Deklarasi Ayutthaya

Mohammad Monib

Mohammad Monib

Tulisan kali ini memuat kisah perjalanan  saya menghadiri undangan the first dialogue on religious leader  for peace di Chulalangkorn University awal oktober berlalu. Para peserta atau delegasi datang dari negara-negara Asean.  Indonesia, Singapore, Malaysia, Vietnam, Kamboja, Miyanmar. Hanya Brunei yang tidak mengirim dan tidak ada delegasinya. Entah apa problem dan alasan mereka tidak hadir.  Tentu saya senang dengan undangan ini. Sebab, akhir bulan September ada undangan semodel dari Korea Selatan. Sebuah  acara semodel digelar oleh Asia Conference on Religion and Peace (ACRP). Tetapi, saya putuskan tidak ikut jadi delegasi karena kesibukan ngajar dan hal lain di Indonesia.

Awalnya saya tidak tahu bagaimana undangan itu nyasar ke saya. Ternyata, berkah  ngajar di Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Nalanda. Pak Acep Law, ketua lembaga ini memiliki relasi yang baik dan dekat dengan Chulalangkorn dan  merekomendasi nama saya. Mungkin hadiah sebagai pengajar pluralisme di sekolah tinggi ini. Jadilah saya wakil tokoh Islam dari Indonesia. Sampai hari H saya menduga sendirian berangkat ke negeri Gajah Putih itu. Ternyata tidak. Sampai di Bandara Soekarno Hatta ada anggota delegasi yang lain. Awalnya seseorang menelponku. Pak Ben Rahal, wakil dari agama Sikh. Lumayan ada teman perjalanan, batinku.  Begitu sampai di Swarnabumi, bandara internasional Thailand, kami bertemu rombongan dari Indonesia. Kami berkenalan. Ada Pak Dr. Nurdin Amin dari UIN Ciputat, Pak Jo Prihatna dari agama Buddha, Dr. Arya dari Hindu, ada Romo Mardi dari Katolik. Tidak ada delegasi dari Protestan dan Khonghucu.

Ayutthaya adalah salah satu provinsi negara Thailand. Di bagian ini Universitas Chulalangkorn berlokasi. Para delegasi seminar ditempatkan di Classic Hotel. Masing-masing mendapat 1 kamar. Sangat mewah dan luas. Hampir seluas rumah saya di Perum Kahuripan Bogor. “Sebetulnya, 1 kamar cukup untuk 2 orang ya pak”?, terang Dr.Amin Nurdin. Dalam percapakan lanjut, ternyata beliau mantan Dekan Fakultas Ushuluddin. Yang lebih menakjubkan, beliau ternyata alumni Pesantren Gontor.  Kami menjadi sangat akrab bersahabat. Para delegasi benar-benar dilayani bagai tamu negara. Akomodasi dan konsumsi sangat mewah. Bepergian pun, bis kami dikawal oleh mobil polisi (patwal). Bagaimana agenda disusun dan kemana saja kami dikenalkan?

Agenda hari pertama adalah ekskursi (kunjungan lapangan) ke rumah ibadah agama-agama. Awalnya kami dibawa ke sebuah museum. Sebagaimana di Indonesia, lokasi ini sangat ramai. Pada hari itu, selain delagasi, saya melihat rombongan siswa-siswi dan mahasiswa. Dengan tertib dan teratur mereka berkeliling dan menerima penjelasan dari guide tentang potongan dan panorama yang ada dalam museum.  Sambil keliling saya berujar kepada Pak Amin Nurdin: “ Museum-museum kita lebih hebat. Apalagi dibandingkan dengan TMII kita. Pasti  jauh lebih hebat dan benar-benar menggambarkan keragamaan budaya Indonesia”. Beliau membenarkan keyakinan saya.

Dari museum dengan menggunakan mobil bis mini terbuka, kami dibawa keliling menikmati candi-candi Buddha. Sebagian bangunan kuno itu sudah rusak. Melihat situs keagamaan ini, saya masih yakin, Indonesia belum ada tandingannya. Situs yang ada belum seberapa dan jauh dari kemegahan situs-situs Buddha di Indonesia. Jangankan dengan Borobudur, dengan Prambanan saja belum selevel. Yakin saya, agama-agama besar dari Timur Tengah dan Asia memang pernah menjadikan negeri kita ini destinasi misi dan dakwah mereka. Indonesia tidak tertandingi dalam hal peninggalan dan jejak-jejak sejarah agama-agama besar dunia. Hanya kita belum memiliki kemampuan dan sering bilang tidak memiliki dana untuk merenovasi dan memelihara heritage yang sangat berharga itu.

Lepas dari candi-candi, para delegasi dibawa menikmati sebuah gereja Protestan. Saya lupa mencatat namanya. Yang pasti dari abad ke-8 Masehi. Aristekturnya bernuansa Spanyol. Inilah gereja pertama di Thailand. Megah dan indah sekali. Halamannya luas.Ada kolam yang dikelilingi oleh taman bunga. Berbagai bunga dari seluruh dunia ditumbuhkan. Indah sekali.

