Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin

Menag Ingin Dengarkan Masukan Civil Society Menyoal Keberagaman

JAKARTA, ICRP – Menteri agama Lukman Hakim Saifudin menduga problema diskriminasi umat beragama dimotori adanya perbedaan pemahaman mengenai definisi agama. Demikian ucapnya dalam seminar nasional yang diselenggarakan sekretariat nasional (SekNas) Gusdurian di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta Pusat, Jumat (17/10). Dalam seminar tersebut turut mendapuk Alissa Wahid dan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Eva Kusuma Sundari.

Lukman menilai pendefinisian tersebut penting secara sosiologis dan yuridis. “Karena jika dalam kehidupan negara, maka kita harus memiliki kesamaan definisi dalam memaknai keberagaman,” imbuhnya.

Selain menyangkut perbedaan tafsir mengenai agama, Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut mengklasifikasi adanya dua pandangan di masyarakat berkenaan sikap negara terhadap agama. “Sebagian bilang negara tak punya hak untuk melakukan pengklasifikasian dengan mengakui atau tidak terhadap agama, namun sebagian lain menilai pengakuan terhadap agama oleh negara itu merupakan kewajiban,” jelasnya.

Sebetulnya, Lukman menambahkan, dirinya sendiri tidak sepakat dengan konsep pengakuan. “Secara pribadi saya merasa tidak perlu negara untuk menggunakan istilah pengakuan, terlebih memang  tidak ada dalam UU PNPS 1965 konsep agama yang diakui. Saya lebih memilih istilah pengregistrasian.” paparnya.

Sosok yang digadang-gadang banyak Civil Society sebagai menteri agama periode Jokowi-JK ini menyinggung pula soal pandangan di masyarakat mengenai konsep “agama yang diakui negara”. “Sebetulnya sesuai dengan UU yang berlaku baik agama yang enam  maupun yang selain itu setara dan sama di mata hukum,” imbuhnya.

Lukman mengapresiasi terselenggaranya acara seminar siang itu. Ia mengaku menanggalkan acara yang bersamaan di PP Muhammadiyah. Baginya, acara semacam ini amat berguna dalam menjalankan tugasnya. “Forum ini saya tunggu-tunggu agar saya bisa menerima masukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama masyarakat,” kata Lukman.

Ia berharap ke depan siapapun yang menjadi menteri agama mampu memberikan keadilan pada setiap pemeluk agama dan keyakinan. “Ini (kehidupan beragama) harus terus dikawal agar lebih berkualitas!” pungkasnya.

 

785 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eight − four =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>