahok. Kita harus akhiri status  “soft state”, negara yang lembek dan permisif terhadap kejahatan uang rakyat ini. Kita malu mendalam, dana kitab suci (holly book) dan dana haji pun digarong oleh para pejabat Kemenag dan wakil rakyat. Raskin di desa-desa pun dirampok oleh aparat-aparat desa. Dunia pendidikan pun tidak lagi mendidik untuk membibitkan benih dan “tanaman” harum berupa pribadi yang jujur dan amanah. Partai dakwah pun tak lebih penjual ayat dan agama. Negara ini benar-benar darurat moral dan akhlak luhur. Dan, Ahok meruntuhkan klaim-klaim sektoral keagaman dan menjadi ayat-ayat Tuhan bahwa apapun agama seseorang, bila ia istiqamah dengan tujuan kehadiran dan esensi ajaran agama, tetaplah seorang moralis, pribadi yang luhur, bermakna dan “khairunnas”, manusia yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Apalagi bagi bangsa yang jiwanya sakit kronis ini.

Menurut berita, sikap dan amal Ahok memang bukan kali yang pertama. Sejak jadi Bupati di daerah asalnya, ia memang sudah meneladankan diri sebagai “the other” yang melekat, diterima dan dibanggakan oleh umat Islam. Fenomena keberadaan, sikap politik dan amal-amalnya sebagai non-muslim mementahkan tafsir dan pemahaman umat Islam yang harfiyah dan tekbook terhadap al-Qur’an dan Hadis. Bahwa dua (2) sumber Islam ini tidak cukup bila dipahami dari sekadar terjemahan dan didogmakan secara bigotry, gelap mata dan kaca mata kuda. Firman Allah ini berlogika dan membimbing secara nalar yang sehat dan mencerahkan. Sebagai contoh, sebagian umat Islam sering memprovokasi sesamanya dengan ayat “walan tardha anka al-Yahudi wala al-Nashara hatta tatthabia millatahum”. Selamanya kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela hingga dirimu mengikuti agama mereka. Itulah terjemahan harfiyahnya. Tetapi, dalam kehidupan nyata, realitanya tidak sebagaimana diprovokasikan.Saya banyak berteman dan berkawan dengan para pendeta, pastur, romo dan bikkhu. Tetapi mereka sangat menjunjung kebebasan beragama dan kepercayaan. Tidak ada hasrat menggiring saya menjadi seorang Kristiani atau Buddhis.

Saya punya kisah nyata. Komunitas dan kompleks Xaverian bermaksud membedah buku saya, Fiqh Keluarga Lintas Agama. Kebetulan acaranya sore. Saat adzan Maghrib berkumandang, panitia menyetop sejenak acara dan mengumumkan dan menyediakan para peserta ruangan dan sajadah untuk shalat jamaah.Yakin saya, memahami Islam secara komprehensif itu memang butuh upgrade dan kuriositas membaca literature keislaman lebih memadai disertai nawaitu untuk menjadi muslim yang menebar blessing, happiness dan rahmat bagi manusia dan kemanusiaan.Lebih jauh, aksi-aksi heroik Ahok yang bersih, transparan, meradang dan bernyali demi menyelamatkan uang rakyat dari para koruptor dan membayar zakat, infaq dan shadaqah jelas bermakna bagi pemahaman keberagaman yang sehat dan produktif. Yakin saya, kita tidak membutuhkan keberagamaan yang lip-service, penuh jargon dan klaim keunggulan.Yang kita dan umat butuhkan adalah buah manis dari iman. Amal-amal kemaslahatan dan kemanfaatan bagi manusia dan kemanusiaan.

Saya pribadi tidak lagi dihinggai kebingungan dengan amal-amal Ahok termaksud. Sebagai muslim, al-Qur’an dan Hadis, dua (2) samudera spirit, wawasan dan sumber inspirasi keislaman saya sangat memadai memasok energi intelektualitas dan spiritualitas. Allah yang maha segalanya itu membentangkan landasan kokoh menyikapi dan menikmati amal-amal umat non-Islam. Mari kita simak: al-Baqarah:2: 62: “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang  jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.” Cukuplah saya mengikuti pemahaman yang dihadirkan oleh tafsir al-Azhar (halaman 211), karya besar Buya Hamka.Beliau menulis:“Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu”.Bukan hanya sekali firman suci ini membimbing kita untuk lapang hati dan berjiwa samudera terhadap agama-agama non-Islam. Mari baca al-Maidah 69: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabi’un, dan Nashara, barangsipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka-cita.” Mengikuti bimbingan dua (2) ayat  suci al-Qur’an terurai di atas cukup bagi saya untuk bahagia dan respek tinggi atas zakat, infaq dan shadaqah Ahok.

