“Yang Ambil Hak Prerogatif Tuhan Yang Tidak Kita Inginkan”

JAKARTA, ICRP – Meluasnya semangat keagamaan yang kontraproduktif terhadap nilai-nilai kebhinekaan bangsa menjadi sorotan cendikiawan muslim tanah air,  Dr. Alwi Shihab. Kekhawatiran adik kandung Prof. Dr Quraish Shihab pada gagasan intoleran yang merebak di umat Islam ini disampaikan leawat jejaring sosial twitter.

Di akun @ShihabAlwi, mantan menteri luar negeri era Presiden Abdurahman Wahid ini mengungkapkan perlunya penolakan terhadap ide-ide anti-keberagaman. “Kelompok2 penebar kebencian makin hari makin marak. Ini mesti dibendung,” tulisnya tertanggal (22/10).

Alwi Shihab melihat dewasa  ini banyak sekolah yang kalangan intoleran didirikan, tapi mengajarkan: Al-Qur’an tidak sesuai dengan Pancasila. “Mereka mengecam Pancasila, melarang upacara bendera dan tidak mengakui UUD. Padahal mereka tinggal di Indonesia,”ucapnya.

Menurut Alwi, munculnya gerakan intoleran hingga teroris seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang mulai mencekoki pikiran umat Islam mesti ditelusuri dari akar pemikirannya.

“Karena, jika hanya fokus pada nama dan fenomena, bisa saja hari ini namanya ISIS, esok namanya Kelompok Studi Quran, lusa mungkin Aswaja dst. Jadi, kita jangan hanya melihat fenomena gerakan tanpa melihat ideologi apa yang melatari.” cuitnya.

Tidak bisa dipungkiri, kata Alwi, ideologi kekerasan dan intoleransi senantiasa berawal dari pandangan Salafi-Wahabisme. Alwi mengungkapkan Wahabisme sebagai ideologi berupaya untuk melakukan pemurnian agama.

Gerakan Wahabi yang dimulai pada abad ke 18 oleh Muhammad bin Abdul Wahab ini terinspirasi dari Ibnu Taimiyah. Dalam pikiran Ibnu Taimiyah, ada tiga kelompok yang menjadi sorotan, yakni kalangan pecinta tasawuf, filsuf, Nasrani, dan Syiah. Bagi Ibnu Taimiyah kelompok-kelompok ini merupakan ancaman bagi “Islam”.

“Kalau kita cermati di Saudi Arabia segala macam ilmu diajarkan. Mulai dari ilmu agama, kedokteran, hingga teknik. Tapi tidak satupun……universitas di Saudi yang mengajarkan filsafat, Department of Philosophy tidak ada di sana,” tulis Alwi menilai betapa mengerikannya filsafat bagi kalangan Wahabi, motor gerakan intoleran.

Alwi Shihab menunjukan batasan-batasan toleransi terhadap paham keagamaan. “Suatu pemahaman keagamaan selama tidak memaksakan kehendak boleh saja berkembang. Asalkan tidak menggunakan kekerasan, tidak memaksakan kehendak, menganggap diri yang paling benar,” cuitnya.

“Mereka yang mengambil hak prerogatif Tuhan dan menuding orang sesat, kafir, masuk neraka, itu yang tidak kita inginkan,”

750 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 + 17 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>