Gereja Immanuel

“Mozaik itu Bernama Pluralisme”

JAKARTA, ICRP – Pendeta Deni Matulapelwa meyakini Tuhan menciptakan beragamnya agama di dunia sebagai mozaik. Pernyataan itu ia lontarkan di hadapan 80an mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) di Gereja Immanuel, Sabtu (11/10).

“Umat gereja yakin Tuhan tidak menciptakan manusia dengan satu budaya atau agama karena perbedaan digunakan Tuhan sebagai bukti keindahan,” paparnya.

Dalam acara ekskursi yang diselenggarakan atas kerjasama Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan UPJ itu, Pendeta Deni mengingatkan keindahan tidak akan terjadi dengan penyeragaman. “Tuhan melarang penyeragaman. Tuhan sedari awal tidak bermaksud demikian,” katanya.

“Apapun agama dan budayanya, mereka hadir untuk memperindah dunia kita. Itulah yang kita pahami sebagai pluralisme,” sambungnya.

Pendeta Deni menilai posisi gereja begitu penting dalam menyemai keberagaman. Pasalnya, di sinilah umat kristiani dibina para pendeta supaya mengasihi saudara-saudaranya apapun suku dan agamanya.

Para peserta ekskursi nampak syahdu menyaksikan paparan pendeta siang itu. Beberapa pertanyaan dilontarkan para peserta pada pak pendeta. Mereka bertanya mulai dari bentuk bangunan hingga perbedaan teologis antara katolik dan protestan.

Selain memperhatikan seksama pak pendeta, mahasiswa-mahasiswa UPJ pun nampak takjub memandangi aula gereja Immanuel. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang membuat para peseta terbelalak melihat gereja berumur senjata itu. Pertama, bentuk gereja ini memang unik. Atapnya berbentuk kubah sebagaimana mesjid.

“Sengaja dibikin begini biar akustiknya bagus!” terang pendeta Deni menjelaskan alasan pembentukan kubah.

Selain itu, hal yang membuat gereja ini menawan adalah kehadiran sebuah alat musik klasik, Orgel. Pendeta Deni mengungkapkan orgel ini merupakan warisan yang sangat berharga. Karena di Dunia, ungkap Pak Pendeta, hanya ada tiga yang tersisa.

“Banyak umat yang ingin menikah disini karena ingin mendengarkan alat musik ini (orgel) dimainkan,” klaim pak pendeta penuh bangga.

Pada kunjungan itu, pak pendeta memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang bisa memainkan piano untuk mencoba alat musik klasik tersebut. Seorang mahasiswi berdiri dan menaiki lantai kedua. Terdengarlah kemudian nada-nada indah dari alat musik itu. Hanya satu kata yang bisa diucapkan, “so classic”.

 

1.998 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eight − six =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>