Workshop kesehatan reproduksi di Bogor
Workshop kesehatan reproduksi di Bogor

ICRP Laksanakan Workshop Kesehatan Reproduksi di Bogor

Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) kembali melaksanakan kegiatan workshop pemberdayaan pemuka agama untuk penguatan hak atas kesehatan ‎reproduksi perempuan. Kegiatan yang dilaksanakan di gedung Graha Keadilan, Bogor , Jawa Barat tersebut adalah kegiatan kedua setelah ‎workshop yang sama dilaksanakan di Bekasi pada 21 Agustus lalu. Kegiatan yang digagas ICRP ini bertujuan ‎untuk membangun ‎pemenuhan dan perlindungan hak kesehatan reproduksi melalui para pemuka agama. ‎

Direktur Eksekutif Indonesian Conference on Religion anda Peace (ICRP), Mohammad Monib, menyatakan bahwa ‎sudah waktunya agama-agama di Indonesia saling bantu membantu tentang banyak hal. Salah satunya adalah ‎kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi merupakan isu penting yang kini dihadapi oleh masyarakat. Angka ‎kematian ibu melahirkan, kekerasan seksual, hamil di luar nikah merupakan kejadian-kejadian yang sering ‎mengancam masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat harus memahami seperti apa persisnya persoalan kesehatan ‎reproduksi tersebut. ‎

Selain itu, Monib menegaskan, dalam acara ini nanti para peserta juga dapat membahas mengenai pernikahan ‎beda agama. Isu ini merupakan isu sedang menjadi bombastis di media massa. Narasumber yang akan datang ‎salah satunya adalah KH Hussein Muhammad. Beliau adalah Kiai yang memahami literasi klasik terkait ‎persoalan pernikahan beda agama, kesetaraan gender, dan hak-hak kesehatan reproduksi perempuan. Selain Kiai ‎Hussein, hadir pula I Ketut Sumarta. Beliau adalah salah satu tokoh agama Hindu. Beliau akan menyampaikan ‎hak-hak kesehatan reproduksi berdasarkan tafsir agama Hindu. ‎

Acara ini difasilitatori oleh Ade Kusumaningtyas atau yang akrab disapa Nining. Nining adalah peneliti di Pusat ‎Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan, Rahima. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang ‎berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam perpektif Islam. Rahima didirikan untuk merespon kebutuhan ‎informasi mengenai gender dan Islam. ‎

Adapun pembicara dalam workshop ini adalah I Ketut Sumarta (Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia) dan KH Hussein Muhammad (Komisioner Komnas Perempuan).

Menurut Ketut Sumarta, Dalam ajaran Hindu, kesehatan adalah utama dan pertama. Proses reproduksi memiliki arti yang sangat ‎penting di dalam ‎kehidupan manusia. ‎ Tidak hanya itu, jenis perkawinan, dalam pandangan Hindu, juga akan menentukan hasil reproduksi. ‎

Agama hindu mengenal ‎reinkarnasi artinya kelahiran baru adalah proses menuju kehidupan yang lebih ‎baik. ‎Seorang anak yang lahir dari perkawinan terpuji akan membebaskan 10 tingkat ‎keturunan nenek ‎moyangnya dan 10 keturunan anak cucunya. Vibrasinya akan ‎mempengaruhi 21 tingkat kelahiran karena ‎fungsi itulah agama hindu mengajarkan ‎bahwa fungsi kelahiran mengajarkan fungsi keselamatan.‎

Proses reproduksi merupakan peta atau kodrat, laki-laki ditetapkan untuk menjadi ‎ayah dan perempuan ‎ditetapkan menjadi ibu oleh karena itu ditetapkan upacara ‎keagamaan. Yang harus dilakukan seorang ‎suami bersama dengan istrinya.

“Tidak bisa ‎hanya berdasarkan cinta saja atau kesepakatan duniawi saja” ungkap Ketut Sumarta.

Sementara KH Hussein Muhammad menyatakan beberapa isu krusial terkait kesehatan reproduksi seperti penolakan istri ketika diajak berhubungan badan oleh suami. Beberapa penafsir memang menyatakan istri wajib melayani suami ketika suaminya meminta.

“Ada pandangan begini, jika istri menolak maka dia akan dikutuk malaikat sampai pagi” tegas Kiai Hussein.

Lantas bagaimana jika istri dalam keadaan capek atau sakit? Menurut Kiai yang berasal dari Cirebon ini istri boleh tidak melayani suami jika dalam kondisi demikian. Karena menurutnya jika dipaksakan akan membawa madlarat dalam bentuk kesakitan pada istri tersebut.

Kiai Hussein juga menyatakan bahwa dirinya mendukung gerakan Keluarga Berencana (KB) yang digalakkan oleh pemerintah. Alasanya adalah program tersebut sejalan dengan program kesehatan reproduksi.

Selain itu, Kiai Hussein juga mengungkap persoalan aborsi yang menjadi kontroversial di tengah masyarakat sekarang ini. Aborsi sekarang telah dilegalkan pemerintah dengan aturan yang ketat dan diperbolehkan jika janin dalam kandungan masih dibawah 40 hari. Kiai Hussein menuturkan sebaiknya aborsi harus dilihat latar belakangnya. Menurutnya, aborsi boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat, seperti menyelamatkan nyawa ibu, dan lain-lain.

Kegiatan ini, diikuti oleh sekitar 50 orang peserta. Mereka terlihat antusias mengikuti acara ini. Banyak diantara mereka yang menyatakan belum pernah mendapatkan pelatihan seperti ini dan mereka menganggap bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat.

Workshop ini dimulai pukul 09.00 sampai pukul 17.00 WIB dengan peserta para pemuka dari berbagai agama di Bogor. ‎Seperti Islami, Katolik, Kristen Protestan, Konghucu, Hindu, dan beberapa mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama ‎Islam Nahdlatul Ulama Parung, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Alawiyah, Bogor.

 

1.538 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

sixteen − nine =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>