Romo Hariyanto

Romo Hariyanto : Agama Mengajarkan Kemanusiaan!

JAKARTA, ICRP – Wakil Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Romo Johannes Hariyanto SJ menyesalkan adanya kecenderungan intoleransi di tanah air dewasa ini. Pasalnya intoleransi, ungkap Romo Hariyanto, tidak memiliki akar ideologis dan sejarah dalam semangat keberagamaan di nusantara.

“Agama datang ke Indonesia tidak lewat pertempuran antar agama. Ada unsur kekuasaan bermain di sana, namun tidak signifikan. Kenyataan ini tentu indah sekali ketimbang sejarah penyebaran agama yang berdarah-darah di negara lain,” kata Romo Hariyanto dalam tapping acara konsorsium Belajar Islam di MNC TV, Jakarta Timur, Kamis (6/11).

Romo Hariyanto menduga kekerasan dan intoleransi yang terjadi di Indonesia karena adanya kekeliruan dalam menafsirkan ayat-ayat suci. “Semua agama lahir jauh sebelum konsep negara-bangsa (nation-state) tercipta. Karenanya,  banyak kalangan kesulitan mencari ayat dalam mendukung demokrasi misalnya,” ucap Romo Harianto.

Sebagai informasi, kerap kali kelompok pro intoleransi melekatkan demokrasi sebagai ajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Pasalnya, tidak ada ujaran dalam teks suci yang secara eksplisit menyebutkan sistem politik demokrasi halal atau tidak. Alih-alih berpikir dan mengeksplorasi teks, kelompok pro intoleransi cenderung menggunakan cara-cara kekerasan dalam menegakan apa yang mereka anggap sebagai hukum Tuhan. Tak mengherankan perkara simbol-simbol agama menjadi begitu krusial bagi kelompok ini.

“Ketika agama berupaya menyelesaikan persoalan sosial, umumnya hanya simbolik. Tidak membahs persoalan mendasar,” ucap Romo Hariyanto. Persoalan lokalisasi prostitusi menjadi contoh yang diberikan Romo sore itu. “Dengan dalih agama, kita tutup lokalisasi, eh sekarang ada e-prostitusi”, tambahya.

“inilah kenaifan kebanyakan orang beragama”

Romo Hariyanto mengakui dengan segala dalil-dalil yang dimiliki oleh teks-teks suci semua agama pun tidak akan mampu menyelesaikan perkara sosial. Karena, Romo Hari meyakini, persoalan-persoalan di masyarakat lebih kompleks daripada yang tertuang dalam teks-teks suci.

“Dewasa umat beragama kebanyakan dihabiskan waktunya untuk memperjuangkan simbol-simbol keagamaan, para penganut agama kerap terlena pada simbol dan lupa pada sisi utama agama yakni kemanusiaan” singgung Romo.

Padahal, Romo melanjutkan agama mengajarkan pentingnya semangat kemanusiaan. Sebagai seorang pemuka agama  Romo Hariyanto mengungkapkan bahwa Katolik senantiasa menekankan pentingnya kemanusiaan universal.

“perlu keberanian para penganut agama untuk senantiasa sejalan dengan kemanusiaan,” imbuhya.

728 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

11 − 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>