web1

Penghayat Kapribaden Sampaikan Kuliah Agama di UPJ

“Jika mendengar kata Kapribaden, apa yang terlintas dalam pikiran anda?” Endang Retno Lastani, salah satu Penghayat Kapribaden melontarkan sebuah pertanyaan kepada puluhan mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro, Selasa, (4/11/2014)..

“Kepribadian”, “tingkah laku”, “sebuah benda”, jawab beberapa mahasiswa spontan. Memang hampir semua mahasiswa tidak mengetahui bahwa di Indonesia ada agama atau kepercayaan Kapribaden. Padahal ajaran ini telah berkembang semenjak 1932.

Retno menegaskan bahwa Kapribaden bukan berarti kepribadian yang sering dipakai dalam istilah psikologi. Kapribaden merupakan sebuah laku spiritual dengan memulai mengenal diri sendiri sebagai manusia. Tujuannya, dengan mengenal diri sendiri dengan sebenarnya maka kemudian akan mengenal Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mengenali diri sendiri terbagi menjadi dua, yakni mengenali  raga (jasmani) dan urip (roh). Raga dimaknai sebagai jasmani atau jasad yang terbentuk dari tanah, air, hawa, dan api. Sementara urip berbentuk ghaib yang berasal dari Yang Maha Ghaib dan dipercaya memberikan petunjuk kepada setiap individu.

Dalam kepercayaan Kapribaden, raga berbeda satu sama lain, tergantung Lingkungan,       masukan yang diterima akal pikiran, mewujudkan budayanya, cara berpikir, berbicara, berbuat, keyakinan ketuhanannya, termasuk nilai-nilai tentang benar salah. Sementara Urip (roh) Sama, berasal dari Yang Satu, Gusti Ingkang Moho Suci/Tuhan.

Di Kapribaden, sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa adalah Gusti Ingkang Moho Suci atau ROMO    (ditulis dengan huruf besar). Mereka percaya bahwa Tuhan adalah DAT/KUASA yang mengadakan, menghidupi dan menggerakkan seluruh alam semesta termasuk juga raga manusia. Jadi DAT/KUASA Tuhan juga ada dalam diri manusia, tetapi manusia bukan Tuhan.

Sementara perilaku penghayat Kapribaden yang berbudi luhur tingkah laku dan penampilannya harus menyenangkan yang melihat, karena serasi antara Etika (ramah, sopan) dan Estetika (berbusana rapih dan bahasa tubuh yang positif). Ucapan dan tutur katanya jujur dan bijaksana, sehingga menentramkan yang mendengar. Berbudi bowo leksono yakni suka menolong dan menepati janji.

Tujuan hidup penghayat Kapribaden adalah KASAMPURNAN JATI. Yang bermakna bila sewaktu-waktu meninggal, Urip/Hidupnya langsung menyatu dengan Tuhan, Raganya segera lebur ke asalnya, yaitu tanah, air, hawa, dan api (mokhsa). Sementara selama masih hidup di dunia,  mereka hanya mengharapkan penghidupan dan kehidupannya tentram.

2.833 views

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

19 − 18 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>