Kantor Kemenag RI

Lukman Hakim Kian Digadang Jadi Menag

JAKARTA, ICRP – Saat kedua partai Islam, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berseteru memperebutkan kursi menteri agama di kabinet baru, banyak pihak yang berharap presiden terpilih Joko Widodo tetap mempertahankan menteri agama kini, Lukman Hakim Saifudin, di posisi yang kini ia jabat. Pasalnya, kader partai kabah itu dinilai memiliki pandangan yang progresif dalam banyak isu, terutama hal-hal berkaitan dengan hak-hak minoritas.

Lukman, yang menjabat pada Juni lalu setelah menggantikan tersangka korupsi haji, Suryadharma Ali, telah mendapat sanjungan dari berbagai pihak mulai dari penganut agama-agama minoritas dan aktivis toleransi antar umat beragama. “Komitmen Lukman untuk menegakan konstitusi yang melindungi kelompok-kelompok minoritas di negeri ini patut diapresiasi,” ucap Hendardi, ketua SETARA Institute.

Segera setelah dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Lukman menyelenggarakan sebuah pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan kelompok-kelompok minoritas seperti Bahai, Syiah, Ahmadiyah, Sunda Wiwitan, dan Parmalim. Pertemuan ini merupakan upaya Lukman untuk menyentuh mereka yang selama ini mengalami diskriminasi.

Lebih lanjut, Lukman juga telah mendapat apresiasi yang tinggi atas ketegasan sikapnya menghadapi radikalisme, termasuk kecamannya terhadap berkembangnya dukungan di tanah air pada ISIS dan desakannya agar masyarakat Indonesia tidak bergabung dengan kelompok teroris itu.

Kini, Kementerian Agama tengah menylenggarkan Forum Group Discussion (FGD) bersama kelompok-kelompok penganut agama minoritas dengan  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mempromosikan dialog antar iman. Diharapkan, upaya ini bisa menghasilkan sebuah road map untuk membabat kekerasan atas nama agama di tanah air yang merupakan warisan Suryadharma Ali. 

“Dia (Lukman) jelas jauh lebih baik ketimbang pendahulunya, Pak Suryadharma Ali yang alih-alih menyelesaikan persoalan diskriminasi atas nama agama malah ikut menjadi bagian dalam persoalan dengan pidato-pidato kebenciannya,” ucap Hendardi pada Minggu (21/9).

Hendardi menyatakan bahwa Suryadharma kalah telak jika dibandingkan Lukman. Pasalnya, Suryadharma Ali kerap melakukan blunder dalam pernyataan-pernyataanya yang kontroversial. Mantan Ketua Umum Partai Kabah itu, sebagai contoh, mengungkapkan Syiah sebagai ajaran sesat karena menyimpang dari ajaran Islam kebanyakan.

“Secara pribadi saya mendukung terpilihnya Pak Lukman untuk menjabat menteri agama di pemerintahan baru. karena kita belum menemukan kandidat yang terbukti mendukung kelompok-kelompok minoritas,” tambah Hendardi.

Bona Sigalingging, anggota jemaah GKI Yasmin di Bogo, juga mengutarakan hal yang senada dengan Hendardi.

Sebagaimana diketahui bersama, GKI Yasmin tetap tersegel selama sepuluh tahun lamanya meski mendapat izin dari Mahkamah Agung.

“Berbeda dengan Pak Suryadharma yang menjanjikan pembukaan gereja kami sejak 2011, Pak Luman tidak membuat janji apapun yang tak bisa ia janjikan selama pertemuan dengan kami. Tapi, kami merasa yakin bahwa banyak hal akan lebih baik baik di bawah komandonya. Dia orang yang terbuka dan pendukung keberagaman,” ungkap Bona. (The JakartaPost.com)

801 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 + eleven =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>