Ilustrasi Kesetaraan Gender

Perjuangan Perempuan Meraih Kesetaraan di Mata Sejarawan

JAKARTA, ICRP – Perdebatan mengenai hak-hak perempuan dalam kehidupan sosial dan politik di dunia muslim termasuk di Indonesia, kerap memiliki hambatan serius. Belum lepasnya kecenderungan mendomestifikasi peran perempuan sampai terjadinya kekerasan baik secara psikologis maupun fisik belum sirna hingga Indonesia merdeka.

Namun, ternyata para perempuan progresif di tanah air telah hadir sebelum Indonesia merdeka untuk merengkuh kesetaraan dan keadilan. Dalam acara Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa yang diselenggarakan Megawati Institute, Selasa (11/11) sejarah menarik mengenai perjuangan kaum perempuan membela harkat dan derajatnya di panggung sosial dan politik dikupas oleh sejarawan ternama Bonnie Triyana.

Mengambil sosok menteri perempuan pertama di Indonesia Maria Ullfah, Bonnie Triayana mengakui perempuan memiliki andil yang tidak kalah penting dalam memperjuangkan janji-janji kemerdekaan republik.

Sebagai sosok yang dekat dengan Sutan Sjahrir, Maria Ullfah, kata Bonnie memiliki semangat memperjuangkan kesetaraan, utamanya pada hak-hak perempuan. Putri kalangan Priayi itu, tutur Bonnie, tak kenal lelah memperjuangkan pendidikan bagi kalangan perempuan. Tak ayal, Ia bersama rekan-rekannya sempat mendirikan sebuah sekolah keterampilan bagi perempuan di sekitar wilayah Kramat, Jakarta Pusat. Padahal pada masa kolonial, perempuan kesulitan untuk mendapat pendidikan.

Tidak hanya berkutat di dunia pendidikan perempuan saja, Maria Ullfah pun mengikuti dalam pergulatan ide mengenai perempuan di sektor publik. Tidak mengherankan, perempuan yang terlahir pada tahun 1911 itu, ucap Bonnie, juga berperan penting dalam acara kongres perempuan kedua tahun 1938. Ia, ujar Bonnie, menjadi penengah dalam menghentikan perdebatan sengit antara kaum perempuan progresif dan konservatif menyoal poligami. Dengan demikian, isu-isu untuk membela hak-hak perempuan bisa terus berlanjut dalam acara kongres.

Selain itu, kata Bonnie, perempuan lulusan Jurusan Hukum Universitas Leiden itu juga terjun langsung membela kaum Ibu. Seusai pulang dari Leiden, Ia menjadi pengacara yang secara spesifik menangani persoalan kawin cerai.

Sebagaimana diketahui, pada masa kolonial pernikahan kaum pribumi tidak pernah menjadi hal yang diatur oleh pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, tak sedikit kaum perempuan diperlakukan semena-mena oleh suami. Poligami merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari siklus kekerasan pada perempuan pada masa itu.

Maria Ullfah, menurut Bonnie, menilai tafsiran agama memiliki andil dalam perlakuan semena-mena pada kaum perempuan. Karenanya, Ia mendesak pemerintah kolonial untuk membuat sebuah rancangan UU pernikahan bagi kaum pribumi. Salah satu isi dari perundang-undangan itu adalah bahwa pemerintah kolonial hanya mengakui pernikahan yang pertama seorang lelaki.

“Atas langkah itu, Maria Ullfah dituding menggantikan hukum agama,” ucap Bonnie

Sayangnya, pada saat itu pemerintah kolonial Belanda tidak melanjutkan RUU itu. Bonnie menduga langkah pemerintah Belanda yang tidak mau progresif dalam membela hak kaum perempuan pribumi atas dasar pandangan Snouck Hurgronje.

Meski demikian, Maria Ullfah, tidak berhenti disana. Bonnie menuturkan Maria Ullfah tetap membela kaum perempuan. Salah satu warisan penting Maria Ullfah adalah surat nikah dan dimungkinkannya kaum ibu untuk meminta cerai pada suami.

Bonnie pun menilai sosok Maria Ullfah merupakan orang yang tidak bulu dalam melakukan kritik terhadap ketidakadilan. “Maria Ullfah mengkritik keras Soekarno yang memiliki banyak istri simpanan,” tambahnya.

“Maria Ullfah secara perlahan-lahan membuka ketertutupan dan belenggu pada perempuan,” imbuh pemilik majalah Historia ini.

1.185 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eighteen − thirteen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>