Ahmad Junaidi (kedua dari kanan)

“Banyak Jurnalis Tak Miliki Kemampuan Cukup Baik Menulis Isu Pluralisme”

JAKARTA, ICRP – Persoalan media dalam upaya mendorong toleransi antar umat beragama menjadi salah satu sorotan di diskusi panel bertemakan “Understanding and Promoting Religious Tolerance and Pluralism in society”. Ingin melihat kondisi pluralisme di media, panitia acara mendaulat ketua Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Ahmad Junaidi sebagai salah satu pembicara.

Ahmad Junaidi menilai secara umum jurnalis di Indonesia masih belum peka terhadap persoalan pluralisme. “Hingga kini masih kami temukan di media-media bahkan di televisi kata-kata semisal sesat atau menyimpang untuk menandai kelompok-kelompok minoritas,” ucapnya.

Ahmad Junaidi yang juga merupakan editor di The Jakarta Post ini menduga kondisi wartawan ini tak lepas dari belum sadarnya para petinggi-petinggi media terhadap isu keberagaman. “Banyak wartawan yang tak mendapat pendidikan untuk mewartakan isu-isu keberagaman,” ujar Junaidi.

Dugaan Junaidi benar adanya. Dugaan Junaidi ini dilandaskan pada temuan survey Yayasan Pantau pada tahun 2012. Dari sampel sejumlah 600 Jurnalis ternyata 45,3% masih mengamini penerapan syariat Islam.

Junaidi juga menduga persoalan masih buruknya semangat keberagaman di media baik online, cetak maupun televisi kerap berkaitan erat dengan situasi politik. Junaidi memberikan beberapa contoh media yang merupakan alat politik dalam pilpres 2014 lalu semisal Obor Rakyat. Majalah yang hanya terbit pada saat pilpres itu berisikan kampanye hitam terhadap Joko Widodo dengan menggunakan isu-isu Suku Agama dan Ras (SARA).

Selain itu, kebebasan informasi di dunia maya juga menjadi salah satu perhatian serius Junaidi siang itu. Menurutnya, dewasa ini di dunia maya telah menjamur begitu banyak media yang memprovokasi masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama. “Media-media intoleran ini muncul seiring dengan semakin terbukanya akses terhadap informasi,” ucapnya.

Menurut Junaidi hal eksistensi situs-situs provokatif itu merupakan tantangan serius bagi kebebasan beragama dan pluralisme di tanah air. “Mereka senantiasa memproduksi kampanye kebencian di dunia maya,” imbuhnya.

Menurut Junaidi, perlu dilakukan upaya serius meangani permasalahan keberagaman di media.¬†Sejuk, sambung Junaidi, berusaha untuk memberikan kesadaran pada para jurnalis. “Kami menyampaikan pada awak media ¬†suara dari yang tak terdengar,” ucapnya merujuk kelompok-kelompok minoritas yang mengalami penindasan.

Beberapa program Sejuk, kata Junaidi, merupakan Workshop yang dikhususkan untuk para jurnalis. “Workshop ini kami lakukan mulai dari wartawan mainstream hingga wartawan pers mahasiswa,” tutur Junaidi.

“Kami tegas berkampanye anti hate speech,” pungkas Junaidi.

Selain mengundang ketua Sejuk, dalam diskusi panel sesi kedua hari kedua dari rangkaian acara konferensi regional bertajuk “Strengthening Accountability for Violations of Religious Freedom in Southeast Asia”, Panitia juga turut menghadirkan Muhammad Iqbal dari CRCS UGM, Alamsyah Jafar dari Wahid Institute, dan Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI).

890 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

7 + 8 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>