FPI

Pemurnian Agama, Antara FPI dan Gerindra ada Apa?

JAKARTA, ICRP – Dalam Judicial Review (JR) Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 yang menyentuh persoalan nikah beda agama (NBA) Selasa (14/10), ada hal menarik yang diungkapkan pihak terkait. Berlaku sebagai pihak terkait, Front Pembela Islam (FPI) membuat sebuah pernyataan yang pada saat pemilihan pemilihan presiden (pilpres) lalu kontroversial.

Dalam membacakan legal positioning, kelompok yang kerap mempertontonkan kekerasan itu mengatakan “Fungsi negara adalah menjamin kemurnian agama”.  Setelah ditelisik lebih rinci, redaksi icrp-online.org tidak menemukan salah satu fungsi negara berdasar konstitusi sebagai penjamin kemurnian agama.

Kalimat menjaga kemurnian agama pada pilpres lalu memang pernah menjadi bahan perbincangan ramai khalayak. Kala itu, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dalam manifestonya menuliskan salah satu fungsi negara yakni menjaga kemurnian agama. Sontak hal tersebut ditentang banyak Civil Society.

Bahkan  Hasyim Djojohadikusumo, salah satu pentolan partai, mesti meminta maaf pada komunitas kristen atas kesalahan penulisan. Ia mengaku, kesalahan dalam penulisan manifesto disebabkan alokasi waktu persyaratan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang terlalu singkat.

Kesamaan pernyataan antara parpol milik mantan danjen kopassus dan ormas anarkis ini menimbulkan tanda tanya. Bagaimana partai sekular dan islamis memiliki visi sama menyangkut fungsi negara dalam menilai agama.

Lebih lanjut, harmonisnya kedua entitas ini semakin terlihat saat FPI melakukan aksi-aksi brutal pada pihak keamanan Jumat (3/10) dalam rangka menolak naiknya Basuki Tjahaja Purnama menjadi gubernur DKI Jakarta. Alih-alih menyesalkan perbuatan ormas anarkis itu,  M. Taufik, ketua DPD Gerindra, malah menuding Basuki memprovokasi FPI.

Terlepas dari adanya indikasi perselingkuhan antara Gerindra dan ormas anarkis, istilah pemurnian agama kerap diidentikan dengan gerakan puritan Islam, Wahabisme. Paham ini, dalam praktiknya, tak jarang melakukan cara-cara kekerasan dalam menghadapi perbedaan di masyarakat. Bahkan, banyak kalangan menilai, wahabisme menjadi bahan bakar munculnya gerakan terorisme sekelas Taliban dan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Merujuk dari konstitusi manakah FPI dan Gerindra mengambil istilah “menjaga kemurnian agama”? Arab Saudi, Taliban, atau ISIS?

1.309 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

9 + 8 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>