Mariana Amirrudin

Agama Antagonis Terhadap Feminis? Ini Kata komisioner Komnas Perempuan

JAKARTA, ICRP – Diskursus mengenai kesetaraan Gender kerap kali dipertentangan dengan pandangan agama. Selama ini, agama dinilai sebagai salah satu hambatan serius untuk mengembangkan gagasan-gagasan progresif di kalangan kaum hawa. Tak ayal, agama sempat ditinggalkan oleh para perempuan progresif. Agama dinilai antagonis di alam pikiran perempuan progresif.

Namun, Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin menyatakan agama telah menjadi pusat perhatian lagi. Dalam tema-tema feminis gelombang ketiga, ucap Mariana, perempuan dan spiritualitas adalah bagian yang tak terelekan.

“Bila sebelumnya dalam gelombang kedua perempuan memusatkan pada pemikiran, gelombang ketiga mendudukan dirinya untuk tidak lagi menempatkan agama sebagai tokoh antagonis dalam tema feminis,” kata Mariana  dalam bedah buku “Muslimah Progresif : Perempuan Pembaru Keagamaan” di Megawati Institute, Jakarta Pusat, Rabu (13/11).

Mariana menambahkan para feminis yang tak anti pada agama ini memiliki ciri khas. “Ciri dari feminis agama dan spiritual adalah bagaimana perempuan melakukan penelitian kembali terhadap teks-teks kitab suci dan agama…” imbuh mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII) ini.

Menyoroti perkembangan perempuan progresif di tanah air, Mariana mengakui peran dua organisasi besar Islam. Menurutnya, baik Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah telah melahirkan banyak tokoh perempuan dan laki-laki yang mengemukakan bagaimana wajah Islam yang lebih manusiawi terhadap perempuan.

“(mereka) menyoroti bagaimana Islam adalah ajaran yang berakar pada gagasan tentang kesetaraan gender melalui konsep Tauhid dan mempertanyakan kembali patriarkal dalam ajaran Islam melalui Al-Quran dan Hadits serta syariah terhadap terciptanya masyarakat yang lebih setara dan adil,” imbuh Mariana.

Mariana mengakui pada awal kehdirannya, Islam melakukan reformasi terhadap hak-hak perempuan. “Sekurang-kurangnya ada tiga yang diperbaiki oleh Islam terkait nasib perempuan yakni perkawinan, perceraian dan warisan,” jelasnya.

Dalam diskusi sore yang diselenggarakan Badan Otonom Ekonomi UI dan Megawati Institute ini juga turut mengundang penulis buku, Prof. Dr. Musdah Mulia dan Direktur Eksekutif Indonesian Conference on Religion adn Peace (ICRP) Mohammad Monib.

Diskusi kali ini melampaui estimasi yang disediakan. Banyaknya peserta yang mempertanyakan banyak isu terkait perempuan progresif membuat diskusi hangat hingga menjelang pukul 19:00. Padahal yang disediakan panitia hanya hingga pukul 18:00.

Prof. Dr. Musdah Mulia mengapresiasi terlaksananya acara ini. Menurutnya, persoalan kesetaraan perlu untuk senantiasa dibicarakan dan dididalogkan.

 

1.052 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

5 × one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>