Peace In Diversity Hari Pertama….

BEKASI, ICRP – 23 Peserta Peace In Diversity (PID) Sabtu (21/11)  pukul 09:00 terlihat duduk-duduk dan beramah tamah di gedung Grha Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Bus ukuran ¾ telah menanti sejak matahari masih hangat menyentuh kulit di halaman Graha PGI. Sebagian besar peserta duduk-duduk di parkiran. Pendeta Franky  Tampubolon yang telah datang terlebih dahulu nampak tengah sibuk berkoordinasi via handphone. Sesekali Ketua Pemuda dan Remaja PGI itu menyapa para peserta. Kondisi serupa juga dapat dilihat pada Staf Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Mukhlisin. Mas Lisin, demikian Mukhlisin dikenali, menelepon para peserta yang belum kunjung hadir. Dikonfirmasi akhirnya, para peserta dari Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra menyusul sore hari.  Kedua orang ini adalah aktor kunci di dalam kepanitian acara PID tahun 2014. Usai mengecek kesiapan peserta, panitia meminta mereka masuk ke Bus. Franky Tampubolon yang pagi ini ditemani sang istri meminta para peserta untuk berdoa sebelum keberangkatan. Ia pun meminta maaf karena tak sempat untuk bisa bersama-sama naik bus. Pendeta yang akrab disapa Bang Franky ini mengakui dirinya mesti bertemu dulu dengan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Mas Lisin memegang kendali di Bus sekaligus jadi navigator bagi driver bus ukuran ¾ itu. 09: 30 Bus meluncur dari PGI menuju lokasi live in di pesantren Nurul Mukhlisin. Masuk lewat tol Cawang, Bus keluar di tol Tambun. Sepanjang perjalanan nampak sebagian peserta tertidur pulas. Butuh waktu sektar 1 jam 30 menit untuk mencapai pesantren yang terletak di kawasan Setu Kabupaten Bekasi itu. Sesampainya di pesantren para peserta dipersilahkan untuk beristirahat sejenak di tempat makan para santri. Peneliti Wahid Institute, Alamsyah Djafar, ternyata telah hadir terlebih dahulu di pesantren. Kali ini Ia pun menjadi salah satu panitia. Tempatnya lesehan. Ada kolam yang dipenuhi di bawah bangunan terbuka beratapkan seng itu. Para peserta menikmati suasana pesantren sembari mengobrol-ngobrol santai satu sama lain. Cuaca seperti yang bisa ditebak. Panas. Pukul 14:00 para peserta dikumpulkan di aula pesantren untuk acara pembukaan. Aula ini ber AC. “Wah di Bekasi ada yang sejuk juga ya,” ucap salah seorang peserta bercanda. Aula yang cukup luas untuk menampung seratus orang ini persis terletak di samping masjid pesantren. Mesjid pesantren ini nampak masih dalam proses pembangunan. Berhubung pak Kyai tengah tak berada di pesantren, para peserta disambut salah satu pengurus yakni ustad Hamim. Ustadz Hamim bercerita banyak hal mengenai pesantren yang dikenal dengan eco pesantren ini. Ada hal yang menarik dalam paparan Ustadz Hamim siang itu. Ia menegaskan ajaran toleransi di pesantren sangat kuat. Menurutnya, sikap-sikap kasar yang kini dipertontonkan sebagian kalangan muslim bukan berasal dari tradisi pesantren ala Indonesia. “kalau ada pesantren yang suka mengkafir-kafirkan orang tanyakan saja darimana kyainya. Kalau itu dari Saudi, nah itu,” tutur Ustadz lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini. Waktu pun berlalu cepat, kumandang adzan Ashar terdengar. Para peserta muslim diperkenankan beribadah. Acara kemudian dilanjutkan kembali pukul 16:00. Kali ini, para peserta menikmati sebuah permainan temuan Wahid Institute. Permainan yang menyerupai ular tangga ini disebut dengan “Negeri Kompak”. Mas Alam sapaan Alamsyah Djafar pun menerangkan cara bermain Negeri Kompak. Ia bertutur bahwa permainan negeri kompak ini bertujuan menebarkan semangat toleransi di kalangan anak-anak dan remaja. Permainannya tidak terlalu rumit. Bahkan para peserta terlihat asyik dan lupa kamera tengah merekam acara. Pukul 17:00 para peserta menuntaskan permainan Negeri Kompak. Sesi Materi mengisi kegiatan berikutnya. Dengan waktu yang tak lebih dari 45 menit, Mas Alam membawakan materi mengenai agama dan keyakinan serta beberapa polemiknya. Bedug Maghrib pun tiba, acara diskusi usai sudah. Mas Alam mengaku waktu yang tersedia kurang cukup. “Saya takut ada kesalahpahaman para peserta dalam memahami konsep-konsep yang saya terangkan,” ucap Mas Alam pada redaksi ICRP seusai mengisi materi. Para peserta diperkenankan istirahat dan makan malam. Pukul 20:00, acara kembali dilanjutkan. Pada acara terakhir hari pertama PID, pak Kyai Nurul pemilik pesantren ini mengisi dialog. Pak Kyai Nurul yang juga telah malang melintang dalam dialog antar umat beragama ini berkisah banyak hal pada para peserta tentang pesantren ini. Dua poin menarik dari beliau adalah keluasan ilmunya dan semangat toleransi yang begitu membara. “Orang yang menolak pluralism adalah orang yang tak paham sejarah,” ujar sang Kyai. Pasalnya, setiap agama di dalam sejarah senantiasa melakukan interaksi satu sama lain. Ceramah dari sang Kyai pun terasa begitu cepat. Akhirnya pukul 22:00 tak terasa telah tiba. Acara pun usai. Namun, malam itu sebagian peserta memanfaatkannya untuk saling memperdalam persahabatan. Bernyanyi bersama, nampak pula ada beberapa peserta yang menikmati permainan kartu UNO. Mereka melupakan sekat-sekat identitas keagamaan, kesukuan, di sebuah sistem wahan pendidikan terklasik di Indonesia.

1.121 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

19 + 9 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>