Moqsith Ghazali

“Posisi Perempuan di Indonesia Berbeda dengan di Arab Saudi”

BANDUNG, ICRP – Peneliti Wahid Institute Abdul Moqsith Ghazali menyatakan di dalam Islam perempuan selalu menjadi perdebatan dan sengketa.  Demikian disampaikan Moqsith menilai posisi perempuan dari perspektif Islam dalam sesi diskusi di Workshop Kesehatan Reproduksi yang diselenggarakan di Bandung oleh Indonesian Conference and Religion and Peace (ICRP) bekerjasama dengan Hivos, Sabtu (8/11).

Kader Nahdlatul Ulama (NU) masih ingat sekurang-kurangnya ada 100 buku di pesantren yang secara khusus membahas mengenai darah haid perempuan. Moqsith seolah tengah memberikan penekanan betapa seriusnya perdebatan yang terjadi dalam khazanah klasik Islam membahas perempuan.

“Islam datang untuk menaikan harkat dan martabat perempuan dan bukan untuk mendiskriminasikannya,” ucap Moqsith. Meski mengakui hanya mewakili salah satu tafsir mengenai peran perempuan dalam Islam, Moqsith begitu yakin dengan pandangan itu.

Moqsith merujuk pandangannya berdasar perubahan pola pandang masyarakat Arab terhadap perempuan sebelum dan sesudah Islam datang. “Sebelum Islam datang perempuan ketika haid dikucilkan dan diisolasi dari masyarakat. Perempuan dipaksa tinggal di gubuk kecil belakang rumah. Tapi, ketika Islam datang tradisi itu dihapus. Perempuan tetap bisa hidup bermasyarakat dan terintegrasi dengan umat,” imbuh Moqsith.

Moqsith pun memberikan contoh lain terkait betapa spesialnya perempuan dalam Islam berkaitan dengan hak-hak material. “Di dalam islam, harta suami adalah harta keluarga, tapi harta istri harta untuk dirinya,” tambahnya.

Meski ada semangat dalam Islam untuk meningkatkan harkat perempuan, namun Moqsith mengakui cepatnya perubahan zaman memberikan tantangan sendiri bagi para ulama untuk menafsirkan kembali peran dan hak-hak perempuan.

Moqsith pun siang itu memberikan salah satu contoh problem penafsiran terhadap teks-teks klasik mengenai larangan perempuan menolak kehendak suami melakukan hubungan seksual. Hal itu, bagi Moqsith, memiliki landasan hukum yang kuat. “Ini memang berkaitan erat dengan tugas perempuan dalam Islam kala itu yang hanya bertugas melayani kebutuhan seks suami,” katanya.

“Tapi, logika hukum semacam itu tidak lagi relevan pada masa kini. Pasalnya, permepuan juga kerap kali melakukan hal serupa dengan lelaki misalnya dalam persoalan mencari nafkah bagi keluarga,” ungkap Moqsith.

Masih berkenaan dengan tugas perempuan terhadap suami dalam literatur Islam klasik, Moqsith melontarkan sebuah tanya yang menggelitik nalar peserta. “Apakah dalam tugas melayani suami itu hak atau kewajiban? ini jelas memiliki konsekuensi yang berbeda. Jika itu merupakan sebuah hak maka ada dialog disana,” ucapnya.

Sontak para peserta perempuan yang hadir riuh. Nampak para kaum ibu di dalam ruang menyetujui bahwa peran tersebut merupakan hak bagi perempuan.

Moqsith juga menyinggung mengenai hak-hak muslimah di Indonesia dengan di Arab Saudi. Menurutnya permepuan di Indonesia lebih mendapat peluang untuk menjalankan hak-haknya ketimbang di negeri asal Islam terlahir.

“Posisi muslimah di Indonesia tidak sama dengan di Arab Saudi,” tegasnya.

1.659 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × five =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>