wakil menteri luar negeri Dno Patti Djalal

Wamenlu : Indonesia Bisa Jadi Jembatan Islam dan Barat

JAKARTA, ICRP – Dalam acara yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyinggung pentingnya Indonesia sebagai negara mayoritas muslim dan demokrasi di dunia. “Dulu orang tidak ada yang bicara soal Islam dan Demokrasi, tapi menjelang akhir abad ke-20 hal ini merupakan asset penting bagi Indonesia,” ucapnya di hadapan 500 peserta forum diskusi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (18/9) sore.

Islam dan Demokrasi bagi Indonesia asset, ungkap Dino, karena semakin menguatnya ketegangan antara Timur dan Barat atau Islam dan Barat pada beberapa dekade ke belakang. Indonesia menurutnya merupakan sebuah contoh sukses sebagai negara mayoritas muslim dalam merengkuh demokrasi. “Indonesia bisa menjadi jembatan bagi Islam dan Barat,” sambung mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini.

Dino mengakui perkembangan dunia muslim di timur tengah dewasa ini mengkhawatirkan. Konflik Sunni dan Syiah di negeri-negeri ladang minyak itu kian meruncing. Ia berharap Indonesia mampu untuk terus menjauh dari ketegangan antara Sunni-Syiah yang tengah bergulat di Timur Tengah.

“Kita berusaha untuk tetap menjauh dan immune dari perpecahan sunni-syiah di sana. Bahkan bukan Indonesia saja, tetapi juga kita berusaha agar kawasan Asia Tenggara tidak masuk ke dalam pusaran konflik Sunni-Syiah,” ucap Dino dalam diskusi yang bertemakan “RI Foreign Policy in 21st Century : Looking Back, Looking forward” itu.

Meski demikian sebagaimana kita ketahui bersama, sedikit banyak ternyata pengaruh Indonesia sudah mulai terindikasi masuk dalam pusaran konflik sektarian. Beberapa kasus yang terbengkalai seperti Sunni-Syiah di Sampang, lalu para pengungsi Ahmadiyah di Transito menunjukan rentannya nusantara disusupi konflik dari luar.

Indonesia dewasa ini, tutur Dino, perlu melanjutkan gagasan Bung Hatta soal konsep Bebas Aktif. Ide “Zero Enemy and Millions Friends,” merupakan yang paling relevan. “Saya sering bertanya pada teman-teman saya di luar seperti orang Mongol misal, apakah Indonesia di mata Anda adalah negara musuh? tidak jawabnya,” ucap Dino mengulang kembali percakapannya dengan kawan asal Mongolia. Kenyataan ini, lanjut Dino merupakan potensi bagi Indonesia untuk menjalin hubungan yang baik dengan banyak negara.

“Kita tidak dianggap musuh pada dasarnya oleh semua negara, ini adalah peluang bagi kita,” ucap Dino penuh keyakinan.

Dalam sesi tanya jawab seorang peserta diskusi memiliki pertanyaan menarik. Jika Indonesia tidak dianggap musuh, ucap si penanya, kenapa Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel? Pendirian hubungan diplomatik, lanjut si penanya, akan membuat Indonesia lebih didengarkan dalam menyelesaikan sengketa lahan antara Israel dan Palestina.

“Kita menentang Israel tanpa pengecualian,” tegas Dino. Ia mengaku tak sejalan dengan gagasan menarik Israel ke arah yang lebih dialogis dalam menyikapi ketegangan dengan Palestina. Pasalnya bahkan kata Dino hampir semua rekan-rekan diplomatnya di Timur Tengah semakin pesimis dengan keras kepalanya Israel.

Meski demikian Dino memberi sinyal kuning pada kasus ini. “Jika Palestina sudah merdeka, baru kita mungkin akan mengakui Israel,” ucapnya.

Sebagai informasi, pada Era Presiden Abdurrahman Wahid, Indonesia sempat berupaya untuk menjalin hubungan konsuler dengan Tel Aviv. Namun, wacana ini gagal karena mendapat tudingan macam-macam yang tidak mendasar.

 

 

 

 

1.108 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

14 + 18 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>