Hari Kedua PID, Peserta Kunjungi Gereja Tua

JAKARTA, ICRP – Pada hari kedua, Minggu (28/9), Peserta Peace in Diversity (PID) diajak mengunjungi salah satu gereja tertua di Ibu kota, Gereja Tugu.  Nyaris hampir  tiga abad, Gereja Kristen yang menjadi salah satu destinasi pariwista budaya di ibukota ini masih kokoh berdiri.

Sampai di lokasi, para peserta tidak bisa langsung memasuki gereja. Pasalnya, tengah ada jadwal ibadah jemaat gereja. Menunggu selesai jemaah beribadah, 20an mahasiswa-mahasiswi yang perhatian pada isu keberagaman ini menikmati suasana lingkungan gereja.  Di lingkungan gereja terdapat makam-makam tua. Tertera di batu nisan makam-makam itu nama-nama orang Portugis.

Berdasarkan selebaran yang didapat oleh redaksi icrp-online.org gereja tua ini memang dibangun oleh keturunan orang-orang portugis. Bahkan gereja ini pada awalnya merupakan gereja katolik.

Kurang lebih 45 menit menanti, para jemaah selesai beribadah. Para peserta antusias masuk ke gereja. Wajah-wajah penasaran terlukis di beberapa peserta. Kala ditanya redaksi, beberapa mengaku baru pertama kali masuk gereja.

Peserta PID duduk di tiga baris pertama bangku gereja. Mereka disambut oleh Ketua 2 majelis Jemaat gereja, Bapak pdt. Alfonso. Pria keturunan Batak itu kaget dengan kehadiran lebih awal para tamunya siang itu. “Lho kan di jadwal katanya mau datang sekitar jam dua?” tanya Pak Alfonso. Ia mengaku belum mempersiapkan banyak hal untuk menyambut kehadiran tamu di Gereja Tugu.

“Kami belum selesai ini persiapan menyambut teman-teman tamu dari Wahid Institute,” sambung Alfonso.

Mengawali bahasan, Alfonso sekilas mengenang sosok Abdurahman Wahid. Di mata pendeta ini, Gus Dur, panggilan Abdurrahman Wahid, adalah sosok yang luar biasa. Gus Dur, Bagi Alfonso, menjadi tokoh yang dicintai jemaat gereja Tugu. Pasalnya, ulama yang banyak dianggap orang wali ini, Gus Dur merupakan sosok yang secara serius memperjuangkan perdamaian antar umat beragama.

Alfonso berharap semangat perdamaian yang digulirkan Gus Dur menjiwai banyak orang. “Kita memimpikan tidak ada diskriminasi antara muslim dan non-muslim,” ucapnya. Menurutnya, sebagai sebuah negara, Indonesia tidak boleh takut dengan perbedaan. “Yang penting dari cita-cita kita bernegara kan presatuan dan perdamaian,” jelas Alfonso.

Lebih lanjut, Alfonso menilai pada hakikatnya semua agama mengajarkan kebaikan. Karenanya, ia berujar, adalah hal yang paradoks ketika antar umat beragama harus berkonflik. “Agama apapun kan tujuannya baik, ngapain saling memusuhi,” ucapnya.

Alfonso menambahkan gereja Tugu menjadi salah satu contoh toleransi antar umat beragama. Tahun 2011, tuturnya, wahana budaya ini sempat menyelenggarakan deklarasi toleransi antar umat beragama. Kala itu beberapa tokoh yang hadir di antaranya Mantan menteri luar negeri, Prof. Dr. Alwi Shihahb dan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraadj.

Tak terasa hampir 2,5 jam para peserta PID menghabiskan waktu di wahana budaya Gereja Tugu. Para peserta pun memohon pamit pada pengurus gereja, karena ada kunjungan ke rumah ibadah lainnya. Mengakhiri pertemuan siang itu, para peserta bersama pengurus gereja menyempatkan diri untuk berfoto bersama.

 

 

909 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twelve + thirteen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>