Kasih Membawamu Kembali Indah

Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Oleh: Eryani Kusuma Ningrum*

Indonesia adalah hal yang satu namun mempunyai beragam bentuk hal. Beragam suku, ras, adat istiadat, kebiasaan dan agama. Dari kelima pulau besar di Indonesia, saya pernah merasakan hidup di antara 3 pulau dari 5 pulau besar yaitu Sulawesi dimana Kota Manado menjadi tanah kelahiran saya, Sumatera tepatnya di Medan dan Riau menjadi kota pembelajaran dasar saya dan Pulau jawa menjadi daerah yang saya diami dalam lubuk hati dimanapun saya berada. Di Pulau Jawa saya mempelajari banyak hal dari tingkat menengah hingga sekarang. Ayah Ibu dengan adat Jawanya yang kental selalu mengingatkan saya untuk selalu menjunjung adat istiadat dimanapun saya berada. Adat istiadat tersebut meliputi kebiasaan untuk selalu sopan santun, menghormati, menyayangi dan menghargai kepada setiap orang. Karena dari situlah, orang lain pun akan menghargai kita.

Sejak lahir hingga dapat berjalan, saya tinggal di lingkungan dimana kami sekeluarga menjadi minoritas dalam beragama. Di Kota Manado kami menjalin hidup bertetangga dengan kalangan Nasrani yang sangat menjunjung kekeluargaan. Ibu pernah bercerita bahwa di kota tersebut, tidak memandang darimana kita berasal serta agama yang dianut, “Torang semua basodara” yang maksudnya kita semua bersaudara. Ada hal yang membuat saya takjub saat terakhir ke tanah kelahiran saya pada bulan April tahun ini. Saat paskah yaitu hari kematian Yesus Kristus dimana setiap warga kota Manado merayakan dengan membuat diorama di dalam lingkungan mereka. Saat tersebut setiap warga bahu membahu membuat cerita tentang kelahiran sampai kematian Sang Juru Selamat dalam bentuk miniatur tiga dimensi untuk menggambarkannya. Tidak peduli dari suku mana dan agama manapun. Saya melihat pak ustad beserta umat muslim lainnya (tetangga rumah Nenek saya) membantu membuatkan minum dan membawakan makanan. Sungguh terlihat indah kerjasama tersebut. Lalu pada saat adzan berkumandang, kegiatan tersebut pun berhenti sejenak untuk menghormati kaum muslim melaksanakan ibadahnya, terlebih lagi saat maghrib menjelang, sedapat mungkin masyarakat harus berada di dalam rumahnya. Lalu tak lupa saya mengunjungi sebuah bukit yang terletak di Desa Kanonang sekitar 55 kilometer dari kota Manado. Dibangun pada tahun 2002 sebagai pusat spiritual dimana semua pemeluk agama di Indonesia bisa berkumpul, bermeditasi dan di sisi tempat ibadah ini terdapat bukit tropis yang rimbun dan berkabut. Bukit ini disebut Bukit Kasih karena setiap orang yang berlainan agama dapat berkumpul dan berdampingan dalam beribadah sebagai simbol keharmonisan beragama. Di bukit Kasih ini terdapat lima rumah ibadah, yaitu sebuah gereja Katolik, sebuah gereja Kristen, Kuil Budha, Pura Hindu dan Masjid untuk Muslim yang berada di puncak kedua bukit tersebut. Pada puncak pertana adalah sebuah salib putih dengan tinggi 53 meter yang dapat dilihat bahkan dari Pantai Boulevard Kota Manado. Selain itu, tempat ini diyakini menjadi tempat asli nenek moyang suku Minahasa, Toar dan Lumimuut tinggal, karena terdapat ukiran wajah mereka di lereng bukit di bawah puncak kedua. Bercerita tentang Bukit Kasih, mengingatkan kepada saya tentang Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral dimana masing-masing umat pun saling menghormati dan menghargai. Misalnya saat Natal tiba, pihak Masjid mempersilahkan halaman Masjid sebagai tempat parkir umat Nasrani dan begitu juga sebaliknya. Tidak jauh dengan rumah saya, terlihat salah satu kerukunan di Jakarta yaitu Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien yang dipisahkan oleh satu tembok sejak 50 tahun lamanya. Saat awal melihatnya, hati saya begitu terharu atas keakraban yang terjadi antar umat Nasrani dan Umat Islam. Saat Natal, Kaum Muslimin ikut membersihkan halaman masjid dan gereja, begitu juga sebaliknya saat Idul Fitri tiba, Umat Nasrani bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar untuk kenyamanan bersama,”Dalam kasih kita memberi” Subhahanallah.

Bahagia rasanya jika kita memaknai arti keberagaman dalam bentuk apapun. Keberagaman suku, ras dan agama. Tidak perlu mempersoalkan bahkan hal tersebut dapat menjadikan kita semua indah. Lihat saja alam laut kita yang luasnya lebih dari daratan. Bukankah terdapat beragam ikan yang berlainan jenis dan menjadikannya indah bukan? Sama halnya dengan kita hidup di daratan ini. Tuhan Yang Maha Esa Allah swt sang Gusti Ingkang Moho Suci menciptakan makhlukNya dengan berbagai macam bentuk, berbagai macam suku dan berbagai macam keyakinan dalam menyakiniNya. Untuk apa?  Untuk lebih dekat mengenalNya. Lebih dekat dengan cara yang berbeda-beda dalam kehidupan.

