Tamrin Tomagola

Sosiolog UI : Pluralisme Bukan Produk Impor

JAKARTA, ICRP – Prof. Dr. Tamrin Tomagola menegaskan Indonesia tak mungkin mengelak dari pluralisme. 653 suku yang membentuk semangat kebangsaan kita, kata Tamrin, membuat pluralisme sebagai hal yang membumi. “Pluralisme bukan produk impor,” ucap Tamrin. Pernyataan itu Tamrin lontarkan dalam diskusi, “Membaca Arah Kebijakan Politik Kebhinekaan Jokowi-JK” yang diselenggarkan oleh Maarif Institute, Selasa (30/9).

Menurut intelektual asal Maluku ini, ada 3  lapis tantangan Jokowi dalam menjalankan proyek politiknya di bidang pluralisme. Dari segi wacana pluralisme terancam dengan menguatnya kelompok radikal berbasis agama. Ditinjau dari sistem kelembagaan, juga menunjukan hal yang serupa. “Ini agak menyeluruh dan mengkhawatirkan, lembaga-lembaga negara bahkan sudah dikavling-kavling oleh semangat identitas primordial entah itu agama atau suku,” sesal Tamrin.

Di ranah sosial, Tamrin melihat ada harapan bagi pluralisme. Hal tersebut, Tamrin contohkan dengan kasus pernikahan. Berdasar temuan, Tamrin mengungkapkan 10 persen pernikahan di tanah air merupakan nikah beda agama. “Jadi nikah beda agama ini secara sosial telah menjadi kenyataan, hanya masih takut untuk dinyatakan, takut diserang FPI,” ucap Tamrin.

Sementara itu, ditinjau dari keseriusan Joko Widodo ditinjau dari teks visi-misi, Sosiolog Universitas Indonesia (UI) memberi apresiasi. Pasalnya, Jokowi-JK memandang persoalan pluralisme bukan sebagai hal yang parsial. Hal ini, lanjut Tamrin, bisa dilihat dari awal lembar visi-misi Jokowi-JK menilai persoalan-persoalan krusial di nusantara. “Dari awal Jokowi-JK menegaskan masalah pokok bangsa ini adalah pertama, absennya negara dalam melayani warga negara, kedua, terkoyaknya ekonomi, dan terakhir makin maraknya intoleransi,” ucapnya.

“Jadi dua dari tiga langsung berkenaan dengan masalah pluralisme,” sambung Tamrin.

Secara moril semangat pluralisme pun didukung oleh ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri. Putri kandung sang proklamator itu, ungkap Tamrin, memberi pesan pada Jokowi untuk menjaga tiga hal.

“Beliau menitipkan pada Jokowi tiga hal Pertama, UUD 45 dan Pancasila, NKRI, terakhir toleranasi antar suku dan agama,” jelasnya.

Maarif Institute selain mengundang Tamrin Tomagola juga turut mengundang tokoh lintas iman, Profesor Musdah Mulia menjadi pembicara. Acara yang dilaksanakan di kantor Maarif Institute itu dihadiri sekitar 20 peserta. Sejumlah peserta berisi awak media.

 

 

 

 

680 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two + one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>