Salafisme

“Salafisme, Gerakan Aneh Pada Abad Modern”

JAKARTA, ICRP – Aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Novriantoni Kahar menilai orang Salafi sebagai orang aneh pada era modern. Pernyataan itu ia sampaikan dalam kelas pluralisme di Teater Utan Kayu, Jumat (26/9) di hadapan 20 peserta kuliah.

Lebih lanjut Mas Novri, sapaan Novriantoni Kahar, keanehan gerakan salafisme bisa dilihat mulai dari cara berpakaian hingga cara memelihara janggut tebal yang terkesan berlebih. Dalam Kuliah sesi pertama bertajuk “Telaah Atas Ideologi Islam Radikal”, Mas Novri memberikan gambaran sudut pandangan kaum Salafi. ” Bagi Salafi dunia itu gelap. karena ada kekafiran dimana-mana,”  ucapnya.

Karenanya, Novri beranggapan, adalah hal yang tidak mengherankan kalau kaum Salafi senantiasa menilai buruk masyarakat. “Menjadi salafi menjadi manusia yang menjaga jarak dengan realitas sosial,” kata dosen di Universitas Paramadina itu.

Salafisme, kata Mas Novri, menjadi pandangan keagamaan yang paling fenomenal pada abad ke-21. Bahkan, popularitasnya kini melampaui Ikhwanul Muslimin. ” Salafisme lagi naik daun, dimana ISIS menjadi pucuknya,” ujar Novri.

Kebiadaban seperti yang dipertontonkan ISIS beberapa waktu lalu dengan menggorok wartawan asal Amerika Serikat, papar Novri, adalah suatu hal yang tidak mengherankan di kalangan Salafi. “Tindakan potong leher itu bukan khas ISIS, tapi juga di Saudi juga demikian,” sambung Novri.

Novri menilai Arab Saudi adalah pangkal dari menguatnya paham Salafisme ke banyak negara muslim. Berdasarkan beberapa laporan Novri meyakini, negeri petro dollar itu tak sedikit memberikan anggaran pada kelompok-kelompok jihadis di dunia. “Prinsip Saudi cuma satu, yang penting tidak bikin recok di dalam negeri,” sindiri Novri pada Monarki absolut itu.

Membandingkan apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Suriah dengan Irak, Novri melihat sebaiknya kelompok Salafi diperkenankan masuk dalam kontestasi politik formal. Pasalnya, kelompok Islamis atau Salafi memiliki kecenderungan untuk menjadi jauh lebih radikal ketika pintu-pintu politik tertutup. Ia berargumen dengan masuknya kelompok Islamis ke dalam politik, maka ia akan semakin pragmatis.

“Keberadaan kaum Islamis di politik formal senorak apapun baik belaka. Ketimbang membiarkan mereka berada di luar kancah politik yang formal,” kata Novri.

 

1.210 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

6 + 12 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>