Hidup yang bisa memberikan petunjuk yang paling baik dan paling benar bagi tiap orang, secara individual (pribadi). Karena hidup itu yang berasal dari Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Hidup yang meliputi, menggerakkan dan menguasai alam semesta seisinya

-Urip kang ngalimpudhi, ngobahake lan nguwasani jagad royo seisine). Dan hanya Hidup, yang nantinya kembali (seharusnya) kepada Yang Maha Esa Gusti Ingkang Moho Suci, Allah swt. Hidup yang tahu, apa, dan bagaimana Raganya (manusianya) setiap saat harus berbuat, selama masih di dunia, agar senantiasa dalam keadaan Bahagia Sejati. Bahagia Sejati itu adalah dalam Rasa yang kita alami, yang berubah-ubah. Kalau kita menjalani kehidupan dan penghidupan di dunia ini mengikuti jalannya hidup, maka kita akan menjalani kehidupan dan penghidupan kita dengan diliputi Rasa Bahagia yang sejati.

Selain itu, “perjalanan hidup” kita, tidak akan menyimpang dari lingkaran Hidup itu sendiri “The Life Cycle”. Artinya, kita tidak membawa Sang Hidup untuk menyimpang dari “Perjalanan” yang seharusnya ditempuh, yaitu dari Tuhan. Lalu berada di dunia dengan ragaNya, kemudian lepas dari ragaNya, dan langsung bisa kembali ke asalNya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa harus menunggu jutaan tahun. Tidak sedikit, manusia yang hidup sekarang ini, di zaman yang dikatakan maju, modern, sekalipun terpenuhi segala kebutuhan materiilnya, bahkan kebutuhan emosionalnya, tetapi kehilangan Rasa Bahagianya yang sejati. Paling-paling hanya akan merasakan senang sebentar, lalu hilang dan berusaha senang lagi, dan seterusnya.

Tidak sedikit, keluarga-keluarga yang sudah kehilangan keharmonisan, keserasian, kebahagiaanya dalam berkeluarga. Sesuatu yang didambakan setiap orang saat ingin membangun suatu keluarga. Semua itu, karena manusia melupakan bahwa dalam dirinya ada Hidup (Roh/Soul). Tanpa Hidup, segala yang ada tidak berarti dan tidak punya nilai lagi. Sekalipun manusia merasa, masih ingin, dan bahkan berusaha melakukan hubungan dengan Tuhannya, tetapi dalam segala tindakannya, terlepas dari hubungan itu. Semua tindakannya, didasarkan hanya atsa dasar akal pikirannya sendiri, atas dasar apa yang dianggapnya baik dan benar. Tidak mau tahu, apa yang sebenanrnya baik dan benar bagi dirinya menurut Tuhan.

Dengan menjalani Laku Kasampurnaan Manunggal yang artinya mengetahui arti Hidup secara Keseluruhan, kita akan selalu diberi petunjuk, diberi tahu, apa yang baik dan benar untuk dilakukan dalam diri, setiap saat. Yang memberi tahu, Hidupnya sendiri, karena hiduplah yang bisa menangkap kehendak Tuhan setiap saat. Kita harus melaksanakan keyakinan kita masing-masing untuk mendekatkan Hidup tersebut kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menjalani laku Hidup. Laku hidup tersebut yaitu, Sabar, Narimo, Ngalah, Tresno welas lan asih opo lan sopo wae dan Iklhas. Laku sabar maksudnya bukan asal tidak marah namun sebagai contoh sabar yang baik adalah seorang Ibu yang mengandung dengan penuh rasa cinta kasih merawat janin calon bayi sampai dilahirkan. Laku Narimo yaitu berusaha semaksimal mungkin apa yang harus kita lakukan namun selalu menyadari dan siap bahwa Tuhanlah yang menentukan. Laku Ngalah bukan asal mengalah namun kita mengalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Laku Tresno welas lan asih marang opo lan sopo wae (Cinta, Kasih dan Sayang kepada apa dan siapa saja) adalah kita selalu berusaha mencintai dan mengasihi apapun yang ada, dan siapapun yang kita hadapi misalnya mencintai benda, pekerjaan, binatang dan tumbuhan. Mencintai siapa saja adalah mencintai sesama manusia tanpa pilih-pilih. Menghadapi siapapun, bagaimanapun itu hendaknya kita landasi rasa cinta pada diri kita. Serta Laku Ikhlas yaitu menyadari sepenuhnya bahwa segala yang ada pada diri kita, seperti kepandaian, pengalaman, kemampuan karena kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, tenaga, pikiran waktu bahkan orang yang kita cintai, semuanya milik Tuhan Yang Maha Esa, gusti Ingkang Moho Suci, Allah swt.

Sedikit demi sedikit, kita akan mengetahui arti hidup yang kita miliki. Hidup dalam perbedaan, bermasyarakat dan bernegara. Hidup dalam keberagaman yang justru akan membuat kita bersatu dalam kasihNya. Dengan pengalaman kita dalam mengunjungi rumah-rumah ibadah membuat kita semakin mengetahui kebiasaan yang umat lain lakukan demi Sang Penciptanya, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini supaya kita tetap yakin dan senantiasa berdoa serta bersyukur atas Rahmat dari seluruh alam dari dan untuk Sang Pencipta. Bersyukur kita diciptakan sedemikian rupa dengan berbagai keyakinan yang kita yakini dengan kasihNya. Karena Tuhan ada di dalam hati kita, “Tidak ada kekuatan kecuali dari Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah”. Semoga semua Makhluk Hidup Berbahagia.

Salam Rahayu, Rahayu, dan Rahayu.

Dewaruci, 22:47181014

Tulisan ini dinobatkan sebagai Juara I Lomba Menulis dalam kegiatan Peace in Diversity yang dilaksanakan ICRP-PGI-The Wahid Institute. Penulis dapat dihubungi melalui eryani_ningrum@yahoo.com

1.566 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 + five =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>