Yang menarik, tentu bagi saya yang muslim adalah saat kami diinformasikan akan mengunjungi masjid kuno. Berjarak sekitar 3 Km dari lokasi gereja di atas, kami mengungungi masjid al-takwa. Itulah namanya. Yang tak lazim adalah,pemandu kunjungan ini adalah seorang pendeta. Menurutnya masjid ini dibangun oleh pendakwah asal Iran. Saya menduga kuat, ia beraliran Syiah. Komplek masjid terdiri dari 2 bagian. Bagian masjid dan kuburan keramat. Saat memasuki bagian dalam masjid, tepatnya di bagian mimbar, dimana biasanya khatib jum’at berkhutbah, saya terpana. Ada apa gerangan?Ternyata tradisi tongkat khutbah juga ada di Thailand. Persis dalam tradisi kaum Nahdliyin di tanah Jawa dan Madura. Jangan-jangan seluruh Indonesia dan Asean.

Penting saya berkisah tentang tongkat ini. Menurut kisah, tradisi berkhutbah dengan tongkat berasal dari kebiasaan Nabi. Saat menyampaikan rukun shalat Jum’at ini, beliau berdiri sambil memegang, mungkin semacam tombak. Saya meyakini Nabi melakukan hal itu sebagai penopang dirinya dalam berdiri. Tongkat berupa tombak itu bukan untuk siap-siap merespon serangan musuh. Sepanjang saya membaca sejarah peperangan, tidak ada yang dilaksanakan atau berlangsung saat jelang shalat Jum’at. Selama di Madinah pun tidak tercatat peperangan di dalam kota. Juga tidak ada  catatan kisruh sejarah saat berlangsung shalat mingguan itu. Jadi, dapat dipastikan tongkat itu sebagai penyangga tegakknya Nabi saja. Apakah penting mempertahankan keberadaan tongkat ini sebagai Sunnah Nabi saat ibadah Jum’at? Boleh dan sah-sah saja bila ingin tetap mempertahankannya. Juga boleh ditinggalkan sebagaimana biasa kita temukan di masjid-masjid di kota. Tidak terlalu prinsipil untuk diperdebatkan dan dipersengketakan. Ada sunnah Nabi yang lebih bermakna dan maslahat. Apa itu?Perhatian kepada kaum miskin, beragama yang lapang (al-hanafiyat al-samhah), santun kepada siapapun, tepat janji, berbisnis yang jujur dan amanah,  mudah senyum dan membahagiakan siapapun yang menemuinya, berkarya untuk kebaikan dan ketentraman orang lain, toleran kepada agama dan keyakinan orang lain.

Seperti kisah tongkat di atas, di komplek masjid ini juga ada kuburan yang diyakini keramat. Saya tidak sempat mendapatkan penjelasan detail. Kami diperbolehkan masuk ke dalam khusus dimana kuburan alim itu. Seperti halnya makam-makam keramat atau wali songo di Indonesia, makam ini pun rapi, berkelambu dan penuh taburan bunga. Yang menakjubkan, sebagaimana di Makam Sunan Ampel Surabaya, Sunan Bonang, Sunan Kudus dan Sunan-Sunan yang lain ada tempayan air. Para pengunjung mengambil dan meminumnya. Semacam air yang disucikan dan berbarakah. Tentang air suci ini bukan khas Islam. Saya yakin semua agama memiliki tradisi air suci dan berkah ini. Yahudi, Kristen, Islam, Hindu dan Buddha. Masih ingat kisah air suci di Tanah Lot dalam tradisi Hindu Bali pada tulisan yang lalu kan?

Kunjungan hari itu berakhir pada sebuah kuil Buddha terbesar di Thailand. Kuil ini menempati tanah seluas 3 hektar. Saat memasuki bangunan utama, saya terpesona dengan patung Sidharta Gautama yang besar dan tinggi. Berwarna keemasan dan dibalut kain selendang berwarna emas juga, patung itu menempati bagian tengah sebuah bangunan yang sangat besar. Saya melihat beberapa bikkhu melayani para umat. Di sana dijual juga kain selendang, bunga dan dupa (shio). Ada musik yang dimainkan untuk mengiringi upacara dan ibadah yang sedang berlangsung. Kunjungan ke kuil ini sangat mengesankan. Rasanya tidak ada kuil Buddha semegah dan seluas ini di Indonesia. Di candi Borobudur pun puncak stupa tidak juga sebesar patung Buddha di lokasi ini.

Deklarasi Ayutthaya

Hari ketiga barulah delegasi dibawa ke Univeristas Chulalangkorn. Di universitas Buddha terbesar di dunia ini seminar dan rangkaian acara berlangsung. Turun dari membuka acara saya sergap rektor universitas yang menampung sebanyak 10 ribu mahasiswa yang seluruhnya memakai busana ala bikkhu itu. Saya mengenalkan diri dan memberikan buku Fiqh Lintas Agama (FLA) yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sesi seminar berlangsung sehari dan beberapa pembicara internasional menyampaikan makalah. Saya sendiri menyiapkan makalah berjudul: Pluralism and Perennialism as a vein of Religious Life and Peace. Pluralisme dan Perennialisme sebagai Urat Nadi Kehidupan Keagamaan dan Kedamaian. Rangkain seminar ini berlangsung selama 4 hari. Deklrasi yang disepakati bernama Ayutthaya Deklaration dibacakan. Isinya berupa komitmen untuk menjadikan agama sebagai sumber inspirasi hidup damai dan harmonis. Para delegasi sepakat untuk menjauhkan agama sebagai instrumen bagi sistem politik,  kekuasan dan ideologi media. Kami bertekad membentuk kawasan Asean (Asean Community) sebagai inspirator tatanan dunia damai dan harmonis.

1.093 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 + three =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>