In God We Trust merupakan kalimat yang dipakai dalam mata uang Amerika Serikat, Dollar

Tiap Orang Memiliki “Tuhan” Yang Berbeda?

JAKARTA, ICRP – Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla menilai menghadapi perbedaan merupakan problema yang dihadapi tiap umat beragama. Demikian disampaikannya dalam acara kuliah pluralisme sesi keempat yang bertemakan “Berdialog dengan Yang Lain : Hubungan Islam dengan Agama lainnya” di Teater Utan Kayu, Kamis (16/10) malam.

“Problem menghadapi yang lain ini bisa dikatakan problem abadi dan tidak ada solusi yang ces pleng,” ucap Ulil.

Sosok yang baru saja dicekal untuk mengisi acara diskusi  di Negeri Jiran ini menyoroti pentingnya penyelesaian “menghadapi yang lain” dengan menelisik pada level individu. Ulil meyakini tiap individu memiliki perbedaan dalam memaknai ajaran agama.

Setelah membaca karya Ghandi mengenai Hinduisme, Ulil kian yakin tidak ada “Tuhan yang Satu”dalam benak manusia.  “Di dalam Hindu menurut Ghandi, tiap orang mempersepsikan Tuhan semampu dirinya. Tidak heran di India ada ribuan tuhan atau yang kita kenal dengan dewa,” imbuh Ulil.

Cara berpikir serupa, ungkap Ulil, juga ada dalam Islam. Pemikir besar muslim Ibnu Abi Rabi meyakini, kata Ulil, ada tuhan yang ada dalam persepsi manusia, dan Tuhan pada Dirinya. “Sejauh apapun manusia berpikir tentang Tuhan, itu pada dasarnya adalah konsepsi manusia mengenai Tuhan,” jelasnya.

Pandangan Ibnu Abi Rabi, yakin Ulil, sejalan dengan istilah Allahuakbar. Kata “Akbar” bermakna “Lebih Besar”. “Maksud kata Lebih Besar artinya Tuhan lebih besar daripada apa yang dipikirkan manusia terhadap Tuhan,” sambung Ulil.

Dengan menyadari adanya perbedaan tiap individu mengenai Tuhan, Ulil menduga, manusia tidak akan bermain mutlak-mutlakan dalam memahami ajaran agama.

Sebagaimana diketahui bersama, kelompok radikal dalam Islam kerap kali mengatasnamakan Tuhan atau agama dalam menjustifikasi tindakan-tindakan ekstrim seperti pemenggalan dsb. Mereka, kelompok radikal seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tak jarang mengutip ayat Quran untuk melegitimasi tindakan tidak berperikemanusiaan. Alasannya tidak jauh dari membela ajaran Tuhan.

Mentalitas dialog umat Islam kerap kali terhadap dengan adanya tafsiran Quran yang berbunyi keras terhadap non muslim. Padahal, tak jarang pula, ditemukan ayat-ayat yang menumbuhkan toleransi antar umat beragama.

 

 

1.578 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three × one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>