Toleransi (ilustrasi)

Puisi dan Tari Ramaikan Perayaan Hari Toleransi Internasional di Monas

JAKARTA, ICRP – Perayaan Hari Toleransi Internasional yang diselenggarakan atas hasil kerjasama sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pro keberagaman tahun ini meriah. Momen yang diperingati tiap tanggal 16 November tahun 2014 ini diselenggarakan di Monumen Nasional (Monas). Bertepatan dengan Car Free Day (CFD), panitia memulai acara dengan jalan sehat dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga ke Monas. Tak kurang 3000 peserta  yang di kaos belakagnya bertuliskan #DamaiDalamKebhinekaan memadati jalan sepanjang HI hingga Monas.

Sejumlah politisi dan tokoh-tokoh ternama pun nampak terlihat pagi itu. Dua menteri  tampil kemuka memberi dukungannya dalam menyukseskan kampanye toleransi di antaranya adalah  Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise. Keduanya memberi apresiasi pada berlangsungnya acara ini. Menurut mereka, toleransi perlu didorong tanpa membeda-bedakan.

Selain kedua menteri, hadir juga pagi itu kyai yang nyambi sebagai politisi Kyai Maman Immanulhaq dan politisi yang tak kenal lelah berjuang di isu keberagaman Eva Kusuma Sundari. Pun kedua tokoh ini memakai kaos berhastag #DamaiDalamKebhinekaan. Kyai Maman yang kini duduk di Senayan sebagai anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memang telah dikenal pula tokoh yang gigih membela keberagaman.

Selain politisi nasional dan kedua menteri, acara kali ini pun dihadiri oleh lurah paling fenomenal di Jakarta tahun lalu.  Lurah perempuan yang sempat diserang dengan isu SARA hadir pagi itu. Siapa lagi kalau bukan Lurah Lenteng Agung, Susi. Berbajukan warna hitam, Lurah Susi menyumbang sebuah puisi.

Lurah Susi Membacakan Puisi

Tak mau kalah dari sang lurah, agamawan katolik Romo Johannes Hariyanto SJ pun menyumbangkan sebuah puisi buatan sendiri. Sebelum membacakan puisinya, Wakil Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini memberikan komentar singkat mengenai keberagaman di tanah air. Menurutnya, negara ini bukan milik enam agama saja. Negara ini, sambung Romo Hari, merupakan negara untuk siapapun apapun agamanya.

“Masa di KTP  ada agama minus?,” ucapnya terheran dengan sikap pemerintah. Karenanya, Ia mewakili ICRP, secara terang menolak adanya sikap negara yang hanya mengakui enam agama saja. “Negara ini untuk siapapun agama apapun, negara ini untuk kita semua,” tegasnya.

Romo Hariyanto membacakan puisi ciptaannya sendiri

Tetapi bukan saja massa yang membuat acara perayaan hari toleransi internasional kali ini menarik dilirik, panitia menghadirkan keberagaman lewat pertunjukan-pertunjukan seni daerah. Mulai dari Ondel-ondel, Tarian khas Bali, Tarian khas Dayak, Rampak Gendang dari Komunitas Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, hingga tarian asal Papua meramaian hadirin yang berkumpul di Panggung Obor Perdamaian.

Yang paling menyedot perhatian massa adalah tarian asal papua. Baru beberapa detik para penari mengisi di bawah panggung, para peserta turun ikut serta menari.

Masyarakat Papua pro kebhinekaanEva Kusuma Sundari turut serta turun ke muka

Semua peserta Hari Toleransi Internasional di Monas hari itu nampak menikmati warna-warni Indonesia. Acara ditutup dengan pembacaan sebuah maklumat dari para tokoh dan panitia acara. Semua sepakat untuk terus mencintai keberagaman sebagai kekhasan Indonesia.

Akankah Joko Widodo sebagai nahkoda republik membela keberagaman? semoga senada dengan antusias para peserta pagi itu.

 

1.589 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two + seventeen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>