Alisa Wahid (kiri) Ahmad Suaedy (kedua dari kiri) Eva Kusuma Sundari (kedua dari kanan) menteri agama Lukman Hakim (kiri)

“Komitmen Jokowi Terhadap Keberagaman Sudah on The Track!”

JAKARTA, ICRP – Koordinator Sekretariat Nasional (SekNas) Gusdurian, Alysa Wahid menilai ada “new hope” di kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam mengentaskan intoleransi antar umat beragama. Hal ini, ucap Alissa, bukan tanpa alasan. Pasalnya, menurut anak sulung presiden keempat ini, secara tegas Jokowi  dalam visi misi yang dituangkan di Nawa Cita menyertakan kondisi intoleransi sebagai persoalan kebangsaan utama yang menghambat kemajuan. Demikian ucapnya dalam seminar nasional bertajuk “Perlindungan Agama & Aliran Kepercayaan di bawah Presiden Joko Widodo”, Jumat (17/10) di Hotel Sofyan Betawi Jakarta Pusat.

Selain Alissa, turut hadir selaku pembicara dalam diskusi siang itu menteri agama, Lukman Hakim Saifudin, dan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Eva Kusuma Sundari. Peserta diskusi siang itu membludak. Banyak hadirin yang tak terpaksa berdiri. Selain kedua politisi, nampak juga terlihat tokoh toleransi antar umat beragama di antarnya, Guntur Romli dan Nong Darol Mahmada.

Alisa mengungkapkan sebelum seminar siang ini, diselenggarakan pula expert meeting dengan tajuk yang sama. Menurutnya, dalam lokakarya yang dihadiri aktivis-aktivis toleransi antar umat beragama tercapai beberapa kesamaan pandang. “Kami menyoroti ada peningkatan kultur intoleransi di masyarakat dan diskriminasi pelayanan pada agama-agama minoritas,” kata Alisa mengutip hasil lokakarya.

Lebih lanjut Alissa, menekankan pentingnya keseriusan Jokowi terhadap isu keberagaman perlu diimplementasikan dalam dunia pendidikan. “Pak Jokowi harus mempromosikan nilai-nilai kesetaraan, toleransi, dan non diskriminasi di dunia pendidikan,” imbuhnya.

Sorotan dari hasil expert meeting  itu diamini oleh Eva Kusuma Sundari. B. Eva meyakini 70% mesjid-mesjid di tanah air telah dikuasai oleh kelompok kanan. Hal tersebut, nilai Eva, sudah pada tahap yang mengkhawatirkan.

Bahkan Eva menemukan di birokrasi pun gejala intoleransi muncul“Saya terima laporan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) bahwa perwakilan dari kemendagri dan kemenag  yang kerap dikirim itu kanan banget! ,” ucapnya.

Padahal, kata Eva, birokrasi adalah simbol dari negara. Tak jarang, Eva menemui birokrasi malah mengakomodasi pandangan-pandangan yang menyulut konflik di masyarakat. “Tolong lah uang negara jangan dipakai untuk visi misi yang tidak sesuai dengan semangat kebangsaan,” sambungnya.

Berbicara mengenai komitmen Jokowi terhadap kebhinekaan, Eva tidak pernah sedikitpun ragu. Anggota dewan yang concern terhadap isu ini mengaku pernah mendengar pandangan Jokowi perihal isu ini. “Kalau bisa dipermudah, kok dipersulit tok mbak?,” ucap Eva meniru perkataan Jokowi.

“Saya jamin komitmen Jokowi terhadap isu keberagaman sudah on the track,” ucap Eva penuh keyakinan.

 

 

 

 

862 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

12 − twelve =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>