Serikat Jurnalis untuk Keberagaman Selenggarakan Pameran Foto "Freedom in Harmony" di mall FX

Pewartaan Agama Dinilai Sensitif, SEJUK Rilis Buku “Mewartakan Agama”

JAKARTA, ICRP – Berlokasi di lantai 3 mall fX Jakarta Pusat, Jumat (17/10) Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) serangakaian acara mulai dari pameran foto, launching buku terjemahan, dan talkshow.  Foto-foto Pameran yang bertemakan “Freedom in Harmony” ini merupakan hasil dari ajang kompetisi dan sebagian lagi dari aktivitas SEJUK sendiri  . Foto-foto tersebut sesuai jadwal bisa dinikmati di mall samping senayan itu sampai Minggu (19/10).

Buku berjudul “Mewartakan Agama” yang dirilis oleh SEJUK menjadi bahan diskusi dalam talkshow yang mengundang Direktur Eksekutif The International Association Religion Journalist (IARJ), Endy M. Bayumi, Komisioner Komnas Perempuan Masruchah, dan dari dewan Pers hadir Yoseph Adi Prasetyo.

Endy menuturkan ada kecenderungan para jurnalis di tanah air untuk menghindari pemberitaan mengenai agama. Bagi Endy hal tersebut merupakan sebuah anomali di tengah masyarakat yang religius seperti Indonesia.

“Ada sekularisasi dalam berita,” tegasnya menafsirkan pikiran jurnalis di tanah air dalam peliputan hal-hal berkaitan dengan agama.

Padahal, Endy melanjutkan, agama seharusnya menjadi salah satu prioritas dalam pewartaan. Keengganan para wartawan untuk meliput fenomena atau kejadian yang berbau agama secara mendalam, Endy yakini, berdampak buruk pada masyarakat.

“Ada keminderan para jurnalis ketika meliput agama karena ketidakpahaman terhadap isu dan istilah-istilah,” ucapnya.

Endy mengaku ada kekeliruan dalam pemberitaan di Barat saat menggunakan istilah-istilah agama. Jihad, ungkap Endy, telah dikonotasikan negatif dengan kelompok militan Islam. “Padahal kan bagi kita Jihad ini sakral sekali,” keluh Endy

Pada titik inilah, Buku Mewartakan Agama yang merupakan terjemahan ini, ucap Endy menjadi krusial. “Saya pernah bertemu dengan rekan saya di Afrika Selatan yang menggunakan istilah Jihad sebagaimana di Barat. Lalu saya berikan buku ini. Sejak saat itu, dia tidak lagi menggunakan istilah Jihad bagi para militan Islamis itu, tapi fighters,” ucap Endy.

Pemahaman yang baik mengenai visi agama merupakan hal penting yang harus dipahami oleh wartawan. Demikian, Masruchah, mengidealkan kemampuan pewarta meliput sesuatu fenomena agama. “Agama-agama memang memiliki visi yang baik, tapi pada faktanya di tanah air terjadi pula konflik-konflik yang dimotori oleh agama,” imbuhnya.

Wartawan, kata komisioner komnas perempuan itu, penting untuk menyoroti korban dalam konflik antar umat beragama. Sehingga, tidak dipungkiri wartawan mesti melek hal-hal mengenai agama.

1.081 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen − 18 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>