Di Aceh, Perempuan dipaksa negara untuk berhijab

“Berhijab Tidak Boleh Dipaksakan Negara”

JAKARTA, ICRP – Nong Darol Mahmada menegaskan bahwa konsep hijab bukan asli berasal dari Islam. Pernyataan itu Ia lontarkan dalam kuliah pluralisme sesi ke-2 Jaringan Islam Liberal (JIL), Jumat (3/10) di Teater Utan Kayu. Argumentasinya, ujar perempuan yang kerap dipanggil Teh Nong ini, adalah adanya pakaian yang serupa di banyak tradisi dan agama-agama. Bahkan, papar salah satu pendiri JIL ini menyatakan tradisi hijab jauh ada sebelum agama-agama samawi dikenal.

Adapun kewajiban perempuan berhijab dalam agama Islam sebagaimana tertuang di Surat Al-Ahzab dan An-Nur tidak terlepas dari konteks kehidupan sosok Muhammad. “kala itu kerap kali istri nabi digoda, kondisi keluarga nabi tidak aman karena banyak fitnah, oleh karena itu turunlah Al-Ahzab 33 :59,” jelas Nong.

Terlebih bentuk hijab yang digambarkan dalam Quran tidak lepas dari konteks budaya masyarakat Arab pra-modern. Tidak mengherankan, menurut Nong, bentuk dari hijab itu sendiri dalam Islam beragam di banyak negara.

Di Indonesia, papar Teh Nong, tradisi berhijabnya berbeda dengan tradisi di Timur Tengah. Pada kesempatan itu ia menampilkan beberapa bentuk hijab dari masa ke masa di tanah air. Nampak terlihat ada perbedaan bentuk hijab yang dipakai periode awal kemerdekaan hingga pasca reformasi. “Ketika saya di pesantren, saya pakai hijab juga tapi tidak sama seperti jilbab serius ala teman-teman PKS,” ujar lulusan pesantren Cipasung itu disambut senyum para peserta.

Mulainya jilbab serius, kata Istri Guntur Romli itu, trend di tanah air adalah ketika pecahnya Revolusi Iran. “Banyak pihak mengakui pengaruh Revolusi Islam Iran menyebabkan dunia muslim seolah terketuk untuk mengekspresikan keislamannya, termasuk ke Indonesia yang pada tahun 80an masih mengalami represi oleh rezim Soeharto” paparnya.

Karena itu, Teh Nong melanjutkan, kerap kali hijab menjadi alat perlawanan politik terhadap rezim.

Selain itu, Teh Nong menyinggung pula suara-suara syariatisasi perda yang bersinggungan dengan gaya pakaian perempuan. Ia secara terang menyatakan ketidaksepakatannya terhadap keharusan perempuan untuk berhijab karena paksaan negara. “Syariatisasi jilbab ini mengkhawatirkan karena menghambat kebebasan bagi perempuan,” tutur Nong.

Alasan lain ketidaksepakatannya terhadap penggunaan negara untuk melakukan hijabisasi pada perempuan adalah karena, ujar Teh Nong, masih multitafsirnya pandangan terhadap hal tersebut. “Banyak intelektual muslim Indonesia tidak sepakat mewajibkan jilbab, seperti Prof. Dr Quraish Shihab, karena memang dalilnya jika dirunut dari Hadits adalah hadits-hadits Ahad,” ucap Teh Nong.

Dalam Kuliah bertemakan “Berpakaian Secara Islam : Telaah Atas Jilbab”,  Teh Nong juga menyayangkan adanya stereotype di masyarakat berkenaan dengan cara perempuan berpakaian. “dewasa ini, seolah ada stereotype bahwa  yang berjilbab adalah perempuan baik-baik dan yang tidak memakai jilbab adalah perempuan yang tidak baik,” sesal Teh Nong.

1.727 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 + nine =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>