Kitab suci al-Qur’an memang menyelipkan ayat bahwa amal-perbuatan orang kafir dan tdiak beriman tak bermakna dan fatamorgana. Sebagai contoh, dalam Surah Ibrahim;18 “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. Mencermati redaksi ayat, tertuju pelakunya kafir. Apa makna kafir dan bagaimana para ulama tafsir mengulasnya?Kafir adalah sikap membangkang dan menolak kebenaran,tidak menfungsikan anugerah panca indra kita searah keridlaan Tuhan. Kita pun yang muslim, bila tidak mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan masuk dalam kriteria kafir. Betapa tidak sedikit aksi –aksi keingkaran dan kekafiran yang kita lakukan. Dalam konteks Ahok, boleh saja bila kita menilainya berteologi kafir, karena ia tidak  bertauhid dan mengakui kerasulan Muhammad. Tetapi, tidak bisa dipungkiri, ia memiliki iman adanya Tuhan, mengkorelasikannya dengan pertanggungjawaban akhirat  dalam bentuk hidup baik, benar dan lurus dalam mengembang amanah kepemimpinan, dan ia membayar zakat, infaq dan shadaqah. Sebuah ayat dalam al-Nahl: 97 bisa saja kita jadikan pijakan melihat hal itu. “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Bahkan, secuil kebaikan dan kemanfaatan yang kita sodorkan kepada sesama, semoga Tuhan menjadikannya pintu maghfirah dan rahmat-Nya. Dia yang maha Rahman dan Rahim itu menggaransi: “faman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarahu, waman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarahu”. Semua kebaikan dan kemanfaatan, secuilpun pun bermakna di hadapan Ilahi.

Dari Hadis Nabi kita mendapatkan cahaya orientasi bahwa melempar senyum tulus kepada sesama manusia, atau membuang onak duri demi menghindarkan terinjak dan selamatnya manusia, merupakan shadaqah. Kebaikan dan tindakan yang diperuntukkan untuk membantu dan menyelamatkan manusia dari celaka, memberi manfaat adalah sebuah amal, dan Tuhan mengapresiasinya.Secara legal formal kita sering menghendaki harus ada nawaitu dan menjadikan syahadatain penghalang untuk menghargai dan mengapresiasi kerja keras, inovasi dan hasil kerja intelektual dan iptek umat non-muslim. Parahnya, sekalipun hidup dan peradaban  kita terbantu oleh kerja-kerja produktif dan hebat mereka, kita tetap sesak dada dan miskin rasa lapang hati untuk menebar kabar bahagia bahwa ampunan dan rahmat Tuhan beyond sangkaan dan dugaan sempit keislaman kita. Seakan alam surgawi selebar kavling-kavling perumahan di dunia.Kita kuatir, ruang kenikmatan dan kebahagiaan beyond imajinasi dan tak terjangkau cerapan panca indra manusia itu tak muat dan penuh sesak untuk selain madzhab, sekte dan firqah keakidahan yang kita ikuti.

Membaca shirah kenabian Muhammad, sejak di Makkah sampai Madinah terhampar hidangan sehat keislaman memuat perspektif dan mental keagamaan yang sehat, arif dan bernuansa pluralistik dan perennialistik. Saya maksudkan dengan pluralistik adalah spirit hidup bersikap positif dan produktif mengolah relasi keagamaan. Saat awal wahyu turun, psikologi Rasul Muhammad tercekam dan tergoncang. Khadijah mendampingi suami tercintanya untuk berdiskusi dengan Waraqah bin Naufal. Salah seorang pendeta yang pernah berdiam di Makkah. Saat di Madinah, setiap pagi Rasul menghilang dari Aisyah hanya untuk menyuapi seorang pengemis Yahudi buta di pojok pasar kota itu. Kisah inspiratif penuh sikap respek terhadap nilai-nilai kemanusiaan adalah saat beliau berdiri hormat saat rombongan kaum Yahudi memanggul jenasah kaumnya yang menuju pekuburan. Bahkan, kontrak  sosial-politik-keagamaan yang popular dengan sebutan Mitzaq al-Madinah, jelas-jelas memberitakan bahwa kaum Yahudi, penyembah berhala (kaum Pagan) dan umat Islam bahu-membahu dan saweran untuk donasi atau biaya perang mempertahankan keberadaan dan  keagaman (security) Kota Nabi. Begitulah fakta dan data sejarah masyarakat dan umat Islam jaman Nabi. Kemana dan angin apa yang meniup keras pijakan dan pondamen pluralisme dan perennialisme menghilang?Kesiapa sesungguhnya umat Islam bertauladan dan bermoral dalam mengelola religiusitas, berbisnis,  relasi sosial-keagamaan dan hidup berbangsa dan bernegara?Tanyakan pada rumput yang bergoyang!

2.405 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

seven − 4 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>