Ketua Yayasan ICRP, KH Abdul Muhaimin, saat menyampaikan sambutan untuk acara ICRP
Ketua Yayasan ICRP, KH Abdul Muhaimin, saat menyampaikan sambutan untuk acara ICRP

Bergaul Itu Tidak Perlu Dibatasi Agama

Ketua Forum Persaudaraan Umat Beriman KH Abdul Muhaimin mengatakan, dalam negara yang multikultur ini, bergaul tidak dibatasi oleh agama. Allah SWT berfirman, pasti sungguh benar-benar Ia akan memuliakan manusia.

“Masa manusianya tidak memanusiakan manusia,” kata Muhaimin saat menerima rombongan penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Masaesa di pondok pesantren yang ia pimpin, Ponpes Nurul Ummahat, di Kelurahan Prenggan Kota Gede Kota Yogyakarta DIY, Rabu (15/10).

Sebagai pemimpin ponpes sekaligus Forum Persaudaraan Umat Beriman, Muhaimin berusaha untuk terus-menerus menebarkan semangat persaudaraan antar-umat beragama. Ia menceritakan, pondok pesantrennya terbuka untuk siapa pun yang berkunjung.

“Utusan Presiden Barack Obama pernah datang ke sini. Suster-suster pernah nginep empat hari, sepuluh pendeta perempuan nginep tiga hari. Seorang Budhis juga nginep satu bulan. Mahasiswa China pernah ke sini. Semua agama kami rangkul. Kasarannya, kucing datang ke sini tidak bawa agama juga kami kasih makan,” papar Muhaimin.

Kunjungan 80-an orang penghayat Kepercayaan ke Ponpes Nurul Ummahat itu merupakan bagian dari kegiatan Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Mahaesa. Sebanyak 250 penghayat dari 150 organisasi penghayat seluruh Indonesia mengikuti sarasehan itu. Serombongan lain mengunjungi Program Studi Agama dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada dan sisanya ke Sendang Sono.

Dalam acara itu juga digaungkan doa lintas agama dan kepercayaan, mulai Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu, Parmalin, hingga Sunda Wiwitan. Ketua Dewan Pakar Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Mahaesa Sulistyo Tirto Kusumo mengatakan, energi positif yang dipancarkan dari kampung kecil di Kota Gede ini telah menyebar ke seluruh dunia.

“Kami juga berharap bisa menyebar ke seluruh Indonesia, sebab banyak yang masih mengalami diskriminasi. Ini agar menjadi teladan dan ditiru oleh semua forum penghayat. Perlu sosialisasi agar kesadaran terus tumbuh,” kata Sulistyo.

Ketua Paguyuban Soemarah di Wirobrajan Yogyakarta Hertoto Basuki mengatakan, saat ini memang masih banyak protes muncul dari para penghayat tentang hak-hak sipil yang didiskriminasi.

“Kami minta, mbok dipenuhi. Majelis Luhur ingin memperjuangkan itu karena kami merasa sederajat secara spiritual antara penghayat kepercayaan dan pemeluk agama resmi itu sama. Rasa budi itu universal,” ujar Hertoto. (IVV)

Sumber: Kompas.com

1.123 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>